Mari kita semua bercermin… pelan-pelan… dengan jujur.
Pernah nggak, kita berhenti sebentar di tengah rutinitas beragama?
Di sela puja bakti, berdana, melafalkan paritta, bersujud, memberi
hormat…
lalu tiba-tiba muncul pertanyaan kecil di batin :
“Sebenarnya… aku melakukan semua ini untuk apa?”
Apakah ini benar-benar mendekatkanku pada pembebasan dari dukkha?
Atau hanya kebiasaan yang aku ulang… karena dari kecil memang begini
caranya?
Kita lahir sebagai Buddhis, diajak orang tua ke vihara, Meniru Gerakan,
menguncarkan Paritta tanpa tahu artinya, atau mungkin kurang menghayati
tujuannya.
Berdana karena semua orang berdana, dan pelan-pelan…, kita berhenti
bertanya, kita berhenti menyelidiki.
Kita jarang bertanya : “Kenapa aku melakukan ini?” “Apa hubungannya
dengan penderitaanku?” “Apakah batinku benar-benar berubah?”
Di buku itu ada satu kisah yang sangat menyentuh.
Tentang patung Buddha Mahamuni di Burma, setiap hari, ribuan umat datang
menempelkan lembaran emas ke tubuh patung itu sebagai tanda bakti, sebagai
ungkapan cinta, niatnya tulus.
Hari demi hari, tahun demi tahun, bahkan ratusan tahun berlalu, sampai akhirnya…
bentuk asli patung itu tidak terlihat lagi, wajahnya menebal, detail aslinya
tertutup. Bukan karena patungnya rusak, tapi justru karena… terlalu dicintai, terlalu
banyak lapisan emas. Dan di titik itu kita diajak merenung : Jangan-jangan… ajaran
Buddha dalam hidup kita juga begitu. Ajaran yang awalnya sederhana, langsung ke
akar penderitaan, tidak ribet, tidak penuh symbol, pelan-pelan tertutup oleh:
kebiasaan, formalitas, ritual tanpa pemahaman, tradisi yang tidak pernah
dipertanyakan. Bukan karena kita berniat buruk, tapi karena kita terlalu rajin
menjaga bentuk… sampai lupa merawat makna.
Tradisi itu sebenarnya indah. Ia menyatukan. Ia menjaga warisan. Ia
memberi identitas.
Tapi masalah muncul… saat tradisi tidak boleh ditanya. Saat kita
bertanya, “Kenapa harus begini?” jawabannya : “Dari dulu memang begitu.” Saat
kita bertanya, “Apa maknanya?”
Jawabannya : “Pokoknya ikuti saja.”
Pelan-pelan kita berhenti berpikir, berhenti menyelidiki. Padahal Buddha
sendiri berkata, jangan percaya hanya karena tradisi, jangan percaya hanya
karena orang banyak percaya. Datanglah dan buktikan sendiri. Artinya jelas, Dhamma
bukan untuk dihafal, tapi untuk dihidupi. Sekarang kita jujur sebentar. Kita
rajin ke vihara, rajin berdana, rajin ikut perayaan, rajin dengar ceramah.
Tapi mari bertanya dengan tulus : Apakah kemarahan kita berkurang? Apakah
iri hati kita menipis? Apakah keserakahan kita melemah? Apakah kita lebih sabar
pada pasangan? Lebih lembut pada anak? Lebih pengertian pada orang yang
berbeda?
Atau… kita hanya rajin secara lahir… tapi batin tetap sama?
Kalau latihanmu tidak mengubah batin, mungkin yang berubah hanya
jadwalmu… bukan kesadaranmu. Buddha tidak mengajarkan Dhamma supaya kita
terlihat suci. Bukan supaya kita dipuji. Bukan supaya kita merasa lebih tinggi.
Tapi supaya kita : memahami dukkha, melepaskan kemelekatan, menumbuhkan
kebijaksanaan, mengembangkan welas asih, dan perlahan… membebaskan batin.
Kalau latihan kita justru : menambah ego, menambah rasa paling benar, menambah
jarak dengan orang lain… mungkin kita perlu berhenti sebentar… dan bertanya
jujur : “Aku sedang berjalan ke arah mana?”
Sekarang coba tarik napas pelan… dan renungkan : Kalau suatu hari semua
simbol dihilangkan… tanpa vihara megah, tanpa jubah, tanpa ritual… apakah aku
masih ingin mempraktikkan Dhamma?
Kalau tidak ada yang melihat… tidak ada yang memuji… tidak ada yang
tahu… apakah aku masih mau berbuat baik?
Apakah aku berlatih karena ingin bebas dari dukkha… atau hanya ingin
terlihat sebagai “umat yang baik”? Kalau hari ini kita tersentuh… mungkin
karena ada bagian batin kita yang sebenarnya ingin jujur, ingin berubah, Ingin
bebas. Kadang… yang paling menyembuhkan justru yang membuat kita berani
bercermin.
Kita beragama bukan untuk menjadi sempurna… tapi untuk semakin sadar. Bukan
untuk terlihat suci… tapi untuk semakin bebas dari penderitaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar