Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi. Penderitaan itu bukan sesuatu yang menyatu dengan hidup. Mengalami kesedihan, derita jasmani, derita batin, tua, sakit, mati dsb. itu kalau menyatu seperti warna benda. Warna merah buah naga, seolah-olah warna merah tsb. menyatu dengan buah. Tetapi sesungguhnya tidak begitu. Nah ini beda dengan penderitaan yang ada kemunculannya. Saat muncul kegandrungan disana muncul penderitaan. Karena penderitaan muncul, maka kepadamannya bisa ditembus, yaitu padamnya kegandrungan. Jika ada kepadaman penderitaan, tentu ada jalan menuju padamnya penderitaan. Kebenaran tentang Anicca itu sebagai penembusan Dukkha.
Dalam Dukkha muncul Anatta (tidak
ada diri). Kalau ada diri tidak ada penderitaan, karena bisa memerintah tubuh
sesuai yang diinginkan. Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha,
dan Anatta, ada Samsara, ada Kegandrungan (Tanha). Diantara kegandrungan dan
penderitaan ada Karma, ada perbuatan. Kegandrungan memunculkan perbuatan yang
dapat menyenangkan atau menyakitkan. Itu semua
adalah Dukkha. Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada
kemunculan dan kepadaman. Ada keinginan penyebab Dukkha. Ini yang mesti dimengerti. Kalau
mau mengerti Karma maka mengerti ini dulu yang paling awal sebagai siswa Sang Buddha,
mengetahui ajaran Sang Guru, yang telah mendengar. Yang telah mendengar itu namanya ya sudah Sotapanna.
Sota itu artinya telinga, arus pendengaran, dan Apanna itu artinya masuk ke
arus pendengaran.
Empat Kebenaran Ariya yang sudah
masuk ke arus pendengaran, menembus kebenaran, tidak susah. Tidak perlu mengikis
kekotoran batin sudah bisa mencapai kesucian Sotapanna. Sotapanna yang masih dalam tahap pemahaman.
Merasa belum Sotapanna
itu karena belum menembus
Empat Kebenaran Mulia secara Magganana & Phalanana, tidak bisa
memahami arti penting dari meditasi, dari pengembangan batin. Jangankan yang belum Sotapanna, yang sudah Sotapanna saja
males-malesan juga. Masih menyenangi kesenangan inderawi. Dari Sotapanna untuk
naik ke tingkat kesucian selanjutnya bukan hal yang gampang. Jeratnya
mara itu adalah
jerat yang sulit
sekali dilepas, tidak terbayang mengapa
sampai perlu bermeditasi. Kalaupun kita, saya sudah merasa perlu
bermeditasi itu bagus. Yang mana biasanya hanya dorongan dogmatis. Kita ini
tergila-gila dengan status-status. Status Jhana satu, status Anagami, status
Dibbacakkhu dsb. Bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual. Selama
masih tergila-gila itu tidak akan sampai. Masih memiliki Tanha,
bukan untuk melepas.
Tanya : Kalau yang mengumpulkan parami
itu dia kan tidak melewati
proses perenungan terhadap Empat Kebenaran Mulia. Untuk
merealisasi Sotapanna, ini bagaimana bhante?.
Jawab : Permasalahannya karena digiring
kesitu. Sebagai umat Buddha puluhan tahun tidak mengerti esensi dari Empat
Kebenaran Arya itu kan sayang banget. Memang rajin berdana, rajin menjalankan
sila, rajin Baksos, rajin ini itu.
Mungkin juga mengembangkan Metta (cinta kasih), itu nilai luhur. Mengembangkan
Metta sampai yang tertinggi, sampai masuk ke alam Brahma, itu bukan jalan menuju ke kesucian. Tidak ada celah untuk
mencapai kesucian. Di alam Brama jika buah Karma baiknya habis, akan turun lagi
ke alam manusia, atau alam rendah. Kebajikan-kebajikan yang bagus adalah
sebagai anak tangga untuk mempermudah merealisasi Nibbana, mempermudah
merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian. Orang yang berpunya memiliki potensi mengembangkan
kebaikan lebih besar dibandingkan yang kurang berpunya. Dan itu seiring dengan jenjang nilai spiritual
yang di pandu atau dikawal menuju
pada tingkatan yang lebih tinggi.
Berikut adalah
poin-poin dari tulisan
ringkas diatas :
1.
Mencapai tingkat kesucian Sotapanna
itu tidak perlu bermeditasi.
2.
Saat muncul Tanha (Kegandrungan) disana muncul penderitaan.
3.
Jika ada kemunculan maka ada pemadaman.
4.
Penderitaan bisa dihilangkan dengan memadamkan kegandrungan.
5.
Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha,
dan Anatta.
6.
Penderitaan / Dukkha / Samsara itu bisa dipadamkan (diputus) -> ada caranya*
7.
Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan.
8.
Hidup di alam kehidupan
manapun adalah Dukkha,
karena ada kemunculan dan kepadaman.
9.
Memahami Karma didahului dengan
memahami bahwa keinginan
adalah penyebab Dukkha.
10. Memahami keinginan merupakan penyebab
Dukkha, adalah yang mendengar ajaran
Sang Buddha, adalah seorang Sotapanna.
11. Sotapanna yang masih menyenangi kesenangan inderawi untuk
dapat naik ke tingkat kesucian berikutnya itu masih sulit.
12. Pada umumnya orang tergila-gila
dengan pencapaian status Jhana satu, Anagami,
Dibbacakkhu dsb. bukan tergila-gila dengan
pencapaian nilai spiritual, yang mana ini adalah
yang utama.
13. Tanya : Orang yang hanya mengumpulkan
parami, apa bisa merealisasi Sotapanna? Jawab : Rajin berbuat baik itu
nilai luhur tapi bukan merupakan jalan menuju ke kesucian. Hanya mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian
/ Nibbana. Harus mengerti
esensi Empat Kebenaran Arya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar