2. Ada ide pavarana yang muncul dari upasaka & upasika, kalau dari Bhikkhu berarti Bhikkhu punya kesempatan untuk minta maaf, karena mungkin ada umat yang tidak berkenan kepada Bhikkhu.
Blog ini menampilkan tulisan-tulisan yang dapat dikategorikan sebagai tulisan : Pengetahuan Benar, Wawasan, Kata-Kata Bijak, Lain-lain. Jika pembaca tidak sependapat dengan tulisan yang ada dalam blog ini, tolong abaikan saja dan lupakan! Terima kasih.
Translate
Senin, 04 Mei 2026
CARA MENGEMBANGKAN CINTA KASIH
2. Ada ide pavarana yang muncul dari upasaka & upasika, kalau dari Bhikkhu berarti Bhikkhu punya kesempatan untuk minta maaf, karena mungkin ada umat yang tidak berkenan kepada Bhikkhu.
CARA MUDAH MENCAPAI TINGKAT KESUCIAN SOTAPANNA
Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi. Penderitaan itu bukan sesuatu yang menyatu dengan hidup. Mengalami kesedihan, derita jasmani, derita batin, tua, sakit, mati dsb. itu kalau menyatu seperti warna benda. Warna merah buah naga, seolah-olah warna merah tsb. menyatu dengan buah. Tetapi sesungguhnya tidak begitu. Nah ini beda dengan penderitaan yang ada kemunculannya. Saat muncul kegandrungan disana muncul penderitaan. Karena penderitaan muncul, maka kepadamannya bisa ditembus, yaitu padamnya kegandrungan. Jika ada kepadaman penderitaan, tentu ada jalan menuju padamnya penderitaan. Kebenaran tentang Anicca itu sebagai penembusan Dukkha.
Dalam Dukkha muncul Anatta (tidak
ada diri). Kalau ada diri tidak ada penderitaan, karena bisa memerintah tubuh
sesuai yang diinginkan. Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha,
dan Anatta, ada Samsara, ada Kegandrungan (Tanha). Diantara kegandrungan dan
penderitaan ada Karma, ada perbuatan. Kegandrungan memunculkan perbuatan yang
dapat menyenangkan atau menyakitkan. Itu semua
adalah Dukkha. Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada
kemunculan dan kepadaman. Ada keinginan penyebab Dukkha. Ini yang mesti dimengerti. Kalau
mau mengerti Karma maka mengerti ini dulu yang paling awal sebagai siswa Sang Buddha,
mengetahui ajaran Sang Guru, yang telah mendengar. Yang telah mendengar itu namanya ya sudah Sotapanna.
Sota itu artinya telinga, arus pendengaran, dan Apanna itu artinya masuk ke
arus pendengaran.
Empat Kebenaran Ariya yang sudah
masuk ke arus pendengaran, menembus kebenaran, tidak susah. Tidak perlu mengikis
kekotoran batin sudah bisa mencapai kesucian Sotapanna. Sotapanna yang masih dalam tahap pemahaman.
Merasa belum Sotapanna
itu karena belum menembus
Empat Kebenaran Mulia secara Magganana & Phalanana, tidak bisa
memahami arti penting dari meditasi, dari pengembangan batin. Jangankan yang belum Sotapanna, yang sudah Sotapanna saja
males-malesan juga. Masih menyenangi kesenangan inderawi. Dari Sotapanna untuk
naik ke tingkat kesucian selanjutnya bukan hal yang gampang. Jeratnya
mara itu adalah
jerat yang sulit
sekali dilepas, tidak terbayang mengapa
sampai perlu bermeditasi. Kalaupun kita, saya sudah merasa perlu
bermeditasi itu bagus. Yang mana biasanya hanya dorongan dogmatis. Kita ini
tergila-gila dengan status-status. Status Jhana satu, status Anagami, status
Dibbacakkhu dsb. Bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual. Selama
masih tergila-gila itu tidak akan sampai. Masih memiliki Tanha,
bukan untuk melepas.
Tanya : Kalau yang mengumpulkan parami
itu dia kan tidak melewati
proses perenungan terhadap Empat Kebenaran Mulia. Untuk
merealisasi Sotapanna, ini bagaimana bhante?.
Jawab : Permasalahannya karena digiring
kesitu. Sebagai umat Buddha puluhan tahun tidak mengerti esensi dari Empat
Kebenaran Arya itu kan sayang banget. Memang rajin berdana, rajin menjalankan
sila, rajin Baksos, rajin ini itu.
Mungkin juga mengembangkan Metta (cinta kasih), itu nilai luhur. Mengembangkan
Metta sampai yang tertinggi, sampai masuk ke alam Brahma, itu bukan jalan menuju ke kesucian. Tidak ada celah untuk
mencapai kesucian. Di alam Brama jika buah Karma baiknya habis, akan turun lagi
ke alam manusia, atau alam rendah. Kebajikan-kebajikan yang bagus adalah
sebagai anak tangga untuk mempermudah merealisasi Nibbana, mempermudah
merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian. Orang yang berpunya memiliki potensi mengembangkan
kebaikan lebih besar dibandingkan yang kurang berpunya. Dan itu seiring dengan jenjang nilai spiritual
yang di pandu atau dikawal menuju
pada tingkatan yang lebih tinggi.
Berikut adalah
poin-poin dari tulisan
ringkas diatas :
1.
Mencapai tingkat kesucian Sotapanna
itu tidak perlu bermeditasi.
2.
Saat muncul Tanha (Kegandrungan) disana muncul penderitaan.
3.
Jika ada kemunculan maka ada pemadaman.
4.
Penderitaan bisa dihilangkan dengan memadamkan kegandrungan.
5.
Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha,
dan Anatta.
6.
Penderitaan / Dukkha / Samsara itu bisa dipadamkan (diputus) -> ada caranya*
7.
Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan.
8.
Hidup di alam kehidupan
manapun adalah Dukkha,
karena ada kemunculan dan kepadaman.
9.
Memahami Karma didahului dengan
memahami bahwa keinginan
adalah penyebab Dukkha.
10. Memahami keinginan merupakan penyebab
Dukkha, adalah yang mendengar ajaran
Sang Buddha, adalah seorang Sotapanna.
11. Sotapanna yang masih menyenangi kesenangan inderawi untuk
dapat naik ke tingkat kesucian berikutnya itu masih sulit.
12. Pada umumnya orang tergila-gila
dengan pencapaian status Jhana satu, Anagami,
Dibbacakkhu dsb. bukan tergila-gila dengan
pencapaian nilai spiritual, yang mana ini adalah
yang utama.
13. Tanya : Orang yang hanya mengumpulkan
parami, apa bisa merealisasi Sotapanna? Jawab : Rajin berbuat baik itu
nilai luhur tapi bukan merupakan jalan menuju ke kesucian. Hanya mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian
/ Nibbana. Harus mengerti
esensi Empat Kebenaran Arya.
MENJAGA KESADARAN DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN
Kesadaran atau Sati berguna bagi kita, untuk memahami kehidupan kita, merupakan sarana dalam upaya melenyapkan penderitaan. Sati itu hal yang sangat penting dalam bermeditasi. Mengapa banyak orang yang sering bermeditasi, sering mengikuti Retret tetapai perangainya tidak berubah? Yang suka marah tetap marah, yang serakah tetap serakah dst. Karena dia memunculkan Sati atau kesadarannya hanya pada saat retret. Begitu keluar dari meditasi kesadaran tidak dijaga. Idealnya sejak bangun sampai menjelang tidur hendaknya mengupayakan untuk selalu memunculkan sati atau kesadaran.
Sebuah
perumpamaan, kalau kita harus berjalan di jalan yang penuh dengan duri, maka yang
harus kita lakukan adalah berjalan dengan hati-hati, harus waspada, pikiran tidak
mengembara, harus sadar saat ini dan sekarang, tidak melamun, tidak berfantasi,
tidak membiarkan pikiran berkeliaran, harus sadar setiap langkah. Namun di saat
yang sama kita pun harus seimbang, tidak grusa-grusu, tidak tergesa-gesa supaya
tidak menginjak duri.
Itulah
sati. Itulah kesadaran. Tetapi kemudian yang menjadi masalah adalah walaupun
kita sudah memiliki kesadaran, kita tidak mengapresiasi, kita tidak menghadirkan
setiap saat. Dalam konteks meditasi, kita harus melihat ke dalam batin pada
saat senang maupun tidak senang, karena bahaya itu ada dimana-mana, supaya
kalau ada keserakahan atau benci bisa kelihatan. Supaya tidak berdampak pada
penderitaan. Hendaknya kita menyadari pikiran, ucapan dan perbuatan, kita amati,
dan sadar setiap saat.
Adalah
kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun
seseorang tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh
keserakahan ataupun kebencian. Mengapa kesadaran yang demikian itu dihadirkan,
tidak diseret oleh suka maupun tidak suka? Kebiasaan pikiran kita adalah selalu
diseret, diombang ambingkan oleh suka dan tidak suka. Apa pun hal yang
menyenangkan. Entah yang berkenaan dengan objek yang dilihat atau suara yang
didengar. Rasa makanan yang kita makan, pembauan yang kita hirup. Apapun objek-objek
yang datang pada kita, pikiran kita menyukai, keserakahan muncul. Begitu
yang menyenangkan itu tidak ada maka
penderitaan muncul. Itu adalah kebiasaan kita. Dan sebaliknya ketika muncul
objek-objek yang tidak menyenangkan yang tidak memberikan semangat, kebiasaan
pikiran kita adalah membenci, menolak, menjadi iritasi. Dan itu sendiri adalah
penderitaan.
Seringkali
kesadaran yang dimunculkan disebut kesadaran pasif, atau perhatian apa adanya,
adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena
apapun tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh
keserakahan atau kebencian.
Mengembangkan
kesadaran adalah batin yang terlatih untuk tidak melekat terhadap pengalaman atau fenomena yang muncul, batin
tidak mudah terpengaruh.
kesadaran
pasif itu bebas dari suka dan tidak suka, ataupun kesadaran yang tidak melekat kepada
objek. Mungkin seseorang berpikir itu apatis atau seseorang yang masa bodoh
terhadap lingkungan sekitar. Ini jelas sangat berbeda, orang yang apatis, orang
yang cuek adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. Tetapi justru orang
yang sadar ini adalah orang yang mengembangkan kebijaksanaan, punya wawasan,
batinnya seimbang, ini semua adalah hasil dari latihan. Orang yang berkorupsi itu
karena ia tidak tahu bahwa itu adalah sebab penderitaan.
Kalau
misalnya ada sebuah kerajaan dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan hanya ada
satu pintu, setiap orang bahkan binatang sekalipun kalau keluar masuk ke
kerajaan hanya melewati pintu satu itu. Di depan pintu ada seorang penjaga. Dia
menjaga yang tidak lengah, penuh perhatian dan waspada. Dia tahu siapa yang
masuk siapa yang keluar. Dia juga tahu siapa yang boleh masuk dan siapa yang
tidak boleh masuk. Dia juga tahu siapa yang harus keluar dan siapa yang tidak
boleh keluar. Kerajaan ini apikiran kita yang harus dijaga dari hal-hal yang
buruk. Dan orang yang keluar masuk tidak lain adalah pengalaman dari 6 indra
kita. Si penjaga pintu adalah Sati, yaitu kesadaran kita. Orang yang kesadarannya
semakin berkembang akan semakin bijaksana, tahu apa yang terbaik.
Sebagai
contoh, pada saat duduk kita bisa memperhatikan keluar masuknya nafas kita. Kalau
kita betul-betul sadar terhadap keluar masuknya nafas, yang terperhatikan yang
tersadari itu adalah nafas saat ini, hidup saat ini dan sekarang. Maka batin
akan semakin tenang. Ketika ada gangguan sedikit saja, pasti tersadari. Seperti
air yang betul-betul tenang, begitu ada pasir saja jatuh akan menimbulkan
gelombang dan akan terlihat dengan jelas. Agar air tersebut menjadi tenang
lagi. Apa yang mesti dilakukan? Cukup sekedar ditaruh di pojok sana. Diam saja.
Berdana
itu sangat baik, tetapi kadang-kadang tanpa disadari, oh saya sudah berdana,
saya menjadi orang yang baik. Kemudian tanpa disadari merendahkan orang lain. Hal
tersebut akan terlihat jelas apabila kesadaran ini semakin berkembang. Bagi masyarakat
umum itu adalah sesuatu yang wajar, akan tetapi dalam pengembangan batin, itu
merupakan perintang batin.
Sadar
terhadap nafas apa adanya, tidak usah dibuat-buat, kalau nafas kasar disadari kasar,
kalau nafas lembut disadari lembut, nafas disadari panjang.
Tidak
hanya saat berjalan, dalam aktivitas yang lainpun kita upayakan untuk
senantiasa sadar. Makan dengan penuh kesadaran. Minum dengan penuh kesadaran. Ketika
melakukan aktivitas di tempat ibadah masing-masing juga dilakukan dengan penuh
kesadaran. Dengan cara demikian, batin akan semakin berada di saat ini dan
sekarang tidak terseret ke masa lalu ataupun yang akan datang, dan batin akan
semakin menjadi baik. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur dalam aktivitas
apapun yang kita lakukan, kita mengupayakan untuk sadar, untuk waspada, untuk
penuh perhatian, untuk tidak membiarkan pikiran mengembara. Batin yang sadar
saat ini, sekarang ini manfaatnya sangat banyak. Kita bisa me-manage emosi,
yang tadinya mudah terseret oleh keadaan, baperan, mudah iritasi, sekarang
dengan kesadaran kita akan lebih tenang, lebih bahagia. Meditasi dengan
kesadaran itu mengubah apa yang ada di dalam batin kita.
Tanya
Jawab :
Tanya
1 : Dalam meditasi, bagaimana
cara me-manage kesadaran dalam situasi cemas, gugup, atau takut bhante?
Jawab
: Kesadaran atau kualitas
batin itu mesti dikembangkan. Kita tidak bisa serta merta memiliki kesadaran yang
serta merta berkembang, mesti dimunculkan lagi dan lagi. Dalam situasi tertentu
seseorang bisa memanage, tetapi dalam kondisi yang lain, situasilah yang lebih
intens karena kesadaran belum begitu berkembang. Seseorang tidak bisa me-manage
tidak ada masalah. Yang terpenting munculkan lagi dan lagi kesadaran itu
sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang baru memunculkan kesadaran atau
mengembangkan kesadaran -> kemarahan muncul. Setelah tangannya memukul baru sadar. Wah ini tidak
baik, tapi itu tidak masalah. Tapi seiring dengan waktu, kesadaran itu
dikembangkan. Begitu kemarahan muncul, sebelum tangan diangkat sudah tersadari
sehingga tidak jadi memukul. Tetapi mungkin ucapannya masih dengan kata-kata
kasar atas dasar kemarahan yang muncul, tapi kemudian tersadar. Seiring dengan
waktu ketika kesadaran berkembang, baru muncul pikiran kasar sudah disadari, tidak
sampai terucap, tidak sampai menggunakan fisiknya untuk memukul. Ketika
kesadaran berkembang lagi, baru muncul kebencian itu sudah kelihatan sehingga
tidak terseret lagi ke dalam ucapan, apalagi perbuatan jasmani. Dan bahkan
ketika kesadaran semakin berkembang, baru muncul tanda-tandanya saja sudah
tersadari, sehingga tidak sampai terucap kata-kata kasar. Maka seiring dengan
kesadaran yang berkembang, maka yang halus itu nantinya akan terlihat dengan
jelas, meski tidak serta merta bisa melihat yang halus. Itu membutuhkan waktu. Kalau
ada kecemasan, ada ketakutan, itu membutuhkan Latihan, membutuhkan
pengembangan. Lama kelamaan kekuatan dari kekhawatiran / kecemasan itu akan
semakin melemah. Ada sebuah perumpamaan, di ladang jagung ada seekor sapi yang
mau masuk ke ladang. Kalau di ladang jagung tersebut ada seorang penjaga yang
waspada, maka si penjaga akan melakukan apa saja supaya sapi itu terusir. Tetapi
yang namanya sapi, dua kali, tiga kali, empat kali akan datang lagi. Namun
kalau setiap kali datang, ketahuan sama si penjaga, sapipun menjadi jera. Dia
tidak akan datang lagi. Perumpamaan ini sesuai dengan batin kita, seperti
ladang jagung yang mesti dijaga. Sapi-sapi itu adalah pengotor batin termasuk
kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Beda dengan sapi, kalau kotoran batin akan
ribuan kali datang. Tetapi kalau setiap kali datang tersadari, maka kekuatan
kotoran batin akan semakin melemah, bahkan lenyap.
Tanya
2 : Ada kesadaran pasif,
kalau kesadaran aktif itu bagaimana bhante?
Jawab
: Kesadaran pasif itu tidak
berarti tidak dinamis. Kesadaran pasif tetapi dinamis. Kenapa bisa dikatakan
dinamis karena ada Sampajañña -nya, ada kebijaksanaannya. Binatang juga
memiliki kesadaran. Seekor kucing mau memangsa cicak di dinding. Dia berjalan
dengan pelan-pelan sampai jalannya tidak ada suara. Kucing mendekati dinding
melihat cicak dengan sangat fokus. Apakah kucing tersebut pada waktu itu sadar
dengan dirinya? Tahu apa yang sedang dia lakukan? Pasti tahu, tetapi apakah dia
sedang bermeditasi? Ya tidak. Yang dibutuhkan justru keserakahan? Dia tahu apa
yang dilakukan, kalau dia tidak tahu terhadap apa yang dilakukan, dia akan
berjalan dengan serampangan. Tetapi karena batinnya terseret oleh keserakahan,
itulah kesadaran yang tidak dikembangkan di dalam meditasi ini. Pasif karena
tidak terserap oleh suka maupun tidak suka, namun dibalik itu ada wawasan yang
jernih, ada kebijaksanaan. Nah inilah yang sesungguhnya mesti dikembangkan. Jadi
kalau kita bilang kesadaran aktif maka aktif dalam konteks kesadaran yang
dinamis karena ada kebijaksanaan.
Tapi
kalau tidak bijaksana, binatang pun memiliki, dia tahu apa yang dia lakukan
tetapi kotoran batin justru berkembang di sana.
Tanya
3 : Bhante misalnya
kita mendengar si “A” baru saja melakukan dana yang besar untuk kemajuan Buddha
Susana. Mendengar hal tersebut, reaksi yang seringkali muncul dalam hati saya
adalah turut berbahagia. Dengan saya turut berbahagia, apakah hal itu termasuk
terseret dalam suka? Dan apakah hal tersebut termasuk dalam mengembangkan
kotoran batin? Sikap atau reaksi apa yang seharusnya diambil jika kita
mendengar hal hal positif tersebut?
Jawab : Perasaan itu ada dua. Ada perasaan yang
masih berkenaan dengan duniawi. Ada perasaan yang sudah bukan sekadar duniawi
yang muncul dari sebuah perenungan Dhamma, yang mana muncul dari sebuah
pemikiran dan perenungan yang bermanfaat. Ikut berbahagia atas perbuatan baik
orang lain (Mudita) itu baik, lebih baik ketimbang membenci atau irihati, tetapi
ini bisa memperkuat pemahaman yang salah : bahwa ada “aku”, aku bahagia. Harus
disadari bahwa ikut berbahagia (Mudita) itu adalah perasaan yang tidak kekal. Perasaan
inipun harus dilenyapkan, harus diredam dengan perasaan yang bukan menyenangkan
dan bukan tidak menyenangkan (Upekkha).
Senin, 20 April 2026
Jumat, 20 Maret 2026
PENGERTIAN MARA DALAM BUDDHISME
Setidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan Mara, yaitu :
1. Empat pengertian tentang Mara :
- Mara Kematian (Maccu Mara), yaitu dalam hal ini kematian-lah yang menghambat / menghalangi praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi / mencapai Pencerahan.
- Mara Kilesa (Kilesa Mara), yaitu Pengotor-pengotor batin (nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan) lah yang menghambat praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi Pencerahan.
- Mara Abhisankhara (Abhisankhara Mara), yaitu formasi-formasi mental (Sankhara) yang mengikat para makhluk pada siklus kelahiran kembali.
- Mara Devaputta (Devaputta Mara), yaitu makhluk Dewa yang mencoba menggoda dan menghalangi Pangeran Siddhartha dan para pengikutnya dalam merealisasi Pencerahan.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Mara adalah ketika Mara menggoda Pangeran Siddhartha di bawah pohon Bodhi sebelum beliau mencapai Pencerahan. Mara mengirimkan pasukan iblis dan putri-putrinya untuk menggoda Siddhartha Gautama, tetapi Siddhartha tetap teguh tidak tergoyahkan.
Mara dapat dilihat sebagai simbol dari tantangan dan rintangan yang kita hadapi sehari-hari dalam kita menjalani kehidupan yang bermakna dan penuh kebijaksanaan.
Mara juga sering digambarkan sebagai raja di alam tertinggi Kammaloka (raja di alam dewa Paranimmita-vasavatti) yang memiliki kekuatan besar dan sering kali mencoba mengganggu praktisi Dhamma.
Jumat, 20 Februari 2026
RUKUN ITU PENTING
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil! Suara ayam 'kukuruyuk!', bebek 'kuek! kuek!' Itu bebek, sayang..." kata si suami dengan disertai gejala awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.
"Tuh kan! Itu suara bebek!" kata si suami.
"Bukan, Sayang... Itu suara ayam! Aku yakin betul!" tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu adalah... be... bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!" si suami berkata gusar.
"Tapi itu ayam!" masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue... bek !!! Kamu ini... kamu ini... gimana sih?!"
Terdengar lagi, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya memang tak dikatakannya. Si istri nyaris menangis, "Tapi itu ayam...." kata si isteri.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di sekitar taman tsb, kali ini suara itu mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta...
Kesimpulan : Kerukunan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar dalam hal-hal yang sebenarnya adalah sepele.