Translate

Jumat, 14 Agustus 2026

Kebahagiaan dimulai dari Keluarga

 

  “Sukhaṃ kulato paṭṭhāti” (Kebahagiaan berawal dari keluarga)

Kalimat diatas maknanya selaras dengan ajaran Buddha dalam Sigālovāda Sutta (DN 31), yang menekankan bahwa keharmonisan keluarga adalah dasar kebahagiaan bagi banyak orang.

Keluarga adalah tempat pertama belajar tentang Mettā, Karuṇā, dan Sīla. Dari keluarga tersebut benih kebajikan bisa tumbuh sepanjang hidup. Ketiga hal tersebut diawali dengan memahami terlebih dahulu Dhamma ajaran guru agung kita Sang Budhha, yang antara lain meliputi pengetahuan tentang Anicca, dan Hukum Karma yang mana pemahamannya berdasarkan Saddhā.

Saddhā

Meyakini dan memahami kebenaran Dhamma ajaran Sang Buddha dengan baik itu tidak terlepas dan berkat memiliki Saddhā. Saddhā juga dapat dikatakan sebagai keyakinan yang lahir dari pengertian benar terhadap Dhamma. Ia bukan sekadar percaya karena tradisi, melainkan percaya karena memahami dan melihat manfaat nyata.

Keluarga adalah tempat pertama dimana Saddhā bisa tumbuh, karena di sanalah anak-anak belajar dari teladan orang tua dan pengalaman sehari-hari. Anak-anak melihat orang tua berlatih Dhamma, menjaga sila, dan berbuat kebajikan. Membiasakan membaca paritta bersama menumbuhkan rasa percaya yang mendalam. Anak belajar bahwa perbuatan baik membawa kebahagiaan, perbuatan buruk membawa kesulitan. Diskusi ringan tentang Dhamma di meja makan atau saat berkumpul memperkuat keyakinan dengan pemahaman. Saddhā tumbuh bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari teladan nyata dalam keluarga. Dalam Dhamma keluarga adalah tempat berlindung. Anggota keluarga saling menguatkan dalam menghadapi kesulitan. Bila setiap anggota keluarga berlatih dengan penuh keyakinan, maka keluarga menjadi sumber inspirasi spiritual yang menumbuhkan saddhā bagi generasi berikutnya.

Buddha mengajarkan kepada umat awam bernama Sigāla bahwa “menyembah enam arah” bukanlah ritual fisik, melainkan menjaga hubungan sosial dengan enam pihak kehidupan. Inilah yang disebut enam arah penuh berkah.

1.    Arah Timur (OrangTua) : Merawat, menghormati, menjaga mereka di masa tua, melanjutkan tradisi baik.

2.    Arah Selatan (Guru) : Belajar dengan hormat, membantu kebutuhan guru, mendukung pengajaran.

3.    Arah Barat (Suami / isteri) : Setia, penuh kasih, saling menghormati, berbagi tanggung jawab rumah tangga.

4.    Arah Utara ( Sahabat) : Jujur, setia, menolong saat susah, menjaga kepercayaan.

5.    Arah Bawah (Pekerja / Pelayan) : Memberi upah dengan layak, memperhatikan kesejahteraan mereka, tidak menindas.

6.    Arah Atas (Petapa / Bhikkhu) : Memberi dukungan materi, mendengarkan Dhamma, menghormati kehidupan suci mereka.

Menjaga enam arah berarti menjaga enam jenis hubungan sosial dengan penuh tanggung jawab. Mempraktikkan hal tersebut membuat hidup orang biasa dan para perumah tangga penuh dengan berkah : harmonis, tenteram, dan mendukung jalan menuju kebijaksanaan. Dengan menjaga enam arah, keluarga dan masyarakat menjadi lebih kuat, saling mendukung, dan penuh kasih.

Anicca

Dalam suatu keluarga, semua anggota keluarga mengalami perubahan. Anak tumbuh menjadi dewasa, dan orang tua akan menua. Setiap anggota keluarga mengalami perubahan : usia, peran, kondisi, bahkan suasana hati. Bila dipahami bersama, anicca dapat menjadi sumber kebijaksanaan dan keharmonisan. Menyadari adanya anicca membantu semua keluarga menerima proses alami kehidupan. Anak yang dirawat menjadi dewasa yang kemudian ganti merawat orang tua. Anggota keluarga kadang sehat, kadang sakit; kadang berkecukupan, kadang berkekurangan. Semua itu tidaklah kekal. Rasa senang, sedih, marah, bahagia datang silih berganti. Keluarga merupakan ruang latihan menerima perubahan. Dengan memahami anicca, setiap anggota keluarga belajar tidak melekat pada keadaan, melainkan menyikapinya dengan sabar, welas asih, dan dengan kebijaksanaan. Kesadaran akan ketidakkekalan membuat keluarga lebih kuat menghadapi suka dan duka bersama.

Kamma

Pada hukum kamma, kata & tindakan akan berbuah. Kebajikan membuahkan keharmonisan, dan Kemarahan  akan membuahkan pertengkaran.

Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang hukum karma, karena di sanalah perilaku sehari-hari paling sering muncul dan berdampak. Anak-anak diajarkan bahwa perbuatan baik atau buruk bergantung pada niat di baliknya. Menolong, berkata jujur, atau menyakiti orang lain akan menimbulkan akibat sesuai hukum karma. Kata-kata lembut menumbuhkan kedamaian, kata-kata kasar menimbulkan luka batin. Pikiran penuh kasih menumbuhkan keharmonisan, pikiran penuh kebencian menimbulkan konflik. Keluarga adalah tempat berlatih menyikapi hukum karma dengan benar. Dengan memahami bahwa setiap niat, ucapan, dan perbuatan itu membawa akibat, anggota keluarga akan belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Bila hukum karma dipahami bersama dengan baik, maka keluarga dan anggotanya akan tumbuh dalam kebajikan, saling mendukung, dan hidup harmonis.

Keluarga adalah tempat berkembangnya Metta dari awal dan seterusnya.

Mettā (cinta kasih universal) bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia perlu ditanam, dipupuk, dan dilatih sejak awal kehidupan. Dan tempat paling alami untuk itu adalah keluarga. Orang tua menyayangi anak2 mereka sejak kecil, bahkan seorang ibu menyayangi anaknya sejak di dalam kandungan. Anak belajar dari orang tua bagaimana berinteraksi dengan penuh kasih. Hubungan orang tua-anak, saudara, kakek-nenek adalah ruang latihan empati dan kesabaran. Dari hal kecil : berbagi makanan, saling menolong, meminta maaf, hingga merawat anggota keluarga yang sakit. Keluarga yang penuh cinta kasih akan menumbuhkan individu yang membawa Mettā ke masyarakat luas. Keluarga adalah “sekolah pertama” cinta kasih. Dari keluarga, Mettā berkembang menjadi sikap universal terhadap semua makhluk. Bila cinta kasih tumbuh di rumah, ia akan meluas ke masyarakat, bahkan ke seluruh dunia.

Keluarga adalah tempat berkembangnya Karuṇā dari awal.

Sama seperti Mettā, Karuṇā tidak muncul tiba-tiba, melainkan perlu dilatih sejak awal kehidupan. Tempat paling alami untuk itu adalah keluarga juga, karena di sanalah seseorang pertama kali belajar peduli dan berempati. Anak belajar dari orang tua bagaimana merespons kesedihan atau kesulitan dengan kelembutan hati, dimana hubungan orang tua-anak, saudara, dan kakek-nenek menjadi ruang latihan empati dan kepedulian. Dari hal kecil : menenangkan anggota keluarga yang menangis, membantu pekerjaan rumah, hingga merawat anggota kelauarga yang sakit, orang tua yang sakit, bahkan ketika orang tua telah menjadi jompo.

Keluarga yang penuh belas kasih melahirkan individu yang membawa Karuṇā ke masyarakat luas. Keluarga adalah tempat pertama menanam benih belas kasih. Dari keluarga, Karuṇā berkembang menjadi sikap universal terhadap semua makhluk. Bila belas kasih tumbuh di rumah, ia akan meluas ke masyarakat, bahkan ke seluruh dunia.

Dari awal keluarga adalah tempat berkembangnya Sīla seseorang.

Tata perilaku bermoral menjaga keharmonisan hidup. Sīla bukan sekadar aturan luar, tetapi latihan batin untuk menumbuhkan kebajikan. Tempat pertama seseorang belajar tentang Sīla adalah keluarga. Anak belajar benar-salah dari teladan orang tua. Menghormati orang tua, menyayangi saudara, dan menjaga ucapan adalah latihan Sīla. Membiasakan berkata jujur, tidak mengambil yang bukan miliknya, dan pengendalian diri. Keluarga yang menanamkan Sīla melahirkan individu yang beretika dan membawa keharmonisan ke masyarakat. Keluarga adalah tempat pertama menanam benih moralitas. Dari keluarga, Sīla berkembang menjadi sikap etis universal terhadap semua makhluk. Bila Sīla tumbuh di rumah, ia akan meluas ke masyarakat, bahkan ke seluruh dunia.

Penutup

Semoga keluarga ini dan keluarga2 yang lain senantiasa hidup penuh dengan pelestarian Sīla, Mettā, dan Karuṇā, sehingga rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan Vihāra kecil tempat dimana Dhamma dapat hidup, berkembang dan lestari sehari-hari.

 ~ oOo ~

Kamis, 04 Juni 2026

CARA MUDAH BERLATIH MEDITASI !!!

  

 

Q & A dengan B.Uttamo dari Kanal Youtube : “Kilau Dhamma”

tanggal 6 Desember 2021 dengan judul :

 

CARA MUDAH BERLATIH MEDITASI !!!

 

Tanya : Meditasi mungkin untuk merasakan langsung melihat bagaimana bentukan pikiran, liarnya pikiran, susah diaturnya pikiran. Bergelut dengan pikirannya sendiri. Tanpa dibekali teori, apakah bisa kira-kira menangani itu, apa harus paralel antara praktek dengan Dhammaclass yang agak serius untuk memahami apa yang terjadi, baiknya bagaimana Bhante?

Jawab : Prinsip bermeditasi adalah prinsip yang dialami juga oleh Pangeran Siddhartha. Beliau umur tujuh tahun, ketika ada festival untuk membajak di sawah, beliau mencapai tahap konsentrasi yang bagus, di bawah patung, duduk di bawah pohon jambu.

Meditasi itu sebetulnya adalah pengalaman, bukan teori. Teori itu adalah pengalamannya orang lain, yang tidak sama dengan kita. Karena pengalaman itu tidak sama, jadi teori meditasi itu sebetulnya hanya ada teori duduk, cara duduk, cara jalan, cara berdiri, cara berbaring, dan obyek, bagaimana menangkap obyek. Syaratnya harus pernah melihat tuntunan ataupun pedoman singkat latihan meditasi, hanya diajarkan cara duduk, berdiri, berjalan, dan berbaring. Obyeknya boleh dipilih. Mau pegang nafas, dipersilahkan, mau pegang pengucapan kalimat dipersilahkan, misalnya semoga semua makhluk bahagia, dan seterusnya. Nah, itu yang dilatih, tidak ada teori-teori lain. Langsung terjun. Pengalaman itu besok diceritakan. Diceritakan di muka umum.

Jadi, setelah meditasi, kemudian diskusi tentang pengalaman meditasi. Adanya di tempat umum.

saya nggak pakai teori. Tapi apakah ini cocok untuk semua orang? Belum tentu.

Ada orang kalau mau pergi ke kota A, dia senang menghafalkan peta. Tapi ada orang kalau mau pergi ke kota A, jalani aja. Nanti kalau sudah sampai disana, tanya sama orang. Misalnya mau ke rumahnya si A, tanya di situ. Nah, jadi dia sudah ada pengalaman, makanya teorinya sedikit. Lebih banyak berbicara pengalaman. Tapi beberapa orang tanya teori. Kalau mau  teori baca buku aja. Buku lebih detail penjelasannya. Gunakan pengalaman saja. Apakah jhāna ini gini, gini? lihat saja buku.

Di sini meditasi hanya ada versi 1 dan versi 2. Versi 1 intinya, apa saja yang bukan obyek, abaikan. Jangan pernah berpikir yang bukan obyek. Kesemutan abaikan, mendengar sesuatu abaikan, melihat cahaya abaikan.

Fokus pada obyek itu versi 1. Versi 2 kalau sudah bisa versi 1. Gunakan versi 1 itu untuk mengamati apa saja yang dialami. Sehingga kata-katanya adalah, apa saja yang bukan obyek jadikanlah obyek.

Ketika sudah mulai fokus, kalau mendengar sesuatu, alihkan fokus hidung ini ke telinga. Sadari itu sebagai pendengaran, sampai dia akhirnya tidak mempengaruhi, menjadi neutral atau bahkan lenyap, kemudian balik ke obyek awal dengan menyertakan nila-nilai luhur. Hanya itu. Apakah ini teori meditasi? tidak usah mengurus itu. Hasilnya apa? Orang yang banyak belajar teori malah sebetulnya menjadi lebih lambat berlatih meditasi, karena isinya hanya beradu teori. Orang yang banyak berhasil adalah orang yang malah tidak pernah pakai teori.

Dan banyak yang non-Buddhist itu malah yang berhasil meditasi. Nah ini kan aneh. Makanya kalau Anda suatu ketika punya kesempatan untuk latihan di Balerejo, yang bukan Buddhis banyak, karena memang untuk semua orang. Saya tidak mengajarkan ajaran Sang Buddha. Saya mengajarkan bagaimana mengendalikan pikiran. Dan itu menjadi milik semua orang apapun agamanya. Kebetulan saya bhikkhu, kebetulan ada di Vihara. Tetapi, mengendalikan pikiran itu milik semua orang, semua agama. Begitu.

Tanya : Tadi ada yang menarik, orang-orang non-Buddhist yang lebih berhasil dalam latihan meditasi. Ruang lingkup atau spektrum berhasil ini apakah pengendalian pikiran dan bisa memegang objek dalam waktu yang cukup lama? Apakah begitu maksudnya Bhante?

Jawab : Ya, jadi bagi saya berhasil itu adalah cepat memegang objek (disertai dengan nilai-nilai luhur) dan tahan lama. Minimal 30 menit misalnya. Meditasi ada timernya. Disebut berhasil kalau dalam beberapa menit pertama sudah bisa memegang objek dan bisa bertahan lama secara kumulatif. Karena pikiran lari sana lari sini itu normal. Secara kumulatif katakanlah 75 persen, ini dirasakan saja, tidak perlu diprosentasi secara detail. Kayaknya sebagian besar saya tadi bisa fokus. Itu disebut berhasil.

Kalau pegang objeknya susah, contohnya 5 menit terakhir baru bisa pegang objek itu berarti belum bisa. Prinsipnya cepat pegang objek dan durasinya lama. Itu yang disebut berhasil.

Sebetulnya versi 1 dan versi 2 itu sama. Menggunakan konsentrasinya untuk apa. Kalau konsentrasi versi 1 adalah objek yang kita tentukan, misalnya nafas. Kalau di versi 2, objek yang kita tentukan versi 1 itu hanya sebagai terminal, bisa jalan-jalan dengan objek indria-indria yang lain, apakah itu pendengaran, badan kita, pikiran kita. Kalau sampai gelisah, balik ke terminal yang ditentukan. Kalau bisa mengendalikan pikiran sampai menjadi tenang, netral, bahkan kadang-kadang menjadi tidak terasa lagi kesemutannya, maka baliklah ke objek lain. Cara ini sangat simpel. Seperti itu.

Tanya : Salah satu ceramah Bhante yang lain, saya pernah mendengar Bhante menekankan betapa pentingnya menjaga kesadaran pada aktivitas harian, baik selama retret maupun di luar retret. Untuk orang awam ini yang sangat penting untuk mengukur apakah hasil latihan ada bekasnya, kesadarannya bisa bertahan dalam aktivitas sehari-hari, apa demikian Bhante?

Jawab : Betul sekali. Meditasi yang sesungguhnya itu di luar Vihara. Kalau selesai meditasi seminggu ini, kemudian merasa senang, sudah selesai, itu salah. Justru harusnya malah merasa aduh kok sudah selesai latihannya ya. Karena sekarang harus meditasi yang sesungguhnya.

Berlatih meditasi di Bodhigiri - kalau gagal tanpa risiko. Misalnya duduk, melatih fokus. Eh ngantuk. Sampai setengah jam akhirnya cuma tertidur. Tidak ada risiko. Tapi kalau di luar ketika sedang nyetir kedaraan ngantuk belum setengah jam sudah sampai di rumah sakit. Meditasi yang sesungguhnya itu di luar. Ketika menyadari ini ngomong apa? disadari, ini bertindak apa? disadari, ini berpikir apa? Itu yang sesungguhnya. Dan itu nanti kembali kepada dasar Karma, kurangi kejahatan tambah kebaikan, sucikan hati dan pikiran. Mengapa dicapai dengan cara itu? Kalau di jalan tol bisa tenang, di jalan tanjakan mesinnya mati bisa tenang, di jalan turunan harus macet bisa tenang tidak nubruk depannya. Itu namanya mahir. Sampai nanti akhirnya mobil itu menjadi perpanjangan tangan dan kaki. Sehingga begitu ada kondisi yang mendadak, refleksnya jalan (berfungsi). Refleksnya bukan : “Eh kodok” misalnya. Bukan begitu. Tapi begitu kaget : Semoga semua makhluk bahagia. Nah ini artinya kesadarannya sudah maksimal. Ya semacam itu.

Tulislah di HP di wallpaper-nya, di tempat kerja, atau dimana saja : Saat ini saya sedang apa??

Itu intinya.

~ oOo ~

CARA YANG BENAR MEDITASI PERNAPASAN (ĀNĀPĀNASATI)

  

 Q & A dengan B.Uttamo dari Youtube : Pelita Kehidupan Channel,

tanggal 11 Oktober 2022, dengan judul :

 

CARA YANG BENAR MEDITASI PERNAPASAN ( ĀNĀPĀNASATI )

 

Tanya :  Bante, saya mau minta petunjuk bagaimana cara meditasi yang baik dan benar dengan objek pernafasan atau Ānāpānasati. Bagaimana tahapan yang terjadi. Seringkali ketika saya bermeditasi dengan usaha konsentrasi penuh, kesadaran saya melemah atau tertidur. Ataupun ketika kesadaran kuat, konsentrasi melemah karena merasakan sensasi-sensasi tubuh jasmani, detak jantung, kesemutan, dan lain-lain. Mohon petunjuknya.

Jawab : Meditasi pada prinsipnya adalah latihan keterampilan memusatkan pikiran pada satu objek. Objek meditasi yang paling sering digunakan adalah memperhatikan proses masuk dan keluarnya udara saat bernafas secara alamiah. Selama meditasi, misalnya sekitar 30 hingga 60 menit, pusatkan seluruh perhatian untuk merasakan dan mengetahui secara jelas saat udara masuk dan keluar melalui lubang hidung dengan menyertakan nilai-nilai luhur yang paling sederhana yang dasarnya adalah Empat Kebenaran Mulia & Tiga Corak Umum khususnya adalah Anicca yaitu Ketidakekalan atas segala fenomena, sehingga dalam menyadari keluar masuknya nafas batin kita dalam keadaan tenang, bahagia, bersyukur, tidak ada kebencian, emosi, melepaskan semua kemelekatan, tidak berpikir saat masa lalu maupun masa depan karana saat ini adalah saat terbaik menyadari keluar masuknya nafas, tidak ada yang mengganggu. Apabila pikiran kemudian memikirkan hal lain, upayakan untuk di kembalikan pada objek awal, yaitu perhatian pada keluar masuknya nafas yang diserati dengan nilai-nilai luhur. Kondisi pikiran yang kemudian memikirkan hal lain ini mungkin saja sering terjadi selama berlatih meditasi. Tidak masalah, itu adalah hal wajar. Teruskanlah berlatih meditasi setiap hari. Dengan latihan yang rutin, maka lama-kelamaan pikiran menjadi lebih mudah dipusatkan pada objek meditasi. Saat pikiran mulai terpusat, batin pun menjadi lebih tenang. Kadang pada saat itu, timbul perasaan seperti mengantuk. Hal tersebut adalah normal. Untuk mengatasinya, saat pikiran mulai terasa agak ringan dan melayang, kesadaran mulai melemah, upayakan pikiran untuk lebih kuat memperhatikan objek. Dengan terus-menerus berlatih, maka pikiran akan menjadi terampil memegang objek, sehingga rasa mengantuk dapat dilewati. Kualitas konsentrasi pun meningkat. Setelah fokus pada objek mampu dipertahankan untuk waktu yang relatif cukup lama, maka tahapan selanjutnya, pergunakanlah kualitas konsentrasi tersebut untuk merasakan berbagai sensasi tubuh jasmani, seperti kesemutan dan lain sebagainya (dengan menyertakan nilai luhur Anicca).

Apabila konsentrasi masih belum terlalu mampu dipertahankan untuk waktu yang lama, sebaiknya usahakan pikiran tetap dipusatkan pada objek semula. Abaikan terlebih dahulu semua sensasi pada tubuh jasmani yang sering muncul dirasakan selama ini. Latihan memperhatikan sensasi tubuh jasmani selama duduk bermeditasi menjadi persiapan untuk memperhatikan semua perilaku badan, ucapan dan pikiran selama melaksanakan aktivitas sehari-hari. Perhatian dan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari inilah yang menjadi tujuan utama berlatih duduk bermeditasi setiap hari.

Pengembangan kesadaran sepanjang hari menjadikan batin tenang karena mengerti bahwa hidup adalah saat ini. Masa lalu hanyalah kenangan yang dapat dijadikan pelajaran. Masa depan masih harapan yang harus mulai dikerjakan saat ini secara maksimal. Saat inilah kenyataan, kesadaran pada saat ini menimbulkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup.

Semoga jawaban ini bermanfaat serta meningkatkan semangat untuk berlatih meditasi secara rutin dan dilanjutkan dengan mengembangkan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga semua mahluk berbahagia.

 

~ oOo ~

Senin, 11 Mei 2026

Manfaat menggunakan Sati


Sati adalah perhatian dengan penuh kesadaran pada obyek yang kita temui, memiliki manfaat yang sangat luas.
Dengan menyertakan Sati pada setiap saat atas obyek yang kita temui itu dapat :
1.    Mengurangi kecerobohan. Dengan sadar penuh, kita lebih jarang melakukan kesalahan kecil, seperti lupa menaruh barang atau salah bicara. 
2.    Menjernihkan pikiran. Sati membantu kita melihat keadaan sebagaimana adanya, tanpa terbawa emosi atau prasangka. 
3.    Menguatkan konsentrasi. Saat makan, bekerja, atau berbicara, kita lebih fokus sehingga hasilnya lebih baik. 
4.    Mengendalikan reaksi. Dengan menyadari perasaan dan pikiran yang muncul, kita tidak mudah terseret marah, iri, atau cemas. 
5.    Meningkatkan kebahagiaan sederhana. Hal-hal kecil seperti menikmati aroma kopi atau suara burung jadi terasa lebih bermakna, namun tidak melekatinya. 
6.    Membuka jalan menuju kebijaksanaan. Dalam Buddhisme, Sati adalah dasar dari Satipaṭṭhāna (landasan meditasi yang menuntun pada pemahaman mendalam tentang hakikat kehidupan). 
Contoh Praktis :
1.    Saat makan : Menyadari rasa, tekstur makanan, proses mengunyah, sehingga makan lebih sehat dan tidak berlebihan. 
2.    Saat bekerja : Fokus pada satu tugas maka akan lebih produktif dan minim stres. 
3.    Saat berbicara : Menyadari kata-kata sebelum diucapkan menyebabkan komunikasi lebih bijak dan penuh empati. 
4.    Saat berjalan : Menyadari langkah dan pernapasan maka tubuh menjadi lebih rileks, dan pikiran lebih tenang. 
Kesimpulan :
Sati bukan hanya untuk duduk bermeditasi, tetapi bisa diterapkan di setiap aktivitas. Dengan melatihnya terus-menerus, hidup menjadi lebih terarah, damai, dan penuh makna.  

Senin, 04 Mei 2026

Uraian Mahasatipaṭṭhāna Sutta

 

1.    Mahāsatipaṭṭhāna Sutta adalah Sutta yang mendalam, sudah membahas tentang Abhidhamma.

2.    Satipaṭṭhāna (empat landasan perhatian penuh) adalah uraian yang lebih ringkas dari Mahāsatipaṭṭhāna.

3.    Sati adalah perhatian penuh yang menjaga batin tetap sadar pada saat ini. Sampajañña (kesadaran jernih) merupakan pasangan dari Sati. Anupassana adalah penglihatan yang disertai dengan kebijaksanaan, yaitu penglihatan yang jelas dan terus menerus.

4.    Satipaṭṭhāna itu sebagai Ekāyana Magga (satu-satunya jalan yang dibabarkan Sang Buddha), jalan menuju hilangnya kesedihan & ratap tangis (derita jasmaniah & batiniah) demi tibanya di “sang jalan” (Nibbana terlihat dengan jelas). Jalur ini dilalui oleh orang-orang dan satu saja yang akan lolos tidak bisa bergerombol (tidak bisa yang lain menggandul).

5.    Dalam Satipaṭṭhāna Sutta sudah cukup seseorang berlatih dalam Buddhasasana untuk tuntas mendiami Brahmacariya, sehingga kewajiban telah selesai.

6.    Dengan antusias yang tinggi - kitapun merasa kewalahan karena terlalu spektakulernya obyek-obyek dalam maha Satipaṭṭhāna.

7.    Dalam Kayanupasana, lakukan upaya : mencegah keburukan yang belum muncul, memangkas keburukan yang sudah muncul, memunculkan kebaikan yang belum muncul & mengembangkan hal baik yang telah muncul.

8.    Dalam Satipaṭṭhāna ada 3 hal yang mesti bahu membahu : Sati, Paññā, dan Viriya. Untuk penglihatan jelas tubuh dalam tubuh, mempehatikan rasa sakit, atau tidak merasa sakit, yang sakit atau yang bahagia itu Vedanā (perasaan). Ada banyak macam Vedanā, jasmniah & batiniah. Upekkha termasuk Sukha-vedanā (perasaan menyenangkan).

9.    Istilah “berdiam dan melihat”, itu mengusut dengan kebijaksanaan. Mengikis Avijjā : Lobha & Dosa di Loka (Pañcakkhandha).

10. Kepadaman penderitaan bisa dicapai dengan Jalan Mulia Berunsur-8. Mengarah ke kehancuran Saṃsāra-vaṭṭa (lingkaran saṃsāra / siklus kelahiran dan kematian). Terkait dengan Paṭicca-samuppāda (12 mata rantai sebab-musabab yang saling bergantungan). Mengacu ke Avijjā (kebodohan batin yang mendasar), Tanha (kegandrungan), Upadana (kemelekatan). Kamma itu ada di Saṅkhāra (pembentuk) & Bhava (menjadi), sisanya adalah Vipāka (buah Kamma). Upādi (sisa kemelekatan) itu masih menjadi penopang kelahiran dan kematian.

11. Vaṭṭa-saṃsāra terjadi karena eksisnya Māra (penghancur yang menghalangi pencapaian pencerahan : Kilesa, Pañcakkhandha, Kematian, dan Devaputta = makhluk Surgawi yang jahat). Semua ini terkait dengan Bojjhaṅga (tujuh faktor batin yang menuntun pada pencerahan), 37 Bodhipakkhiya Dhamma (kumpulan kualitas batin yang menjadi bekal menuju pencerahan).

12. Kembali ke topik : mengusut tubuh dalam tubuh -> memperhatikan nafas dalam tubuh. Nafas sebagai pembentuk tubuh (kāyasaṅkhāra).

13. Dalam Satipaṭṭhāna-sutta dipilah menjadi 14 bagian, yang antara lain meliputi : 

a.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada nafas (ānāpānasati).

b.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada postur tubuh, dengan posisi : duduk, berjalan, berdiri, dan berbaring

c.     Kāyānupassanā -> perhatian pada aktivitas sehari-hari (sampajañña) : perhatian ketika melakukan atau tidak melakukan apappun (Sampajañña Pabba).

d.    Kāyānupassanā -> perhatian pada tubuh yang sudah mati (Paṭikūla-bhāvanā = perhatian atas 32 bagian tubuh yang menjijikkan, yang dipahami sebagai yg tidak tetap = tidak ada diri).

e.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada unsur-unsur tubuh (tanah, air, api dan angin).

f.      Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada sembilan tahap pembusukan / pemusnahan manusia : mayat menggembung, berwarna nila, bernanah dst.

g.    Vedanānupassanā -> mengamati perasaan : menyenangkan (sukha vedanā), tidak menyenangkan (dukkha vedanā), netral (upekkhā vedanā) yang jika dirinci menjadi 8 Vedanā.

h.    Cittānupassanā -> mengamati keadaan pikiran yang masih diliputi : Sadhosa (kebencian, kemarahan), Samoha (kebodohan, delusi), Samāhita (batin yang terpusat), Sautara (lebih tinggi, lebih luhur), Semāhita (batin yang terkonsentrasi), Vimutta (pembebasan batin dari kilesa).

i.      Dhammanupasana -> mengamati fenomena Dhamma, ada banyak : Pañca Nīvaraṇa (5 rintangan batin), Khanda pabba (latihan yang berhubungan dengan lima gugusan), Bojjhaṅga (tujuh faktor pencerahan), itu semua berkaitan dengan Ayatana (landasan), yaitu enam landasan dalam dan enam landasan luar. Segalanya memungkinkan diketahui oleh semua Satva.

14. Semua itu tidak ada diri termasuk Vittaka & Vicara. Dalam mengusut tubuh dalam tubuh, kemunculan & kepadamannya -> Sati-nya tegak, tahu tentang tubuh yang selalu berubah -> tidak ada tubuh -> tidak patut dilekati. Sati, Paññā & viriya bekerjasama.

15. Viriya memangkas Kilesa yang telah muncul, berdiam tanpa digantungi oleh kilesa lagi, dan tidak melekati hal-hal apapun di dalam Pancakhanda, menenangkan nafas.

16. Kegiuran muncul saat Nivarana terpotong. Setelah kegiuran reda, keterhimpitan tidak ada, Piti juga tidak ada, keberadaan tidak ada. Tidak adanya Keterhimpitan dan Kegiuran inilah yang disebut dengan Sukkha. Melanjutkan pelatihan ini hingga menembus tentang Dukkha yang tidak kekal, tidak patut digandrungi, maka selanjutnya tercapailah Nibbana.

 

~ oOo ~