Kesadaran atau Sati berguna bagi kita, untuk memahami kehidupan kita, merupakan sarana dalam upaya melenyapkan penderitaan. Sati itu hal yang sangat penting dalam bermeditasi. Mengapa banyak orang yang sering bermeditasi, sering mengikuti Retret tetapai perangainya tidak berubah? Yang suka marah tetap marah, yang serakah tetap serakah dst. Karena dia memunculkan Sati atau kesadarannya hanya pada saat retret. Begitu keluar dari meditasi kesadaran tidak dijaga. Idealnya sejak bangun sampai menjelang tidur hendaknya mengupayakan untuk selalu memunculkan sati atau kesadaran.
Sebuah
perumpamaan, kalau kita harus berjalan di jalan yang penuh dengan duri, maka yang
harus kita lakukan adalah berjalan dengan hati-hati, harus waspada, pikiran tidak
mengembara, harus sadar saat ini dan sekarang, tidak melamun, tidak berfantasi,
tidak membiarkan pikiran berkeliaran, harus sadar setiap langkah. Namun di saat
yang sama kita pun harus seimbang, tidak grusa-grusu, tidak tergesa-gesa supaya
tidak menginjak duri.
Itulah
sati. Itulah kesadaran. Tetapi kemudian yang menjadi masalah adalah walaupun
kita sudah memiliki kesadaran, kita tidak mengapresiasi, kita tidak menghadirkan
setiap saat. Dalam konteks meditasi, kita harus melihat ke dalam batin pada
saat senang maupun tidak senang, karena bahaya itu ada dimana-mana, supaya
kalau ada keserakahan atau benci bisa kelihatan. Supaya tidak berdampak pada
penderitaan. Hendaknya kita menyadari pikiran, ucapan dan perbuatan, kita amati,
dan sadar setiap saat.
Adalah
kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun
seseorang tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh
keserakahan ataupun kebencian. Mengapa kesadaran yang demikian itu dihadirkan,
tidak diseret oleh suka maupun tidak suka? Kebiasaan pikiran kita adalah selalu
diseret, diombang ambingkan oleh suka dan tidak suka. Apa pun hal yang
menyenangkan. Entah yang berkenaan dengan objek yang dilihat atau suara yang
didengar. Rasa makanan yang kita makan, pembauan yang kita hirup. Apapun objek-objek
yang datang pada kita, pikiran kita menyukai, keserakahan muncul. Begitu
yang menyenangkan itu tidak ada maka
penderitaan muncul. Itu adalah kebiasaan kita. Dan sebaliknya ketika muncul
objek-objek yang tidak menyenangkan yang tidak memberikan semangat, kebiasaan
pikiran kita adalah membenci, menolak, menjadi iritasi. Dan itu sendiri adalah
penderitaan.
Seringkali
kesadaran yang dimunculkan disebut kesadaran pasif, atau perhatian apa adanya,
adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena
apapun tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh
keserakahan atau kebencian.
Mengembangkan
kesadaran adalah batin yang terlatih untuk tidak melekat terhadap pengalaman atau fenomena yang muncul, batin
tidak mudah terpengaruh.
kesadaran
pasif itu bebas dari suka dan tidak suka, ataupun kesadaran yang tidak melekat kepada
objek. Mungkin seseorang berpikir itu apatis atau seseorang yang masa bodoh
terhadap lingkungan sekitar. Ini jelas sangat berbeda, orang yang apatis, orang
yang cuek adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. Tetapi justru orang
yang sadar ini adalah orang yang mengembangkan kebijaksanaan, punya wawasan,
batinnya seimbang, ini semua adalah hasil dari latihan. Orang yang berkorupsi itu
karena ia tidak tahu bahwa itu adalah sebab penderitaan.
Kalau
misalnya ada sebuah kerajaan dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan hanya ada
satu pintu, setiap orang bahkan binatang sekalipun kalau keluar masuk ke
kerajaan hanya melewati pintu satu itu. Di depan pintu ada seorang penjaga. Dia
menjaga yang tidak lengah, penuh perhatian dan waspada. Dia tahu siapa yang
masuk siapa yang keluar. Dia juga tahu siapa yang boleh masuk dan siapa yang
tidak boleh masuk. Dia juga tahu siapa yang harus keluar dan siapa yang tidak
boleh keluar. Kerajaan ini apikiran kita yang harus dijaga dari hal-hal yang
buruk. Dan orang yang keluar masuk tidak lain adalah pengalaman dari 6 indra
kita. Si penjaga pintu adalah Sati, yaitu kesadaran kita. Orang yang kesadarannya
semakin berkembang akan semakin bijaksana, tahu apa yang terbaik.
Sebagai
contoh, pada saat duduk kita bisa memperhatikan keluar masuknya nafas kita. Kalau
kita betul-betul sadar terhadap keluar masuknya nafas, yang terperhatikan yang
tersadari itu adalah nafas saat ini, hidup saat ini dan sekarang. Maka batin
akan semakin tenang. Ketika ada gangguan sedikit saja, pasti tersadari. Seperti
air yang betul-betul tenang, begitu ada pasir saja jatuh akan menimbulkan
gelombang dan akan terlihat dengan jelas. Agar air tersebut menjadi tenang
lagi. Apa yang mesti dilakukan? Cukup sekedar ditaruh di pojok sana. Diam saja.
Berdana
itu sangat baik, tetapi kadang-kadang tanpa disadari, oh saya sudah berdana,
saya menjadi orang yang baik. Kemudian tanpa disadari merendahkan orang lain. Hal
tersebut akan terlihat jelas apabila kesadaran ini semakin berkembang. Bagi masyarakat
umum itu adalah sesuatu yang wajar, akan tetapi dalam pengembangan batin, itu
merupakan perintang batin.
Sadar
terhadap nafas apa adanya, tidak usah dibuat-buat, kalau nafas kasar disadari kasar,
kalau nafas lembut disadari lembut, nafas disadari panjang.
Tidak
hanya saat berjalan, dalam aktivitas yang lainpun kita upayakan untuk
senantiasa sadar. Makan dengan penuh kesadaran. Minum dengan penuh kesadaran. Ketika
melakukan aktivitas di tempat ibadah masing-masing juga dilakukan dengan penuh
kesadaran. Dengan cara demikian, batin akan semakin berada di saat ini dan
sekarang tidak terseret ke masa lalu ataupun yang akan datang, dan batin akan
semakin menjadi baik. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur dalam aktivitas
apapun yang kita lakukan, kita mengupayakan untuk sadar, untuk waspada, untuk
penuh perhatian, untuk tidak membiarkan pikiran mengembara. Batin yang sadar
saat ini, sekarang ini manfaatnya sangat banyak. Kita bisa me-manage emosi,
yang tadinya mudah terseret oleh keadaan, baperan, mudah iritasi, sekarang
dengan kesadaran kita akan lebih tenang, lebih bahagia. Meditasi dengan
kesadaran itu mengubah apa yang ada di dalam batin kita.
Tanya
Jawab :
Tanya
1 : Dalam meditasi, bagaimana
cara me-manage kesadaran dalam situasi cemas, gugup, atau takut bhante?
Jawab
: Kesadaran atau kualitas
batin itu mesti dikembangkan. Kita tidak bisa serta merta memiliki kesadaran yang
serta merta berkembang, mesti dimunculkan lagi dan lagi. Dalam situasi tertentu
seseorang bisa memanage, tetapi dalam kondisi yang lain, situasilah yang lebih
intens karena kesadaran belum begitu berkembang. Seseorang tidak bisa me-manage
tidak ada masalah. Yang terpenting munculkan lagi dan lagi kesadaran itu
sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang baru memunculkan kesadaran atau
mengembangkan kesadaran -> kemarahan muncul. Setelah tangannya memukul baru sadar. Wah ini tidak
baik, tapi itu tidak masalah. Tapi seiring dengan waktu, kesadaran itu
dikembangkan. Begitu kemarahan muncul, sebelum tangan diangkat sudah tersadari
sehingga tidak jadi memukul. Tetapi mungkin ucapannya masih dengan kata-kata
kasar atas dasar kemarahan yang muncul, tapi kemudian tersadar. Seiring dengan
waktu ketika kesadaran berkembang, baru muncul pikiran kasar sudah disadari, tidak
sampai terucap, tidak sampai menggunakan fisiknya untuk memukul. Ketika
kesadaran berkembang lagi, baru muncul kebencian itu sudah kelihatan sehingga
tidak terseret lagi ke dalam ucapan, apalagi perbuatan jasmani. Dan bahkan
ketika kesadaran semakin berkembang, baru muncul tanda-tandanya saja sudah
tersadari, sehingga tidak sampai terucap kata-kata kasar. Maka seiring dengan
kesadaran yang berkembang, maka yang halus itu nantinya akan terlihat dengan
jelas, meski tidak serta merta bisa melihat yang halus. Itu membutuhkan waktu. Kalau
ada kecemasan, ada ketakutan, itu membutuhkan Latihan, membutuhkan
pengembangan. Lama kelamaan kekuatan dari kekhawatiran / kecemasan itu akan
semakin melemah. Ada sebuah perumpamaan, di ladang jagung ada seekor sapi yang
mau masuk ke ladang. Kalau di ladang jagung tersebut ada seorang penjaga yang
waspada, maka si penjaga akan melakukan apa saja supaya sapi itu terusir. Tetapi
yang namanya sapi, dua kali, tiga kali, empat kali akan datang lagi. Namun
kalau setiap kali datang, ketahuan sama si penjaga, sapipun menjadi jera. Dia
tidak akan datang lagi. Perumpamaan ini sesuai dengan batin kita, seperti
ladang jagung yang mesti dijaga. Sapi-sapi itu adalah pengotor batin termasuk
kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Beda dengan sapi, kalau kotoran batin akan
ribuan kali datang. Tetapi kalau setiap kali datang tersadari, maka kekuatan
kotoran batin akan semakin melemah, bahkan lenyap.
Tanya
2 : Ada kesadaran pasif,
kalau kesadaran aktif itu bagaimana bhante?
Jawab
: Kesadaran pasif itu tidak
berarti tidak dinamis. Kesadaran pasif tetapi dinamis. Kenapa bisa dikatakan
dinamis karena ada Sampajañña -nya, ada kebijaksanaannya. Binatang juga
memiliki kesadaran. Seekor kucing mau memangsa cicak di dinding. Dia berjalan
dengan pelan-pelan sampai jalannya tidak ada suara. Kucing mendekati dinding
melihat cicak dengan sangat fokus. Apakah kucing tersebut pada waktu itu sadar
dengan dirinya? Tahu apa yang sedang dia lakukan? Pasti tahu, tetapi apakah dia
sedang bermeditasi? Ya tidak. Yang dibutuhkan justru keserakahan? Dia tahu apa
yang dilakukan, kalau dia tidak tahu terhadap apa yang dilakukan, dia akan
berjalan dengan serampangan. Tetapi karena batinnya terseret oleh keserakahan,
itulah kesadaran yang tidak dikembangkan di dalam meditasi ini. Pasif karena
tidak terserap oleh suka maupun tidak suka, namun dibalik itu ada wawasan yang
jernih, ada kebijaksanaan. Nah inilah yang sesungguhnya mesti dikembangkan. Jadi
kalau kita bilang kesadaran aktif maka aktif dalam konteks kesadaran yang
dinamis karena ada kebijaksanaan.
Tapi
kalau tidak bijaksana, binatang pun memiliki, dia tahu apa yang dia lakukan
tetapi kotoran batin justru berkembang di sana.
Tanya
3 : Bhante misalnya
kita mendengar si “A” baru saja melakukan dana yang besar untuk kemajuan Buddha
Susana. Mendengar hal tersebut, reaksi yang seringkali muncul dalam hati saya
adalah turut berbahagia. Dengan saya turut berbahagia, apakah hal itu termasuk
terseret dalam suka? Dan apakah hal tersebut termasuk dalam mengembangkan
kotoran batin? Sikap atau reaksi apa yang seharusnya diambil jika kita
mendengar hal hal positif tersebut?
Jawab : Perasaan itu ada dua. Ada perasaan yang
masih berkenaan dengan duniawi. Ada perasaan yang sudah bukan sekadar duniawi
yang muncul dari sebuah perenungan Dhamma, yang mana muncul dari sebuah
pemikiran dan perenungan yang bermanfaat. Ikut berbahagia atas perbuatan baik
orang lain (Mudita) itu baik, lebih baik ketimbang membenci atau irihati, tetapi
ini bisa memperkuat pemahaman yang salah : bahwa ada “aku”, aku bahagia. Harus
disadari bahwa ikut berbahagia (Mudita) itu adalah perasaan yang tidak kekal. Perasaan
inipun harus dilenyapkan, harus diredam dengan perasaan yang bukan menyenangkan
dan bukan tidak menyenangkan (Upekkha).