Blog ini menampilkan tulisan-tulisan yang dapat dikategorikan sebagai tulisan : Pengetahuan Benar, Wawasan, Kata-Kata Bijak, Lain-lain. Jika pembaca tidak sependapat dengan tulisan yang ada dalam blog ini, tolong abaikan saja dan lupakan! Terima kasih.
Translate
Senin, 20 April 2026
Jumat, 20 Maret 2026
PENGERTIAN MARA DALAM BUDDHISME
Setidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan Mara, yaitu :
1. Empat pengertian tentang Mara :
- Mara Kematian (Maccu Mara), yaitu dalam hal ini kematian-lah yang menghambat / menghalangi praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi / mencapai Pencerahan.
- Mara Kilesa (Kilesa Mara), yaitu Pengotor-pengotor batin (nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan) lah yang menghambat praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi Pencerahan.
- Mara Abhisankhara (Abhisankhara Mara), yaitu formasi-formasi mental (Sankhara) yang mengikat para makhluk pada siklus kelahiran kembali.
- Mara Devaputta (Devaputta Mara), yaitu makhluk Dewa yang mencoba menggoda dan menghalangi Pangeran Siddhartha dan para pengikutnya dalam merealisasi Pencerahan.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Mara adalah ketika Mara menggoda Pangeran Siddhartha di bawah pohon Bodhi sebelum beliau mencapai Pencerahan. Mara mengirimkan pasukan iblis dan putri-putrinya untuk menggoda Siddhartha Gautama, tetapi Siddhartha tetap teguh tidak tergoyahkan.
Mara dapat dilihat sebagai simbol dari tantangan dan rintangan yang kita hadapi sehari-hari dalam kita menjalani kehidupan yang bermakna dan penuh kebijaksanaan.
Mara juga sering digambarkan sebagai raja di alam tertinggi Kammaloka (raja di alam dewa Paranimmita-vasavatti) yang memiliki kekuatan besar dan sering kali mencoba mengganggu praktisi Dhamma.
Jumat, 20 Februari 2026
RUKUN ITU PENTING
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil! Suara ayam 'kukuruyuk!', bebek 'kuek! kuek!' Itu bebek, sayang..." kata si suami dengan disertai gejala awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.
"Tuh kan! Itu suara bebek!" kata si suami.
"Bukan, Sayang... Itu suara ayam! Aku yakin betul!" tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu adalah... be... bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!" si suami berkata gusar.
"Tapi itu ayam!" masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue... bek !!! Kamu ini... kamu ini... gimana sih?!"
Terdengar lagi, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya memang tak dikatakannya. Si istri nyaris menangis, "Tapi itu ayam...." kata si isteri.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di sekitar taman tsb, kali ini suara itu mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta...
Kesimpulan : Kerukunan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar dalam hal-hal yang sebenarnya adalah sepele.
APAKAH KITA BERUBAH?
Jumat, 23 Januari 2026
BERDANA YANG AKAN BERBUAH MAKSIMAL
Berdana adalah Karma baik. Berdana dengan materi yang sama belum tentu menghasilkan buah yang sama. Paling tidak ada 5 faktor sebagai penyebabnya, yaitu :
1.
Untuk maksud apa dana itu diberikan. Memberi dana kepada orang atau kepada
pihak yang sangat membutuhkan itu sangat baik. Ini dapat dikatakan sebagai berdana
tepat sasaran. Yang menerima dana maupun yang memberi dana sama-sama mendapatkan
manfaat kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan batin, dan juga menabung kebajikan untuk
kebahagiaan yang akan diperoleh di kemudian hari termasuk di kehidupan
berikutnya.
2.
Kepada siapa dana tsb. diberikan. Berdana kepada orang bijaksana atau orang
baik kelak hasilnya tentu lebih baik atau lebih besar dibanding berdana kepada
orang yang tidak baik, orang malas atau orang yang berperilaku tidak baik. Ini
artinya adalah berdana bagai menanam benih di ladang yang subur.
3.
Berdana dengan niat baik, bertujuan melepas kemelekatan dengan sukacita sebelum,
ketika dan setelah berdana itu sangat baik dibanding berdana karena terpaksa,
ingin dipuji orang atau supaya kelihatan dermawan. Berdana dengan niat dan batin yang baik hasilnya akan berupa kebahagiaan
yang lebih besar.
4.
Menyerahkan dana secara hormat dengan tangan sendiri akan lebih baik
dibanding menitipkan dana, karena lebih menghayati dan melatih batin berproses untuk
menjadi lebih baik, lebih berbakti. Jangan sampai misalnya berdana dengan
seolah-olah melemparkannya begitu saja. Contohnya adalah berdana makan di
Vihara - makanannya dilempar di Reseption begitu saja terus difoto. Itu kurang
proper, dan jangan sampai berpemahaman bahwa berdana hanya sebagai aktivitas
spontan saja, rutinitas saja.
5.
Berdana hendaknya disertai dengan harapan bahwa dana yang dilakukan akan
menjadi dukungan untuk kehidupan berikutnya, mengalir ke arah kehancuran
noda-noda batin, mengalir ke arah pencapaian Nibbana. Hal ini meng-koreksi pendapat
yang mengatakan bahwa kalau berdana tidak usah memikirkan pahala atau buahnya.
Ini adalah pendapat yang keliru karena nasehat dari kitab suci jelas agar jika
berdana pikirkanlah pahalanya. Dari sudut pandang Abidhamma kita juga diajarkan
untuk melakukan kebajikan apapun dengan kesadaran 3 akar, yang superior, berpotensi
menghasilkan buah yang baik di masa depan. Ketika kita berpikir seperti itu
dana kita menjadi berkualitas 3 akar (alobha, adosa dan amoha). Tapi kalau kita
berdana tanpa memikirkan buahnya yang menjadi harapan, maka kita berdana dengan
kondisi / kualitas 2 akar (alobha dan adosa) saja - karena yaitu tadi kita berdana
hanya sebagai aktivitas spontan saja, rutinitas saja, tanpa memikirkan buahnya.
Kualitas berdana 2 akar dan 3 akar tentu saja berbeda.