Translate

Senin, 04 Mei 2026

CARA MUDAH MENCAPAI TINGKAT KESUCIAN SOTAPANNA


Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi. Penderitaan itu bukan sesuatu yang menyatu dengan hidup. Mengalami kesedihan, derita jasmani, derita batin, tua, sakit, mati dsb. itu kalau menyatu seperti warna benda. Warna merah buah naga, seolah-olah warna merah tsb. menyatu dengan buah. Tetapi sesungguhnya tidak begitu. Nah ini beda dengan penderitaan yang ada kemunculannya. Saat muncul kegandrungan disana muncul penderitaan. Karena penderitaan muncul, maka kepadamannya bisa ditembus, yaitu padamnya kegandrungan. Jika ada kepadaman penderitaan, tentu ada jalan menuju padamnya penderitaan. Kebenaran tentang Anicca itu sebagai penembusan Dukkha.

Dalam Dukkha muncul Anatta (tidak ada diri). Kalau ada diri tidak ada penderitaan, karena bisa memerintah tubuh sesuai yang diinginkan. Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha, dan Anatta, ada Samsara, ada Kegandrungan (Tanha). Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan. Kegandrungan memunculkan perbuatan yang dapat menyenangkan atau menyakitkan. Itu semua adalah Dukkha. Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada kemunculan dan kepadaman. Ada keinginan penyebab Dukkha. Ini yang mesti dimengerti. Kalau mau mengerti Karma maka mengerti ini dulu yang paling awal sebagai siswa Sang Buddha, mengetahui ajaran Sang Guru, yang telah mendengar. Yang telah mendengar itu namanya ya sudah Sotapanna. Sota itu artinya telinga, arus pendengaran, dan Apanna itu artinya masuk ke arus pendengaran.

Empat Kebenaran Ariya yang sudah masuk ke arus pendengaran, menembus kebenaran, tidak susah. Tidak perlu mengikis kekotoran batin sudah bisa mencapai kesucian Sotapanna. Sotapanna yang masih dalam tahap pemahaman.

Merasa belum Sotapanna itu karena belum menembus Empat Kebenaran Mulia secara Magganana & Phalanana, tidak bisa memahami arti penting dari meditasi, dari pengembangan batin. Jangankan yang belum Sotapanna, yang sudah Sotapanna saja males-malesan juga. Masih menyenangi kesenangan inderawi. Dari Sotapanna untuk naik ke tingkat kesucian selanjutnya bukan hal yang gampang. Jeratnya mara itu adalah jerat yang sulit sekali dilepas, tidak terbayang mengapa sampai perlu bermeditasi. Kalaupun kita, saya sudah merasa perlu bermeditasi itu bagus. Yang mana biasanya hanya dorongan dogmatis. Kita ini tergila-gila dengan status-status. Status Jhana satu, status Anagami, status Dibbacakkhu dsb. Bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual. Selama masih tergila-gila itu tidak akan sampai. Masih memiliki Tanha, bukan untuk melepas.

Tanya : Kalau yang mengumpulkan parami itu dia kan tidak melewati proses perenungan terhadap Empat Kebenaran Mulia. Untuk merealisasi Sotapanna, ini bagaimana bhante?.

Jawab : Permasalahannya karena digiring kesitu. Sebagai umat Buddha puluhan tahun tidak mengerti esensi dari Empat Kebenaran Arya itu kan sayang banget. Memang rajin berdana, rajin menjalankan sila, rajin Baksos, rajin ini itu. Mungkin juga mengembangkan Metta (cinta kasih), itu nilai luhur. Mengembangkan Metta sampai yang tertinggi, sampai masuk ke alam Brahma, itu bukan jalan menuju ke kesucian. Tidak ada celah untuk mencapai kesucian. Di alam Brama jika buah Karma baiknya habis, akan turun lagi ke alam manusia, atau alam rendah. Kebajikan-kebajikan yang bagus adalah sebagai anak tangga untuk mempermudah merealisasi Nibbana, mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian. Orang yang berpunya memiliki potensi mengembangkan kebaikan lebih besar dibandingkan yang kurang berpunya. Dan itu seiring dengan jenjang nilai spiritual yang di pandu atau dikawal menuju pada tingkatan yang lebih tinggi.

 

Berikut adalah poin-poin dari tulisan ringkas diatas :

1.     Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi.

2.     Saat muncul Tanha (Kegandrungan) disana muncul penderitaan.

3.     Jika ada kemunculan maka ada pemadaman.

4.     Penderitaan bisa dihilangkan dengan memadamkan kegandrungan.

5.       Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha, dan Anatta.

6.     Penderitaan / Dukkha / Samsara itu bisa dipadamkan (diputus) -> ada caranya*

7.     Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan.

8.     Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada kemunculan dan kepadaman.

9.     Memahami Karma didahului dengan memahami bahwa keinginan adalah penyebab Dukkha.

10. Memahami keinginan merupakan penyebab Dukkha, adalah yang mendengar ajaran Sang Buddha, adalah seorang Sotapanna.

11. Sotapanna yang masih menyenangi kesenangan inderawi untuk dapat naik ke tingkat kesucian berikutnya itu masih sulit.

12. Pada umumnya orang tergila-gila dengan pencapaian status Jhana satu, Anagami, Dibbacakkhu dsb. bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual, yang mana ini adalah yang utama.

13. Tanya : Orang yang hanya mengumpulkan parami, apa bisa merealisasi Sotapanna? Jawab : Rajin berbuat baik itu nilai luhur tapi bukan merupakan jalan menuju ke kesucian. Hanya mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian / Nibbana. Harus mengerti esensi Empat Kebenaran Arya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar