1. Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.
2. Kesenangan
inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak
kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan
bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu
berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.
3. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah
cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.
4. Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak
ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan
kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.
5. Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang
Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi
jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.
6. “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan
inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak.
Mendatangkan kekecewaan.
7. Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat
digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang
lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi
lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan
Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.
8. Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku
Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha
bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.
9. Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan
penderitaan karena melekati yang tidak kekal.
10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya
karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu
merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala
penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana
(pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar
& moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā (pegetahuan yang sejatinya).
11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan
bisa dilenyapkan.
12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama
/ julukan dari Asaṅkhata Dhamma.
13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan
dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.
14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta
bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana,
Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.
15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai
luhur.
Tanya : Dalam
bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai
luhur itu caranya bagaimana?
Jawab : Jika
bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan
selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak
usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat
menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari
bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam
menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat,
dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam
menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.
Tanya : Meditasi
jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?
Jawab : Meditasi
Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna
dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang
benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden.
Memperhatikan kaki yang berjalan -> menyadari
bahwa onggokan ini tidak kekal.
~ oOo ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar