Translate

Kamis, 04 Juni 2026

CARA MUDAH BERLATIH MEDITASI !!!

  

 

Q & A dengan B.Uttamo dari Kanal Youtube : “Kilau Dhamma”

tanggal 6 Desember 2021 dengan judul :

 

CARA MUDAH BERLATIH MEDITASI !!!

 

Tanya : Meditasi mungkin untuk merasakan langsung melihat bagaimana bentukan pikiran, liarnya pikiran, susah diaturnya pikiran. Bergelut dengan pikirannya sendiri. Tanpa dibekali teori, apakah bisa kira-kira menangani itu, apa harus paralel antara praktek dengan Dhammaclass yang agak serius untuk memahami apa yang terjadi, baiknya bagaimana Bhante?

Jawab : Prinsip bermeditasi adalah prinsip yang dialami juga oleh Pangeran Siddhartha. Beliau umur tujuh tahun, ketika ada festival untuk membajak di sawah, beliau mencapai tahap konsentrasi yang bagus, di bawah patung, duduk di bawah pohon jambu.

Meditasi itu sebetulnya adalah pengalaman, bukan teori. Teori itu adalah pengalamannya orang lain, yang tidak sama dengan kita. Karena pengalaman itu tidak sama, jadi teori meditasi itu sebetulnya hanya ada teori duduk, cara duduk, cara jalan, cara berdiri, cara berbaring, dan obyek, bagaimana menangkap obyek. Syaratnya harus pernah melihat tuntunan ataupun pedoman singkat latihan meditasi, hanya diajarkan cara duduk, berdiri, berjalan, dan berbaring. Obyeknya boleh dipilih. Mau pegang nafas, dipersilahkan, mau pegang pengucapan kalimat dipersilahkan, misalnya semoga semua makhluk bahagia, dan seterusnya. Nah, itu yang dilatih, tidak ada teori-teori lain. Langsung terjun. Pengalaman itu besok diceritakan. Diceritakan di muka umum.

Jadi, setelah meditasi, kemudian diskusi tentang pengalaman meditasi. Adanya di tempat umum.

saya nggak pakai teori. Tapi apakah ini cocok untuk semua orang? Belum tentu.

Ada orang kalau mau pergi ke kota A, dia senang menghafalkan peta. Tapi ada orang kalau mau pergi ke kota A, jalani aja. Nanti kalau sudah sampai disana, tanya sama orang. Misalnya mau ke rumahnya si A, tanya di situ. Nah, jadi dia sudah ada pengalaman, makanya teorinya sedikit. Lebih banyak berbicara pengalaman. Tapi beberapa orang tanya teori. Kalau mau  teori baca buku aja. Buku lebih detail penjelasannya. Gunakan pengalaman saja. Apakah jhāna ini gini, gini? lihat saja buku.

Di sini meditasi hanya ada versi 1 dan versi 2. Versi 1 intinya, apa saja yang bukan obyek, abaikan. Jangan pernah berpikir yang bukan obyek. Kesemutan abaikan, mendengar sesuatu abaikan, melihat cahaya abaikan.

Fokus pada obyek itu versi 1. Versi 2 kalau sudah bisa versi 1. Gunakan versi 1 itu untuk mengamati apa saja yang dialami. Sehingga kata-katanya adalah, apa saja yang bukan obyek jadikanlah obyek.

Ketika sudah mulai fokus, kalau mendengar sesuatu, alihkan fokus hidung ini ke telinga. Sadari itu sebagai pendengaran, sampai dia akhirnya tidak mempengaruhi, menjadi neutral atau bahkan lenyap, kemudian balik ke obyek awal dengan menyertakan nila-nilai luhur. Hanya itu. Apakah ini teori meditasi? tidak usah mengurus itu. Hasilnya apa? Orang yang banyak belajar teori malah sebetulnya menjadi lebih lambat berlatih meditasi, karena isinya hanya beradu teori. Orang yang banyak berhasil adalah orang yang malah tidak pernah pakai teori.

Dan banyak yang non-Buddhist itu malah yang berhasil meditasi. Nah ini kan aneh. Makanya kalau Anda suatu ketika punya kesempatan untuk latihan di Balerejo, yang bukan Buddhis banyak, karena memang untuk semua orang. Saya tidak mengajarkan ajaran Sang Buddha. Saya mengajarkan bagaimana mengendalikan pikiran. Dan itu menjadi milik semua orang apapun agamanya. Kebetulan saya bhikkhu, kebetulan ada di Vihara. Tetapi, mengendalikan pikiran itu milik semua orang, semua agama. Begitu.

Tanya : Tadi ada yang menarik, orang-orang non-Buddhist yang lebih berhasil dalam latihan meditasi. Ruang lingkup atau spektrum berhasil ini apakah pengendalian pikiran dan bisa memegang objek dalam waktu yang cukup lama? Apakah begitu maksudnya Bhante?

Jawab : Ya, jadi bagi saya berhasil itu adalah cepat memegang objek (disertai dengan nilai-nilai luhur) dan tahan lama. Minimal 30 menit misalnya. Meditasi ada timernya. Disebut berhasil kalau dalam beberapa menit pertama sudah bisa memegang objek dan bisa bertahan lama secara kumulatif. Karena pikiran lari sana lari sini itu normal. Secara kumulatif katakanlah 75 persen, ini dirasakan saja, tidak perlu diprosentasi secara detail. Kayaknya sebagian besar saya tadi bisa fokus. Itu disebut berhasil.

Kalau pegang objeknya susah, contohnya 5 menit terakhir baru bisa pegang objek itu berarti belum bisa. Prinsipnya cepat pegang objek dan durasinya lama. Itu yang disebut berhasil.

Sebetulnya versi 1 dan versi 2 itu sama. Menggunakan konsentrasinya untuk apa. Kalau konsentrasi versi 1 adalah objek yang kita tentukan, misalnya nafas. Kalau di versi 2, objek yang kita tentukan versi 1 itu hanya sebagai terminal, bisa jalan-jalan dengan objek indria-indria yang lain, apakah itu pendengaran, badan kita, pikiran kita. Kalau sampai gelisah, balik ke terminal yang ditentukan. Kalau bisa mengendalikan pikiran sampai menjadi tenang, netral, bahkan kadang-kadang menjadi tidak terasa lagi kesemutannya, maka baliklah ke objek lain. Cara ini sangat simpel. Seperti itu.

Tanya : Salah satu ceramah Bhante yang lain, saya pernah mendengar Bhante menekankan betapa pentingnya menjaga kesadaran pada aktivitas harian, baik selama retret maupun di luar retret. Untuk orang awam ini yang sangat penting untuk mengukur apakah hasil latihan ada bekasnya, kesadarannya bisa bertahan dalam aktivitas sehari-hari, apa demikian Bhante?

Jawab : Betul sekali. Meditasi yang sesungguhnya itu di luar Vihara. Kalau selesai meditasi seminggu ini, kemudian merasa senang, sudah selesai, itu salah. Justru harusnya malah merasa aduh kok sudah selesai latihannya ya. Karena sekarang harus meditasi yang sesungguhnya.

Berlatih meditasi di Bodhigiri - kalau gagal tanpa risiko. Misalnya duduk, melatih fokus. Eh ngantuk. Sampai setengah jam akhirnya cuma tertidur. Tidak ada risiko. Tapi kalau di luar ketika sedang nyetir kedaraan ngantuk belum setengah jam sudah sampai di rumah sakit. Meditasi yang sesungguhnya itu di luar. Ketika menyadari ini ngomong apa? disadari, ini bertindak apa? disadari, ini berpikir apa? Itu yang sesungguhnya. Dan itu nanti kembali kepada dasar Karma, kurangi kejahatan tambah kebaikan, sucikan hati dan pikiran. Mengapa dicapai dengan cara itu? Kalau di jalan tol bisa tenang, di jalan tanjakan mesinnya mati bisa tenang, di jalan turunan harus macet bisa tenang tidak nubruk depannya. Itu namanya mahir. Sampai nanti akhirnya mobil itu menjadi perpanjangan tangan dan kaki. Sehingga begitu ada kondisi yang mendadak, refleksnya jalan (berfungsi). Refleksnya bukan : “Eh kodok” misalnya. Bukan begitu. Tapi begitu kaget : Semoga semua makhluk bahagia. Nah ini artinya kesadarannya sudah maksimal. Ya semacam itu.

Tulislah di HP di wallpaper-nya, di tempat kerja, atau dimana saja : Saat ini saya sedang apa??

Itu intinya.

~ oOo ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar