Blog ini menampilkan tulisan-tulisan yang dapat dikategorikan sebagai tulisan : Pengetahuan Benar, Wawasan, Kata-Kata Bijak, Lain-lain. Jika pembaca tidak sependapat dengan tulisan yang ada dalam blog ini, tolong abaikan saja dan lupakan! Terima kasih.
Translate
Jumat, 20 Februari 2026
APAKAH KITA BERUBAH?
Jumat, 23 Januari 2026
BERDANA YANG AKAN BERBUAH MAKSIMAL
Berdana adalah Karma baik. Berdana dengan materi yang sama belum tentu menghasilkan buah yang sama. Paling tidak ada 5 faktor sebagai penyebabnya, yaitu :
1.
Untuk maksud apa dana itu diberikan. Memberi dana kepada orang atau kepada
pihak yang sangat membutuhkan itu sangat baik. Ini dapat dikatakan sebagai berdana
tepat sasaran. Yang menerima dana maupun yang memberi dana sama-sama mendapatkan
manfaat kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan batin, dan juga menabung kebajikan untuk
kebahagiaan yang akan diperoleh di kemudian hari termasuk di kehidupan
berikutnya.
2.
Kepada siapa dana tsb. diberikan. Berdana kepada orang bijaksana atau orang
baik kelak hasilnya tentu lebih baik atau lebih besar dibanding berdana kepada
orang yang tidak baik, orang malas atau orang yang berperilaku tidak baik. Ini
artinya adalah berdana bagai menanam benih di ladang yang subur.
3.
Berdana dengan niat baik, bertujuan melepas kemelekatan dengan sukacita sebelum,
ketika dan setelah berdana itu sangat baik dibanding berdana karena terpaksa,
ingin dipuji orang atau supaya kelihatan dermawan. Berdana dengan niat dan batin yang baik hasilnya akan berupa kebahagiaan
yang lebih besar.
4.
Menyerahkan dana secara hormat dengan tangan sendiri akan lebih baik
dibanding menitipkan dana, karena lebih menghayati dan melatih batin berproses untuk
menjadi lebih baik, lebih berbakti. Jangan sampai misalnya berdana dengan
seolah-olah melemparkannya begitu saja. Contohnya adalah berdana makan di
Vihara - makanannya dilempar di Reseption begitu saja terus difoto. Itu kurang
proper, dan jangan sampai berpemahaman bahwa berdana hanya sebagai aktivitas
spontan saja, rutinitas saja.
5.
Berdana hendaknya disertai dengan harapan bahwa dana yang dilakukan akan
menjadi dukungan untuk kehidupan berikutnya, mengalir ke arah kehancuran
noda-noda batin, mengalir ke arah pencapaian Nibbana. Hal ini meng-koreksi pendapat
yang mengatakan bahwa kalau berdana tidak usah memikirkan pahala atau buahnya.
Ini adalah pendapat yang keliru karena nasehat dari kitab suci jelas agar jika
berdana pikirkanlah pahalanya. Dari sudut pandang Abidhamma kita juga diajarkan
untuk melakukan kebajikan apapun dengan kesadaran 3 akar, yang superior, berpotensi
menghasilkan buah yang baik di masa depan. Ketika kita berpikir seperti itu
dana kita menjadi berkualitas 3 akar (alobha, adosa dan amoha). Tapi kalau kita
berdana tanpa memikirkan buahnya yang menjadi harapan, maka kita berdana dengan
kondisi / kualitas 2 akar (alobha dan adosa) saja - karena yaitu tadi kita berdana
hanya sebagai aktivitas spontan saja, rutinitas saja, tanpa memikirkan buahnya.
Kualitas berdana 2 akar dan 3 akar tentu saja berbeda.
Selasa, 09 Desember 2025
SAKIT JASMANI & ANATTA
Gambar bagian bawah :
Kalau kita bisa menerima kenyataan dan melepaskan rasa memiliki terhadap tubuh, batin kita bisa damai. Kita bisa tetap bahagia walau tubuh sakit.
Kesimpulan :
Dengan memahami Anatta (tidak ada “Aku”), kita belajar bahwa tubuh hanyalah bagian dari kehidupan, bukan “Aku”. Kalau kita tidak melekat, kita bisa lebih ringan, lebih damai, dan lebih bahagia.
Sabtu, 29 November 2025
Pemeluk ajaran Buddha layak-kah berprofesi sebagai tentara?
Dalam Buddhisme, menjadi tentara tidak secara mutlak dilarang, tetapi sangat disarankan untuk berhati-hati dalam menjaga niat dan tindakan agar tetap selaras dengan prinsip non-kekerasan dan welas asih. Sutta yang secara khusus menampilkan permasalahan seorang pemeluk ajaran Sang Buddha tetapi berprofesi sebagai tentara atau sebagai pasukan angkatan perang itu tidak ada. Yang ada adalah tentang pembunuhan makhluk.
Dalam konteks seorang prajurit yang diperintahkan untuk berperang, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan untuk memahami konsekuensi karmanya : Jika seorang prajurit berperang dengan niat membunuh, merusak, atau didorong oleh kebencian dan agresi, maka konsekuensi karmanya menjadi berat. Meskipun seorang prajurit mendapat perintah dari atasan, keputusan untuk melaksanakan perintah tetap menjadi tanggung jawab pribadi. Dalam pandangan Buddhis, tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk berbuat karma buruk kecuali dirinya sendiri yang memilih melakukannya. Mengikuti perintah tanpa kesadaran atau pemikiran kritis tidak menghapuskan tanggung jawab moral individu. Dampak tindakan : Setiap tindakan yang merugikan makhluk hidup - seperti melukai, membunuh, atau menyebabkan penderitaan - akan menanam benih karma buruk (akusala kamma). Akibat dari perintah : Meskipun niatnya mulia, memerintahkan perang hampir pasti mengarah pada kekerasan, penderitaan, dan kematian - yang semuanya menanam benih karma buruk. Dalam pandangan Buddhis, “Melakukan kekerasan demi kebaikan tetap menghasilkan karma buruk, meskipun intensitasnya bisa berbeda.” Komandan tidak hanya menanggung karma dari niat dan tindakannya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada karma dari tindakan prajurit yang menjalankan perintah tersebut. Ini disebut sebagai karma kolektif - di mana semua pihak yang terlibat dalam suatu rangkaian tindakan turut menanggung dampak karmanya.
Alternatif non-kekerasan :
Memilih jalur diplomasi, negosiasi, atau mencari jalan tengah akan lebih sejalan dengan prinsip-prinsip Buddhis. Namun, jika semua cara damai sudah ditempuh dan perang menjadi satu-satunya pilihan untuk melindungi yang lemah, beberapa pandangan Buddhis menganggap ini sebagai karma netral atau campuran.
Buddhisme tidak menghakimi seseorang secara mutlak, melainkan menawarkan panduan untuk mengembangkan kebijaksanaan dan memperbaiki diri secara bertahap.
1. Merenungkan niat di balik menjadi tentara. Jika alasan awalnya adalah untuk melindungi, menjaga perdamaian, atau karena kebutuhan hidup, maka niat tersebut bisa menjadi fondasi untuk mempraktikkan kebajikan di tengah lingkungan militer.
1. Jika memungkinkan, seorang tentara bisa mulai merencanakan transisi ke profesi lain yang lebih selaras dengan jalan damai, seperti menjadi petugas kemanusiaan, mediator konflik, perubahan ke arah yang lebih baik selalu dihargai, meskipun dilakukan bertahap.
Buddhisme tidak secara eksplisit melarang profesi tentara, tetapi menempatkannya dalam wilayah abu-abu secara moral. Dalam Sutta Pitaka, tidak ada ajaran yang secara langsung membolehkan atau melarang seseorang menjadi tentara. Intinya adalah niat di balik tindakan dan usaha untuk meminimalkan kekerasan serta mengembangkan welas asih. Seorang prajurit bisa menjalani hidup spiritual dengan berupaya menjalankan sila, sejauh mungkin mengurangi kekerasan, dan berlatih kesadaran dalam setiap tindakan.
Buat negara yang rakyatnya menganut agama yang beragam, maka tanggung jawab menjaga keamanan bisa dibagi kepada mereka yang tidak terikat oleh larangan moral yang sama dengan Buddhisme, sementara umat Buddha berkontribusi dengan memperkuat perdamaian dan keharmonisan sosial.
Beberapa komunitas Buddhis modern memahami bahwa menjaga kedamaian kadang membutuhkan kekuatan untuk mencegah kekacauan. Selama niatnya murni dan tidak dilandasi kebencian, tindakan tersebut bisa dianggap bagian dari jalan bodhisattva — melindungi makhluk hidup demi kebaikan bersama.
Perang bukanlah ajang untuk menunjukkan kekuatan, melainkan sebagai upaya terakhir untuk menjaga kedamaian dan melindungi yang lemah.
Tambahan : Negara Thailand memiliki angkatan bersenjata yang berfungsi untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional. Prinsip-prinsip yang dipegang oleh militer Thailand mencerminkan keseimbangan antara nilai-nilai tradisional Buddhis dan kebutuhan praktis pertahanan negara.
Kesimpulan :
1. Dalam Buddhisme, menjadi tentara tidak secara mutlak dilarang.
Jumat, 28 November 2025
Panca Niyama Dhamma ( 5 Hukum Kesunyataan )
Minggu, 23 November 2025
MAAF - MEMAAFKAN
- Karma adalah hukum sebab-akibat : setiap perbuatan (baik atau buruk) meninggalkan jejak (vipāka) yang di kemudiannya akan berbuah atas dukungan kondisi yang ada. Perbuatan memaafkan orang lain itu tidak secara otomatis menghapus Karma Buruk yang sudah diperbuat oleh yang bersangkutan. Buah Karma itu tetap akan muncul bila kondisinya mendukung.
- Yang benar, memaafkan itu mengubah kondisi batin si pemberi maaf, ia terbebas dari kebencian, dendam, dan penderitaan batin. Dan itu adalah merupakan Karma Baik bagi dirinya.
Dampak bagi pelaku yang dimaafkan, tidak langsung mengurangi Karma Buruk-nya. Tetapi : ia bisa merasa lega, menumbuhkan rasa syukur, dan terdorong untuk bertobat atau berbuat baik, yang akan menjadikan perubahan dari niat-niat yang selama ini sering ia lakukan pelan-pelan akan berubah menjadi niat-niat yang baik yang mendorong yang bersangkutan melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai Karma Baik.
- Jadi, yang berkurang bukan Karma Buruk yang sudah diperbuat, tetapi akan muncul peluang untuk melakukan Karma Baik baru.
Dalam Dhammapada disebutkan : "Tidak ada perbuatan buruk yang hilang begitu saja, seperti susu yang tidak segera menjadi asam; tetapi ia akan berbuah ketika waktunya tiba." Artinya, memaafkan tidak menghapus buah Karma, tetapi bisa menciptakan kondisi batin yang lebih baik bagi kedua belah pihak.
Jadi, dimaafkan tidak mengurangi Karma Buruk orang yang meminta maaf secara langsung, tetapi bisa menjadi katalis yang mendorong perubahan batin untuk berbuat baik, sehingga jalan hidupnya bisa lebih ringan.