1. Brahmacariya : Jalan keluhuran demi menutup hal-hal buruk / penderitaan / pandangan keliru.
2.
Pabbajjā
/ Samaṇa / tanpa rumah, adalah penjauhan diri, berkondisi leluasa, tidak cocok
untuk perumah tangga / yang terhimpit / terpenuhi oleh kotoran.
3.
Sāmaṇera
/ Bhikkhu adalah “cara hidup” bukan status / jenjang / kasta, punya kerendahan
hati dan prinsip.
4.
Menjadi
Bhikkhu adalah titik awal pelatihan yang kondusif. Berlatih Sīla (tata
kebijaksanaan orang bajik yang cerdas). Berlatih Samadhi -> keteguhan
batiniah pada prinsip nilai luhur & Paññā / pengetahuan secara menyeluruh
-> hal yang sebenarnya adalah sebab – akibat.
5.
Sīla,
Samadhi dan Paññā patut untuk dicapai, dikembangkan, hingga berdiam tetap
mengiringi batin setiap saat. Untuk menyempurnakan terealisasinya kepadaman
derita (menjalankan kehidupan Brahmacariya).
6. Sīla
(5 sīla) adalah untuk menutup hal buruk yang akan muncul lewat tindakan dan
ucapan, yang dapat menambah Kilesa. Harus memiliki kepuasan (Santutthi),
menutup Indriya-saṃvara dengan ilmu / penglihatan secara benar (tidak melihat
sebagai gambaran / rincian / persepsi). Selain Indriya-saṃvara masalah ini juga
terkait dengan Sati, Sampajañña, dan juga Paññā.
7. Pergi
ke tempat sunyi untuk ber-Samadhi. Ber-Samadhi itu mengedepankan pengingatan (Sati),
nilai luhur apa yang bisa diterapkan. Sati & Paññā itu saling melengkapi, menghancurkan
Nīvaraṇa, muncul kelengangan, rasanya lega, muncul kegiuran, Sukha, muncul
penyatuan batin pada obyek yang disertai nilai-nilai luhur, termasuk dari sisi
kebijaksanaan, termasuk yang tidak indah. Muncul perasaan netral, Sati-parisudhi,
mencapai Jhāna-Jhāna, sampai Jhāna ke 4.
8.
Mengembangkan
pengetahuan -> mengingat banyak hal dalam kehidupan-kehidupan yang lampau (Dibbacakkhu).
Dibbacakkhu itu merupakan anak tangga menuju hancurnya Āsava / pengotor batin.
Mengetahui tentang Empat Kebenaran Mulia, Dukkha (penghanyut), mencapai
Nibbana.
Pertanyaan : Apa bedanya antara Paññā
& Pariññā?
Jawab
: Pariññā
lebih detil, Paññā itu mirip dengan Pariññā. Ada 3 jenis Pariññā, yaitu : Ñāta‑pariññā
(tahu apa yang nyata / benar), Tīraṇa‑pariññā (tahu melalui
menimbang / mengorek / merenungkan), dan Pahāna‑pariññā, dimana setelah
mengorek / melihat dengan jelas maka putuslah pengotor batin (pandangan keliru).
Paññā, Pariññā, Abhiññā itu mirip-mirip, termasuk juga Saññā yang adalah nama
lain dari kebijaksanaan termasuk Viññāṇa yaitu dari kata yang sama.
9.
Pendahuluan
dari “Jalan Ideal Mengakhiri Derita” ini adalah mengenai permulaan bagaimana
sampai menjadi Sāmaṇera, setalah menjadi Sāmaṇera harus bagaimana, tujuannya
apa, disadari, dan proses apa itu.
10.
Cukup
ini saja tugas untuk hari pertama.
Keterangan :
1.
Indriya-saṃvara
: kemampuan menjaga pintu-pintu indra agar tidak dikuasai oleh nafsu,
kebencian, atau kebodohan batin ketika berhadapan dengan objek luar.
2.
Sampajañña
: memastikan kita memahami dengan jernih apa yang sedang dilakukan.
3.
Nīvaraṇa
: lima penghalang batin yang harus dikenali dan ditinggalkan agar latihan
meditasi berhasil.
4.
Sati-parisudhi
: tahap di mana perhatian penuh mencapai kemurnian, menjadi landasan kuat untuk
konsentrasi mendalam dan kebijaksanaan.
~ oOo ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar