Berdana adalah Karma baik. Berdana dengan materi yang sama belum tentu menghasilkan buah yang sama. Paling tidak ada 5 faktor sebagai penyebabnya, yaitu :
1.
Untuk maksud apa dana itu diberikan. Memberi dana kepada orang atau kepada
pihak yang sangat membutuhkan itu sangat baik. Ini dapat dikatakan sebagai berdana
tepat sasaran. Yang menerima dana maupun yang memberi dana sama-sama mendapatkan
manfaat kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan batin, dan juga menabung kebajikan untuk
kebahagiaan yang akan diperoleh di kemudian hari termasuk di kehidupan
berikutnya.
2.
Kepada siapa dana tsb. diberikan. Berdana kepada orang bijaksana atau orang
baik kelak hasilnya tentu lebih baik atau lebih besar dibanding berdana kepada
orang yang tidak baik, orang malas atau orang yang berperilaku tidak baik. Ini
artinya adalah berdana bagai menanam benih di ladang yang subur.
3.
Berdana dengan niat baik, bertujuan melepas kemelekatan dengan sukacita sebelum,
ketika dan setelah berdana itu sangat baik dibanding berdana karena terpaksa,
ingin dipuji orang atau supaya kelihatan dermawan. Berdana dengan niat dan batin yang baik hasilnya akan berupa kebahagiaan
yang lebih besar.
4.
Menyerahkan dana secara hormat dengan tangan sendiri akan lebih baik
dibanding menitipkan dana, karena lebih menghayati dan melatih batin berproses untuk
menjadi lebih baik, lebih berbakti. Jangan sampai misalnya berdana dengan
seolah-olah melemparkannya begitu saja. Contohnya adalah berdana makan di
Vihara - makanannya dilempar di Reseption begitu saja terus difoto. Itu kurang
proper, dan jangan sampai berpemahaman bahwa berdana hanya sebagai aktivitas
spontan saja, rutinitas saja.
5.
Berdana hendaknya disertai dengan harapan bahwa dana yang dilakukan akan
menjadi dukungan untuk kehidupan berikutnya, mengalir ke arah kehancuran
noda-noda batin, mengalir ke arah pencapaian Nibbana. Hal ini meng-koreksi pendapat
yang mengatakan bahwa kalau berdana tidak usah memikirkan pahala atau buahnya.
Ini adalah pendapat yang keliru karena nasehat dari kitab suci jelas agar jika
berdana pikirkanlah pahalanya. Dari sudut pandang Abidhamma kita juga diajarkan
untuk melakukan kebajikan apapun dengan kesadaran 3 akar, yang superior, berpotensi
menghasilkan buah yang baik di masa depan. Ketika kita berpikir seperti itu
dana kita menjadi berkualitas 3 akar (alobha, adosa dan amoha). Tapi kalau kita
berdana tanpa memikirkan buahnya yang menjadi harapan, maka kita berdana dengan
kondisi / kualitas 2 akar (alobha dan adosa) saja - karena yaitu tadi kita berdana
hanya sebagai aktivitas spontan saja, rutinitas saja, tanpa memikirkan buahnya.
Kualitas berdana 2 akar dan 3 akar tentu saja berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar