1. Mahāsatipaṭṭhāna Sutta adalah Sutta yang
mendalam, sudah membahas tentang Abhidhamma.
2. Satipaṭṭhāna (empat landasan perhatian penuh)
adalah uraian yang lebih ringkas dari Mahāsatipaṭṭhāna.
3. Sati adalah perhatian penuh yang menjaga batin
tetap sadar pada saat ini. Sampajañña (kesadaran jernih) merupakan pasangan
dari Sati. Anupassana adalah penglihatan yang disertai dengan kebijaksanaan,
yaitu penglihatan yang jelas dan terus menerus.
4. Satipaṭṭhāna itu sebagai Ekāyana Magga
(satu-satunya jalan yang dibabarkan Sang Buddha), jalan menuju hilangnya
kesedihan & ratap tangis (derita jasmaniah & batiniah) demi tibanya di
“sang jalan” (Nibbana terlihat dengan jelas). Jalur ini dilalui oleh
orang-orang dan satu saja yang akan lolos tidak bisa bergerombol (tidak bisa
yang lain menggandul).
5. Dalam Satipaṭṭhāna Sutta sudah cukup seseorang
berlatih dalam Buddhasasana untuk tuntas mendiami Brahmacariya, sehingga
kewajiban telah selesai.
6. Dengan antusias yang tinggi - kitapun merasa
kewalahan karena terlalu spektakulernya obyek-obyek dalam maha Satipaṭṭhāna.
7. Dalam Kayanupasana, lakukan upaya : mencegah
keburukan yang belum muncul, memangkas keburukan yang sudah muncul, memunculkan
kebaikan yang belum muncul & mengembangkan hal baik yang telah muncul.
8. Dalam Satipaṭṭhāna ada 3 hal yang mesti bahu
membahu : Sati, Paññā, dan Viriya. Untuk penglihatan jelas tubuh dalam tubuh,
mempehatikan rasa sakit, atau tidak merasa sakit, yang sakit atau yang bahagia
itu Vedanā (perasaan). Ada banyak macam Vedanā, jasmniah & batiniah.
Upekkha termasuk Sukha-vedanā (perasaan menyenangkan).
9. Istilah “berdiam dan melihat”, itu mengusut
dengan kebijaksanaan. Mengikis Avijjā : Lobha & Dosa di Loka (Pañcakkhandha).
10. Kepadaman penderitaan bisa dicapai dengan
Jalan Mulia Berunsur-8. Mengarah ke kehancuran Saṃsāra-vaṭṭa (lingkaran saṃsāra
/ siklus kelahiran dan kematian). Terkait dengan Paṭicca-samuppāda (12 mata
rantai sebab-musabab yang saling bergantungan). Mengacu ke Avijjā (kebodohan
batin yang mendasar), Tanha (kegandrungan), Upadana (kemelekatan). Kamma itu ada
di Saṅkhāra (pembentuk) & Bhava (menjadi), sisanya adalah Vipāka (buah
Kamma). Upādi (sisa kemelekatan) itu masih menjadi penopang kelahiran dan
kematian.
11. Vaṭṭa-saṃsāra terjadi karena eksisnya Māra
(penghancur yang menghalangi pencapaian pencerahan : Kilesa, Pañcakkhandha,
Kematian, dan Devaputta = makhluk Surgawi yang jahat). Semua ini terkait dengan
Bojjhaṅga (tujuh faktor batin yang menuntun pada pencerahan), 37 Bodhipakkhiya
Dhamma (kumpulan kualitas batin yang menjadi bekal menuju pencerahan).
12. Kembali ke topik : mengusut tubuh dalam tubuh
-> memperhatikan nafas dalam tubuh. Nafas sebagai pembentuk tubuh (kāya‑saṅkhāra).
13. Dalam Satipaṭṭhāna-sutta dipilah menjadi 14
bagian, yang antara lain meliputi :
a. Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada
nafas (ānāpānasati).
b. Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada
postur tubuh, dengan posisi : duduk, berjalan, berdiri, dan berbaring
c. Kāyānupassanā -> perhatian pada aktivitas
sehari-hari (sampajañña) : perhatian ketika melakukan atau tidak melakukan
apappun (Sampajañña Pabba).
d. Kāyānupassanā -> perhatian pada tubuh yang
sudah mati (Paṭikūla-bhāvanā = perhatian atas 32 bagian tubuh yang menjijikkan,
yang dipahami sebagai yg tidak tetap = tidak ada diri).
e. Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada
unsur-unsur tubuh (tanah, air, api dan angin).
f. Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada
sembilan tahap pembusukan / pemusnahan manusia : mayat menggembung, berwarna
nila, bernanah dst.
g. Vedanānupassanā -> mengamati perasaan :
menyenangkan (sukha vedanā), tidak menyenangkan (dukkha vedanā), netral
(upekkhā vedanā) yang jika dirinci menjadi 8 Vedanā.
h. Cittānupassanā -> mengamati keadaan pikiran
yang masih diliputi : Sadhosa (kebencian, kemarahan), Samoha (kebodohan,
delusi), Samāhita (batin yang terpusat), Sautara (lebih tinggi, lebih luhur),
Semāhita (batin yang terkonsentrasi), Vimutta (pembebasan batin dari kilesa).
i. Dhammanupasana -> mengamati fenomena Dhamma,
ada banyak : Pañca Nīvaraṇa (5 rintangan batin), Khanda pabba (latihan yang
berhubungan dengan lima gugusan), Bojjhaṅga (tujuh faktor pencerahan), itu
semua berkaitan dengan Ayatana (landasan), yaitu enam landasan dalam dan enam
landasan luar. Segalanya memungkinkan diketahui oleh semua Satva.
14. Semua itu tidak ada diri termasuk Vittaka
& Vicara. Dalam mengusut tubuh dalam tubuh, kemunculan & kepadamannya
-> Sati-nya tegak, tahu tentang tubuh yang selalu berubah -> tidak ada
tubuh -> tidak patut dilekati. Sati, Paññā & viriya bekerjasama.
15. Viriya memangkas Kilesa yang telah muncul,
berdiam tanpa digantungi oleh kilesa lagi, dan tidak melekati hal-hal apapun di
dalam Pancakhanda, menenangkan nafas.
16. Kegiuran muncul saat Nivarana terpotong. Setelah
kegiuran reda, keterhimpitan tidak ada, Piti juga tidak ada, keberadaan tidak
ada. Tidak adanya Keterhimpitan dan Kegiuran inilah yang disebut dengan Sukkha.
Melanjutkan pelatihan ini hingga menembus tentang Dukkha yang tidak kekal, tidak
patut digandrungi, maka selanjutnya tercapailah Nibbana.
~ oOo ~