Translate

Senin, 04 Mei 2026

MENJAGA KESADARAN DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN

 

Kesadaran atau Sati berguna bagi kita, untuk memahami kehidupan kita, merupakan sarana dalam upaya melenyapkan penderitaan. Sati itu hal yang sangat penting dalam bermeditasi. Mengapa banyak orang yang sering bermeditasi, sering mengikuti Retret tetapai perangainya tidak berubah? Yang suka marah tetap marah, yang serakah tetap serakah dst. Karena dia memunculkan Sati atau kesadarannya hanya pada saat retret. Begitu keluar dari meditasi kesadaran tidak dijaga. Idealnya sejak bangun sampai menjelang tidur hendaknya mengupayakan untuk selalu memunculkan sati atau kesadaran.

Sebuah perumpamaan, kalau kita harus berjalan di jalan yang penuh dengan duri, maka yang harus kita lakukan adalah berjalan dengan hati-hati, harus waspada, pikiran tidak mengembara, harus sadar saat ini dan sekarang, tidak melamun, tidak berfantasi, tidak membiarkan pikiran berkeliaran, harus sadar setiap langkah. Namun di saat yang sama kita pun harus seimbang, tidak grusa-grusu, tidak tergesa-gesa supaya tidak menginjak duri.

Itulah sati. Itulah kesadaran. Tetapi kemudian yang menjadi masalah adalah walaupun kita sudah memiliki kesadaran, kita tidak mengapresiasi, kita tidak menghadirkan setiap saat. Dalam konteks meditasi, kita harus melihat ke dalam batin pada saat senang maupun tidak senang, karena bahaya itu ada dimana-mana, supaya kalau ada keserakahan atau benci bisa kelihatan. Supaya tidak berdampak pada penderitaan. Hendaknya kita menyadari pikiran, ucapan dan perbuatan, kita amati, dan sadar setiap saat.

Adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun seseorang tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh keserakahan ataupun kebencian. Mengapa kesadaran yang demikian itu dihadirkan, tidak diseret oleh suka maupun tidak suka? Kebiasaan pikiran kita adalah selalu diseret, diombang ambingkan oleh suka dan tidak suka. Apa pun hal yang menyenangkan. Entah yang berkenaan dengan objek yang dilihat atau suara yang didengar. Rasa makanan yang kita makan, pembauan yang kita hirup. Apapun objek-objek yang datang pada kita, pikiran kita menyukai, keserakahan muncul. Begitu yang  menyenangkan itu tidak ada maka penderitaan muncul. Itu adalah kebiasaan kita. Dan sebaliknya ketika muncul objek-objek yang tidak menyenangkan yang tidak memberikan semangat, kebiasaan pikiran kita adalah membenci, menolak, menjadi iritasi. Dan itu sendiri adalah penderitaan.

Seringkali kesadaran yang dimunculkan disebut kesadaran pasif, atau perhatian apa adanya, adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh keserakahan atau kebencian.

Mengembangkan kesadaran adalah batin yang terlatih untuk tidak melekat terhadap  pengalaman atau fenomena yang muncul, batin tidak mudah terpengaruh.

kesadaran pasif itu bebas dari suka dan tidak suka, ataupun kesadaran yang tidak melekat kepada objek. Mungkin seseorang berpikir itu apatis atau seseorang yang masa bodoh terhadap lingkungan sekitar. Ini jelas sangat berbeda, orang yang apatis, orang yang cuek adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. Tetapi justru orang yang sadar ini adalah orang yang mengembangkan kebijaksanaan, punya wawasan, batinnya seimbang, ini semua adalah hasil dari latihan. Orang yang berkorupsi itu karena ia tidak tahu bahwa itu adalah sebab penderitaan.

Kalau misalnya ada sebuah kerajaan dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan hanya ada satu pintu, setiap orang bahkan binatang sekalipun kalau keluar masuk ke kerajaan hanya melewati pintu satu itu. Di depan pintu ada seorang penjaga. Dia menjaga yang tidak lengah, penuh perhatian dan waspada. Dia tahu siapa yang masuk siapa yang keluar. Dia juga tahu siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak boleh masuk. Dia juga tahu siapa yang harus keluar dan siapa yang tidak boleh keluar. Kerajaan ini apikiran kita yang harus dijaga dari hal-hal yang buruk. Dan orang yang keluar masuk tidak lain adalah pengalaman dari 6 indra kita. Si penjaga pintu adalah Sati, yaitu kesadaran kita. Orang yang kesadarannya semakin berkembang akan semakin bijaksana, tahu apa yang terbaik.

Sebagai contoh, pada saat duduk kita bisa memperhatikan keluar masuknya nafas kita. Kalau kita betul-betul sadar terhadap keluar masuknya nafas, yang terperhatikan yang tersadari itu adalah nafas saat ini, hidup saat ini dan sekarang. Maka batin akan semakin tenang. Ketika ada gangguan sedikit saja, pasti tersadari. Seperti air yang betul-betul tenang, begitu ada pasir saja jatuh akan menimbulkan gelombang dan akan terlihat dengan jelas. Agar air tersebut menjadi tenang lagi. Apa yang mesti dilakukan? Cukup sekedar ditaruh di pojok sana. Diam saja.

Berdana itu sangat baik, tetapi kadang-kadang tanpa disadari, oh saya sudah berdana, saya menjadi orang yang baik. Kemudian tanpa disadari merendahkan orang lain. Hal tersebut akan terlihat jelas apabila kesadaran ini semakin berkembang. Bagi masyarakat umum itu adalah sesuatu yang wajar, akan tetapi dalam pengembangan batin, itu merupakan perintang batin.

Sadar terhadap nafas apa adanya, tidak usah dibuat-buat, kalau nafas kasar disadari kasar, kalau nafas lembut disadari lembut, nafas disadari panjang.

Tidak hanya saat berjalan, dalam aktivitas yang lainpun kita upayakan untuk senantiasa sadar. Makan dengan penuh kesadaran. Minum dengan penuh kesadaran. Ketika melakukan aktivitas di tempat ibadah masing-masing juga dilakukan dengan penuh kesadaran. Dengan cara demikian, batin akan semakin berada di saat ini dan sekarang tidak terseret ke masa lalu ataupun yang akan datang, dan batin akan semakin menjadi baik. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur dalam aktivitas apapun yang kita lakukan, kita mengupayakan untuk sadar, untuk waspada, untuk penuh perhatian, untuk tidak membiarkan pikiran mengembara. Batin yang sadar saat ini, sekarang ini manfaatnya sangat banyak. Kita bisa me-manage emosi, yang tadinya mudah terseret oleh keadaan, baperan, mudah iritasi, sekarang dengan kesadaran kita akan lebih tenang, lebih bahagia. Meditasi dengan kesadaran itu mengubah apa yang ada di dalam batin kita.

Tanya Jawab :

Tanya 1 : Dalam meditasi, bagaimana cara me-manage kesadaran dalam situasi cemas, gugup, atau takut bhante?

Jawab : Kesadaran atau kualitas batin itu mesti dikembangkan. Kita tidak bisa serta merta memiliki kesadaran yang serta merta berkembang, mesti dimunculkan lagi dan lagi. Dalam situasi tertentu seseorang bisa memanage, tetapi dalam kondisi yang lain, situasilah yang lebih intens karena kesadaran belum begitu berkembang. Seseorang tidak bisa me-manage tidak ada masalah. Yang terpenting munculkan lagi dan lagi kesadaran itu sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang baru memunculkan kesadaran atau mengembangkan kesadaran -> kemarahan muncul. Setelah  tangannya memukul baru sadar. Wah ini tidak baik, tapi itu tidak masalah. Tapi seiring dengan waktu, kesadaran itu dikembangkan. Begitu kemarahan muncul, sebelum tangan diangkat sudah tersadari sehingga tidak jadi memukul. Tetapi mungkin ucapannya masih dengan kata-kata kasar atas dasar kemarahan yang muncul, tapi kemudian tersadar. Seiring dengan waktu ketika kesadaran berkembang, baru muncul pikiran kasar sudah disadari, tidak sampai terucap, tidak sampai menggunakan fisiknya untuk memukul. Ketika kesadaran berkembang lagi, baru muncul kebencian itu sudah kelihatan sehingga tidak terseret lagi ke dalam ucapan, apalagi perbuatan jasmani. Dan bahkan ketika kesadaran semakin berkembang, baru muncul tanda-tandanya saja sudah tersadari, sehingga tidak sampai terucap kata-kata kasar. Maka seiring dengan kesadaran yang berkembang, maka yang halus itu nantinya akan terlihat dengan jelas, meski tidak serta merta bisa melihat yang halus. Itu membutuhkan waktu. Kalau ada kecemasan, ada ketakutan, itu membutuhkan Latihan, membutuhkan pengembangan. Lama kelamaan kekuatan dari kekhawatiran / kecemasan itu akan semakin melemah. Ada sebuah perumpamaan, di ladang jagung ada seekor sapi yang mau masuk ke ladang. Kalau di ladang jagung tersebut ada seorang penjaga yang waspada, maka si penjaga akan melakukan apa saja supaya sapi itu terusir. Tetapi yang namanya sapi, dua kali, tiga kali, empat kali akan datang lagi. Namun kalau setiap kali datang, ketahuan sama si penjaga, sapipun menjadi jera. Dia tidak akan datang lagi. Perumpamaan ini sesuai dengan batin kita, seperti ladang jagung yang mesti dijaga. Sapi-sapi itu adalah pengotor batin termasuk kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Beda dengan sapi, kalau kotoran batin akan ribuan kali datang. Tetapi kalau setiap kali datang tersadari, maka kekuatan kotoran batin akan semakin melemah, bahkan lenyap.

Tanya 2 : Ada kesadaran pasif, kalau kesadaran aktif itu bagaimana bhante?

Jawab : Kesadaran pasif itu tidak berarti tidak dinamis. Kesadaran pasif tetapi dinamis. Kenapa bisa dikatakan dinamis karena ada Sampajañña -nya, ada kebijaksanaannya. Binatang juga memiliki kesadaran. Seekor kucing mau memangsa cicak di dinding. Dia berjalan dengan pelan-pelan sampai jalannya tidak ada suara. Kucing mendekati dinding melihat cicak dengan sangat fokus. Apakah kucing tersebut pada waktu itu sadar dengan dirinya? Tahu apa yang sedang dia lakukan? Pasti tahu, tetapi apakah dia sedang bermeditasi? Ya tidak. Yang dibutuhkan justru keserakahan? Dia tahu apa yang dilakukan, kalau dia tidak tahu terhadap apa yang dilakukan, dia akan berjalan dengan serampangan. Tetapi karena batinnya terseret oleh keserakahan, itulah kesadaran yang tidak dikembangkan di dalam meditasi ini. Pasif karena tidak terserap oleh suka maupun tidak suka, namun dibalik itu ada wawasan yang jernih, ada kebijaksanaan. Nah inilah yang sesungguhnya mesti dikembangkan. Jadi kalau kita bilang kesadaran aktif maka aktif dalam konteks kesadaran yang dinamis karena ada kebijaksanaan.

Tapi kalau tidak bijaksana, binatang pun memiliki, dia tahu apa yang dia lakukan tetapi kotoran batin justru berkembang di sana.

Tanya 3 : Bhante misalnya kita mendengar si “A” baru saja melakukan dana yang besar untuk kemajuan Buddha Susana. Mendengar hal tersebut, reaksi yang seringkali muncul dalam hati saya adalah turut berbahagia. Dengan saya turut berbahagia, apakah hal itu termasuk terseret dalam suka? Dan apakah hal tersebut termasuk dalam mengembangkan kotoran batin? Sikap atau reaksi apa yang seharusnya diambil jika kita mendengar hal hal positif tersebut?

Jawab : Perasaan itu ada dua. Ada perasaan yang masih berkenaan dengan duniawi. Ada perasaan yang sudah bukan sekadar duniawi yang muncul dari sebuah perenungan Dhamma, yang mana muncul dari sebuah pemikiran dan perenungan yang bermanfaat. Ikut berbahagia atas perbuatan baik orang lain (Mudita) itu baik, lebih baik ketimbang membenci atau irihati, tetapi ini bisa memperkuat pemahaman yang salah : bahwa ada “aku”, aku bahagia. Harus disadari bahwa ikut berbahagia (Mudita) itu adalah perasaan yang tidak kekal. Perasaan inipun harus dilenyapkan, harus diredam dengan perasaan yang bukan menyenangkan dan bukan tidak menyenangkan (Upekkha).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar