Translate

Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Benar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Benar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2026

CARA YANG BENAR MEDITASI PERNAPASAN (ĀNĀPĀNASATI)

  

 Q & A dengan B.Uttamo dari Youtube : Pelita Kehidupan Channel,

tanggal 11 Oktober 2022, dengan judul :

 

CARA YANG BENAR MEDITASI PERNAPASAN ( ĀNĀPĀNASATI )

 

Tanya :  Bante, saya mau minta petunjuk bagaimana cara meditasi yang baik dan benar dengan objek pernafasan atau Ānāpānasati. Bagaimana tahapan yang terjadi. Seringkali ketika saya bermeditasi dengan usaha konsentrasi penuh, kesadaran saya melemah atau tertidur. Ataupun ketika kesadaran kuat, konsentrasi melemah karena merasakan sensasi-sensasi tubuh jasmani, detak jantung, kesemutan, dan lain-lain. Mohon petunjuknya.

Jawab : Meditasi pada prinsipnya adalah latihan keterampilan memusatkan pikiran pada satu objek. Objek meditasi yang paling sering digunakan adalah memperhatikan proses masuk dan keluarnya udara saat bernafas secara alamiah. Selama meditasi, misalnya sekitar 30 hingga 60 menit, pusatkan seluruh perhatian untuk merasakan dan mengetahui secara jelas saat udara masuk dan keluar melalui lubang hidung dengan menyertakan nilai-nilai luhur misalnya dengan merenungkan secara mendalam sehingga memahami secara hakiki / menembus / terang benderang bahwa tubuh ini yang diwakili oleh nafas berisikan material-material yang menjijikkan (daging, darah, lemak, tinja, air seni dll.) apalagi jika tubuh tsb telah mati dan membusuk. Ini disebut merenungkan Asubha = tidak indah = tidak menarik. Perenungan ini dimaksudkan untuk melenyapkan kemelekatan. Nilai luhur yang lain adalah perenungan bahwa tubuh ini akhirnya akan mati yang gunanya untuk  menumbuhkan kesadaran akan ketidakkekalan dan mendorong hidup penuh kebajikan. Nilai luhur berikutnya adalah mengembangkan Metta = Cinta Kasih universal tanpa batas – adalah upaya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk tanpa diskriminasi. Nilai luhur lagi yang dapat diikutsertakan dalam bermeditasi adalah perenungan tentang Anicca = Ketidakkekalan (segala sesuatu yang berkondisi selalu berubah, tidak ada yang tetap), pemahaman Anicca adalah kunci untuk melepaskan kemelekatan yang bermanfaat untuk mencapai pencerahan. Apabila pikiran kemudian memikirkan hal lain, upayakan untuk kembalikan pada objek awal, yaitu perhatian pada pernafasan yang tentunya selalu disertai dengan nilai-nilai luhur. Kondisi pikiran yang kemudian memikirkan hal lain ini mungkin saja sering terjadi selama berlatih meditasi. Tidak masalah, itu adalah hal wajar. Teruskanlah berlatih meditasi setiap hari. Dengan latihan yang rutin, maka lama-kelamaan pikiran menjadi lebih mudah dipusatkan pada objek meditasi. Saat pikiran mulai terpusat, batin pun menjadi lebih tenang. Kadang pada saat itu, timbul perasaan seperti mengantuk. Hal tersebut adalah normal. Untuk mengatasinya, saat pikiran mulai terasa agak ringan dan melayang, kesadaran mulai melemah, upayakan pikiran untuk lebih kuat memperhatikan objek (disertai dengan nilai-nilai luhur). Dengan terus-menerus berlatih, maka pikiran akan menjadi terampil memegang objek, sehingga rasa mengantuk dapat dilewati. Kualitas konsentrasi pun meningkat. Setelah fokus pada objek mampu dipertahankan untuk waktu yang relatif cukup lama, maka tahapan selanjutnya, pergunakanlah kualitas konsentrasi tersebut untuk merasakan berbagai sensasi tubuh jasmani, seperti kesemutan dan lain sebagainya (dengan menyertakan nilai luhur Anicca). Apabila konsentrasi masih belum terlalu mampu dipertahankan untuk waktu yang lama, sebaiknya usahakan pikiran tetap dipusatkan pada objek semula (disertai dengan nilai luhur yang sesuai). Abaikan terlebih dahulu semua sensasi pada tubuh jasmani yang sering muncul dirasakan selama ini. Latihan memperhatikan sensasi tubuh jasmani selama duduk bermeditasi menjadi persiapan untuk memperhatikan semua perilaku badan, ucapan dan pikiran selama melaksanakan aktivitas sehari-hari. Perhatian dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari inilah yang menjadi tujuan utama berlatih duduk bermeditasi setiap hari.

Pengembangan kesadaran sepanjang hari menjadikan batin tenang karena mengerti bahwa hidup adalah saat ini. Masa lalu hanyalah kenangan yang dapat dijadikan pelajaran. Masa depan masih harapan yang harus mulai dikerjakan saat ini secara maksimal. Saat inilah kenyataan, kesadaran pada saat ini menimbulkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.

Semoga jawaban ini bermanfaat serta meningkatkan semangat untuk berlatih meditasi secara rutin dan dilanjutkan dengan mengembangkan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga semua mahluk berbahagia.

 

~ oOo ~

Senin, 04 Mei 2026

Uraian Mahasatipaṭṭhāna Sutta

 

1.    Mahāsatipaṭṭhāna Sutta adalah Sutta yang mendalam, sudah membahas tentang Abhidhamma.

2.    Satipaṭṭhāna (empat landasan perhatian penuh) adalah uraian yang lebih ringkas dari Mahāsatipaṭṭhāna.

3.    Sati adalah perhatian penuh yang menjaga batin tetap sadar pada saat ini. Sampajañña (kesadaran jernih) merupakan pasangan dari Sati. Anupassana adalah penglihatan yang disertai dengan kebijaksanaan, yaitu penglihatan yang jelas dan terus menerus.

4.    Satipaṭṭhāna itu sebagai Ekāyana Magga (satu-satunya jalan yang dibabarkan Sang Buddha), jalan menuju hilangnya kesedihan & ratap tangis (derita jasmaniah & batiniah) demi tibanya di “sang jalan” (Nibbana terlihat dengan jelas). Jalur ini dilalui oleh orang-orang dan satu saja yang akan lolos tidak bisa bergerombol (tidak bisa yang lain menggandul).

5.    Dalam Satipaṭṭhāna Sutta sudah cukup seseorang berlatih dalam Buddhasasana untuk tuntas mendiami Brahmacariya, sehingga kewajiban telah selesai.

6.    Dengan antusias yang tinggi - kitapun merasa kewalahan karena terlalu spektakulernya obyek-obyek dalam maha Satipaṭṭhāna.

7.    Dalam Kayanupasana, lakukan upaya : mencegah keburukan yang belum muncul, memangkas keburukan yang sudah muncul, memunculkan kebaikan yang belum muncul & mengembangkan hal baik yang telah muncul.

8.    Dalam Satipaṭṭhāna ada 3 hal yang mesti bahu membahu : Sati, Paññā, dan Viriya. Untuk penglihatan jelas tubuh dalam tubuh, mempehatikan rasa sakit, atau tidak merasa sakit, yang sakit atau yang bahagia itu Vedanā (perasaan). Ada banyak macam Vedanā, jasmniah & batiniah. Upekkha termasuk Sukha-vedanā (perasaan menyenangkan).

9.    Istilah “berdiam dan melihat”, itu mengusut dengan kebijaksanaan. Mengikis Avijjā : Lobha & Dosa di Loka (Pañcakkhandha).

10. Kepadaman penderitaan bisa dicapai dengan Jalan Mulia Berunsur-8. Mengarah ke kehancuran Saṃsāra-vaṭṭa (lingkaran saṃsāra / siklus kelahiran dan kematian). Terkait dengan Paṭicca-samuppāda (12 mata rantai sebab-musabab yang saling bergantungan). Mengacu ke Avijjā (kebodohan batin yang mendasar), Tanha (kegandrungan), Upadana (kemelekatan). Kamma itu ada di Saṅkhāra (pembentuk) & Bhava (menjadi), sisanya adalah Vipāka (buah Kamma). Upādi (sisa kemelekatan) itu masih menjadi penopang kelahiran dan kematian.

11. Vaṭṭa-saṃsāra terjadi karena eksisnya Māra (penghancur yang menghalangi pencapaian pencerahan : Kilesa, Pañcakkhandha, Kematian, dan Devaputta = makhluk Surgawi yang jahat). Semua ini terkait dengan Bojjhaṅga (tujuh faktor batin yang menuntun pada pencerahan), 37 Bodhipakkhiya Dhamma (kumpulan kualitas batin yang menjadi bekal menuju pencerahan).

12. Kembali ke topik : mengusut tubuh dalam tubuh -> memperhatikan nafas dalam tubuh. Nafas sebagai pembentuk tubuh (kāyasaṅkhāra).

13. Dalam Satipaṭṭhāna-sutta dipilah menjadi 14 bagian, yang antara lain meliputi : 

a.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada nafas (ānāpānasati).

b.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada postur tubuh, dengan posisi : duduk, berjalan, berdiri, dan berbaring

c.     Kāyānupassanā -> perhatian pada aktivitas sehari-hari (sampajañña) : perhatian ketika melakukan atau tidak melakukan apappun (Sampajañña Pabba).

d.    Kāyānupassanā -> perhatian pada tubuh yang sudah mati (Paṭikūla-bhāvanā = perhatian atas 32 bagian tubuh yang menjijikkan, yang dipahami sebagai yg tidak tetap = tidak ada diri).

e.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada unsur-unsur tubuh (tanah, air, api dan angin).

f.      Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada sembilan tahap pembusukan / pemusnahan manusia : mayat menggembung, berwarna nila, bernanah dst.

g.    Vedanānupassanā -> mengamati perasaan : menyenangkan (sukha vedanā), tidak menyenangkan (dukkha vedanā), netral (upekkhā vedanā) yang jika dirinci menjadi 8 Vedanā.

h.    Cittānupassanā -> mengamati keadaan pikiran yang masih diliputi : Sadhosa (kebencian, kemarahan), Samoha (kebodohan, delusi), Samāhita (batin yang terpusat), Sautara (lebih tinggi, lebih luhur), Semāhita (batin yang terkonsentrasi), Vimutta (pembebasan batin dari kilesa).

i.      Dhammanupasana -> mengamati fenomena Dhamma, ada banyak : Pañca Nīvaraṇa (5 rintangan batin), Khanda pabba (latihan yang berhubungan dengan lima gugusan), Bojjhaṅga (tujuh faktor pencerahan), itu semua berkaitan dengan Ayatana (landasan), yaitu enam landasan dalam dan enam landasan luar. Segalanya memungkinkan diketahui oleh semua Satva.

14. Semua itu tidak ada diri termasuk Vittaka & Vicara. Dalam mengusut tubuh dalam tubuh, kemunculan & kepadamannya -> Sati-nya tegak, tahu tentang tubuh yang selalu berubah -> tidak ada tubuh -> tidak patut dilekati. Sati, Paññā & viriya bekerjasama.

15. Viriya memangkas Kilesa yang telah muncul, berdiam tanpa digantungi oleh kilesa lagi, dan tidak melekati hal-hal apapun di dalam Pancakhanda, menenangkan nafas.

16. Kegiuran muncul saat Nivarana terpotong. Setelah kegiuran reda, keterhimpitan tidak ada, Piti juga tidak ada, keberadaan tidak ada. Tidak adanya Keterhimpitan dan Kegiuran inilah yang disebut dengan Sukkha. Melanjutkan pelatihan ini hingga menembus tentang Dukkha yang tidak kekal, tidak patut digandrungi, maka selanjutnya tercapailah Nibbana.

 

~ oOo ~

MUNGKINKAH KESUCIAN BISA DIRAIH HANYA DENGAN PERHATIAN PADA NAFAS?


Tanya : Dalam meditasi Ānāpānasati apakah hanya mengamati obyek nafas atau ada perenungan lain Bhante?

Jawab : Fokus menyadari keluar masuknya nafas itu korelasinya dengan pencapaian Nibbana itu bagaimana? Mungkin atau tidak mendapatkan nilai-nilai luhur, mengikikis pengotor batin hanya dengan cara seperti itu? Dalam bermeditasi itu tidak cukup hanya memiliki pemahaman biasa tentang kematian, cinta kasih dlsb. Dalam meditasi itu ada 3 faktor yang dapat diterapkan kepada obyek meditasi.

1). Mengetahui nilai luhur (Dhammavicaya) dari : Kematian, Cinta-kasih, Asubha (memandang sebagai yang tidak indah), Ketidak-kekalan, Tidak ada diri (dari yang berbentuk / tidak berbentuk), ada noda / cacat dalam tubuh / perasaan, dlsb.

2). Ada pengingatan (Sati). Bagaimana Sati bisa diterapkan saat 6 pintu indera mengetahui obyeknya. Yang diketahui tsb. dicamkan, disadari, diangkat kedalam kebijaksanaan, punya nilai-nilai luhur. Sati adalah tindakan menerapkan Kebijaksanaan (Paññā) / nilai luhur saat 6 pintu indera mengetahui obyek masing-masing.

3). Harus ada Daya-upaya (Viriya, Vāyāma, Ātāpa, Padhāna) untuk menegakkan batin yang kukuh dalam kebijaksanaan dengan tetap menggunakan Sati.

Ketiganya bekerjasama : 1). Punya pengetahuan sejati / Sampajañña (kesadaran jernih) / Paññā (kebijaksanaan), 2). Punya Sati, dan 3). Punya Viriya. Ketiganya ini harus ada dalam upaya mengembangkan batin.

Meditasi Ānāpānasati (ber-obyek nafas) bisa menengarai “nafas” maupun “tubuh” yang adalah sosok yang bernafas, sehingga sebenarnya yang menjadi obyek itu ya tubuh bukan nafasnya. => Kāyānupassanā (pengamatan mendalam terhadap tubuh).

Bagaimana melihat sisi ketidak-indahan dalam nafas -> udara masuk (bersih) & keluar (kotor). Ada Ādīnava = noda, Anicca, Anatta. Tiga hal tsb. diatas (Dhammavicaya, Sati, Viriya) yang meskipun kadang-kadang hanya disebut satu -> yang dua sudah termasuk.

Tanya : Apakah meditasi bisa langsung menyadari nafas + menyertakan nilai2 luhur?

Jawab : Meditasi bisa langsung menyadari keluar masuknya nafas + menyertakan nilai-nilai luhur.

 

~ oOo ~

Cittabhāvanā #2 : Alat Anicca dalam Cittabhāvanā I

 

1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~

“One Day Mindfullness”


1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~