Translate

Senin, 04 Mei 2026

Uraian Mahasatipaṭṭhāna Sutta

 

1.    Mahāsatipaṭṭhāna Sutta adalah Sutta yang mendalam, sudah membahas tentang Abhidhamma.

2.    Satipaṭṭhāna (empat landasan perhatian penuh) adalah uraian yang lebih ringkas dari Mahāsatipaṭṭhāna.

3.    Sati adalah perhatian penuh yang menjaga batin tetap sadar pada saat ini. Sampajañña (kesadaran jernih) merupakan pasangan dari Sati. Anupassana adalah penglihatan yang disertai dengan kebijaksanaan, yaitu penglihatan yang jelas dan terus menerus.

4.    Satipaṭṭhāna itu sebagai Ekāyana Magga (satu-satunya jalan yang dibabarkan Sang Buddha), jalan menuju hilangnya kesedihan & ratap tangis (derita jasmaniah & batiniah) demi tibanya di “sang jalan” (Nibbana terlihat dengan jelas). Jalur ini dilalui oleh orang-orang dan satu saja yang akan lolos tidak bisa bergerombol (tidak bisa yang lain menggandul).

5.    Dalam Satipaṭṭhāna Sutta sudah cukup seseorang berlatih dalam Buddhasasana untuk tuntas mendiami Brahmacariya, sehingga kewajiban telah selesai.

6.    Dengan antusias yang tinggi - kitapun merasa kewalahan karena terlalu spektakulernya obyek-obyek dalam maha Satipaṭṭhāna.

7.    Dalam Kayanupasana, lakukan upaya : mencegah keburukan yang belum muncul, memangkas keburukan yang sudah muncul, memunculkan kebaikan yang belum muncul & mengembangkan hal baik yang telah muncul.

8.    Dalam Satipaṭṭhāna ada 3 hal yang mesti bahu membahu : Sati, Paññā, dan Viriya. Untuk penglihatan jelas tubuh dalam tubuh, mempehatikan rasa sakit, atau tidak merasa sakit, yang sakit atau yang bahagia itu Vedanā (perasaan). Ada banyak macam Vedanā, jasmniah & batiniah. Upekkha termasuk Sukha-vedanā (perasaan menyenangkan).

9.    Istilah “berdiam dan melihat”, itu mengusut dengan kebijaksanaan. Mengikis Avijjā : Lobha & Dosa di Loka (Pañcakkhandha).

10. Kepadaman penderitaan bisa dicapai dengan Jalan Mulia Berunsur-8. Mengarah ke kehancuran Saṃsāra-vaṭṭa (lingkaran saṃsāra / siklus kelahiran dan kematian). Terkait dengan Paṭicca-samuppāda (12 mata rantai sebab-musabab yang saling bergantungan). Mengacu ke Avijjā (kebodohan batin yang mendasar), Tanha (kegandrungan), Upadana (kemelekatan). Kamma itu ada di Saṅkhāra (pembentuk) & Bhava (menjadi), sisanya adalah Vipāka (buah Kamma). Upādi (sisa kemelekatan) itu masih menjadi penopang kelahiran dan kematian.

11. Vaṭṭa-saṃsāra terjadi karena eksisnya Māra (penghancur yang menghalangi pencapaian pencerahan : Kilesa, Pañcakkhandha, Kematian, dan Devaputta = makhluk Surgawi yang jahat). Semua ini terkait dengan Bojjhaṅga (tujuh faktor batin yang menuntun pada pencerahan), 37 Bodhipakkhiya Dhamma (kumpulan kualitas batin yang menjadi bekal menuju pencerahan).

12. Kembali ke topik : mengusut tubuh dalam tubuh -> memperhatikan nafas dalam tubuh. Nafas sebagai pembentuk tubuh (kāyasaṅkhāra).

13. Dalam Satipaṭṭhāna-sutta dipilah menjadi 14 bagian, yang antara lain meliputi : 

a.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada nafas (ānāpānasati).

b.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada postur tubuh, dengan posisi : duduk, berjalan, berdiri, dan berbaring

c.     Kāyānupassanā -> perhatian pada aktivitas sehari-hari (sampajañña) : perhatian ketika melakukan atau tidak melakukan apappun (Sampajañña Pabba).

d.    Kāyānupassanā -> perhatian pada tubuh yang sudah mati (Paṭikūla-bhāvanā = perhatian atas 32 bagian tubuh yang menjijikkan, yang dipahami sebagai yg tidak tetap = tidak ada diri).

e.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada unsur-unsur tubuh (tanah, air, api dan angin).

f.      Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada sembilan tahap pembusukan / pemusnahan manusia : mayat menggembung, berwarna nila, bernanah dst.

g.    Vedanānupassanā -> mengamati perasaan : menyenangkan (sukha vedanā), tidak menyenangkan (dukkha vedanā), netral (upekkhā vedanā) yang jika dirinci menjadi 8 Vedanā.

h.    Cittānupassanā -> mengamati keadaan pikiran yang masih diliputi : Sadhosa (kebencian, kemarahan), Samoha (kebodohan, delusi), Samāhita (batin yang terpusat), Sautara (lebih tinggi, lebih luhur), Semāhita (batin yang terkonsentrasi), Vimutta (pembebasan batin dari kilesa).

i.      Dhammanupasana -> mengamati fenomena Dhamma, ada banyak : Pañca Nīvaraṇa (5 rintangan batin), Khanda pabba (latihan yang berhubungan dengan lima gugusan), Bojjhaṅga (tujuh faktor pencerahan), itu semua berkaitan dengan Ayatana (landasan), yaitu enam landasan dalam dan enam landasan luar. Segalanya memungkinkan diketahui oleh semua Satva.

14. Semua itu tidak ada diri termasuk Vittaka & Vicara. Dalam mengusut tubuh dalam tubuh, kemunculan & kepadamannya -> Sati-nya tegak, tahu tentang tubuh yang selalu berubah -> tidak ada tubuh -> tidak patut dilekati. Sati, Paññā & viriya bekerjasama.

15. Viriya memangkas Kilesa yang telah muncul, berdiam tanpa digantungi oleh kilesa lagi, dan tidak melekati hal-hal apapun di dalam Pancakhanda, menenangkan nafas.

16. Kegiuran muncul saat Nivarana terpotong. Setelah kegiuran reda, keterhimpitan tidak ada, Piti juga tidak ada, keberadaan tidak ada. Tidak adanya Keterhimpitan dan Kegiuran inilah yang disebut dengan Sukkha. Melanjutkan pelatihan ini hingga menembus tentang Dukkha yang tidak kekal, tidak patut digandrungi, maka selanjutnya tercapailah Nibbana.

 

~ oOo ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar