Translate

Senin, 04 Mei 2026

Citta‑bhāvanā #1 Jalan Ideal Mengakhiri Derita (Pendahuluan)


1.    Brahmacariya : Jalan keluhuran demi menutup hal-hal buruk / penderitaan / pandangan keliru.

2.    Pabbajjā / Samaṇa / tanpa rumah, adalah penjauhan diri, berkondisi leluasa, tidak cocok untuk perumah tangga / yang terhimpit / terpenuhi oleh kotoran.

3.    Sāmaṇera / Bhikkhu adalah “cara hidup” bukan status / jenjang / kasta, punya kerendahan hati dan prinsip.

4.    Menjadi Bhikkhu adalah titik awal pelatihan yang kondusif. Berlatih Sīla (tata kebijaksanaan orang bajik yang cerdas). Berlatih Samadhi -> keteguhan batiniah pada prinsip nilai luhur & Paññā / pengetahuan secara menyeluruh -> hal yang sebenarnya adalah sebab – akibat.

5.    Sīla, Samadhi dan Paññā patut untuk dicapai, dikembangkan, hingga berdiam tetap mengiringi batin setiap saat. Untuk menyempurnakan terealisasinya kepadaman derita (menjalankan kehidupan Brahmacariya).

6.    Sīla (5 sīla) adalah untuk menutup hal buruk yang akan muncul lewat tindakan dan ucapan, yang dapat menambah Kilesa. Harus memiliki kepuasan (Santutthi), menutup Indriya-saṃvara dengan ilmu / penglihatan secara benar (tidak melihat sebagai gambaran / rincian / persepsi). Selain Indriya-saṃvara masalah ini juga terkait dengan Sati, Sampajañña, dan juga Paññā.

7.    Pergi ke tempat sunyi untuk ber-Samadhi. Ber-Samadhi itu mengedepankan pengingatan (Sati), nilai luhur apa yang bisa diterapkan. Sati & Paññā itu saling melengkapi, menghancurkan Nīvaraṇa, muncul kelengangan, rasanya lega, muncul kegiuran, Sukha, muncul penyatuan batin pada obyek yang disertai nilai-nilai luhur, termasuk dari sisi kebijaksanaan, termasuk yang tidak indah. Muncul perasaan netral, Sati-parisudhi, mencapai Jhāna-Jhāna, sampai Jhāna ke 4.

8.    Mengembangkan pengetahuan -> mengingat banyak hal dalam kehidupan-kehidupan yang lampau (Dibbacakkhu). Dibbacakkhu itu merupakan anak tangga menuju hancurnya Āsava / pengotor batin. Mengetahui tentang Empat Kebenaran Mulia, Dukkha (penghanyut), mencapai Nibbana.

Pertanyaan : Apa bedanya antara Paññā & Pariññā?

Jawab : Pariññā lebih detil, Paññā itu mirip dengan Pariññā. Ada 3 jenis Pariññā, yaitu : Ñātapariññā (tahu apa yang nyata / benar), Tīraṇapariññā (tahu melalui menimbang / mengorek / merenungkan), dan Pahānapariññā, dimana setelah mengorek / melihat dengan jelas maka putuslah pengotor batin (pandangan keliru). Paññā, Pariññā, Abhiññā itu mirip-mirip, termasuk juga Saññā yang adalah nama lain dari kebijaksanaan termasuk Viññāṇa yaitu dari kata yang sama.

9.    Pendahuluan dari “Jalan Ideal Mengakhiri Derita” ini adalah mengenai permulaan bagaimana sampai menjadi Sāmaṇera, setalah menjadi Sāmaṇera harus bagaimana, tujuannya apa, disadari, dan proses apa itu.

10. Cukup ini saja tugas untuk hari pertama.

Keterangan :

1.    Indriya-saṃvara : kemampuan menjaga pintu-pintu indra agar tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau kebodohan batin ketika berhadapan dengan objek luar.

2.    Sampajañña : memastikan kita memahami dengan jernih apa yang sedang dilakukan.

3.    Nīvaraṇa : lima penghalang batin yang harus dikenali dan ditinggalkan agar latihan meditasi berhasil.

4.    Sati-parisudhi : tahap di mana perhatian penuh mencapai kemurnian, menjadi landasan kuat untuk konsentrasi mendalam dan kebijaksanaan.

 ~ oOo ~

Bhante Abhijato Menjawab 7 Pertanyaan Luar Biasa


1.      Dalam ajaran agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), semua itu karena Tuhan. Misal tidak boleh mencuri biar ada alasannya, tetap akhirnya karena dilarang Tuhan.

2.    Tentang makanan yang tidak bisa dimakan. Misal daging, biarpun ada landasan ilmiahnya bahwa dagin tersebut sehat, tetap tidak boleh dimakan karena dilarang oleh Tuhan.

3.    Untuk hal yang baik : membantu anak yatim piatu itu baik, itu juga karena dipuji oleh Tuhan.

4.    Tetapi dalam Buddhisme, apa sebenarnya yang menjadi Core I Ching (pedoman dalam mengambil keputusan) itu? Apapun pertanyaanya jika dijawab dengan : Adosa, Alobha, Amoha –> maka jawaban ini  benar.

5.    Perbuatan mencuri (mengotori batin) itu adalah serakah dan memicu kemarahan, dimana Dosa, Lobha, Moha muncul. Mencuri satu kali, dua kali, tiga kali dst., maka yang bersangkutan akan hancur, tidak bisa berfungsi normal lagi, apalagi jika urusannya dengan Narkoba.

6.    Untuk pertanyaan : Mengapa Bhikkhu harus gundul? Maka jawabannya adalah terkait dengan  Adosa, Alobha, Amoha.

7.    Meditasi dan Menjaga Sila itu juga mengurangi : Dosa, Lobha, Moha (The Core I Ching). Semua pertanyaan bisa dijawab dengan masalah : Dosa, Lobha, Moha.

8.    Jika Bhikkhu hanya diam bagaimana Dhamma bisa menyebar? Maka Bhikkhu harus bertanya Dhamma, mempraktikkan Dhamma & Vinaya.

9.    Mengapa agama Buddha banyak aliran? Karena penyebar Dhamma itu pergi ke bergagai daerah yang sudah punya budaya, agama, raja setempat, dan guru besar. Kitab Komentar yang berbeda-beda itu karena peran guru besar.

10. Mengapa para bhikkhu itu tidak vegetarian? Supaya para bhikkhu bisa mengembara, boleh makan daging yang memenuhi 3 syarat (tidak melihat & mendengar suara binatang yang dibunuh, dan tidak mencurigai bahwa daging binatang tsb. memang disediakan untuknya) sehingga tidak memberatkan ketika Bhikkhu ber-pindapāta.

11. Bagaimana jika Bhikkhu datang di tempat yang tidak biasa atau tidak familier dengan persoalan pindapāta? Bhikkhu bisa berdiri di pasar di depan penjual makanan dengan waktu lama.

12. Seorang bhikkhu mengajar Dhamma kalau ditanya.

13. Tentang Brahmavihāra & kesucian. Bagaimana seseorang ditengarai memiliki spiritual tinggi? Karena : Dosa, Lobha, dan Mohanya sudah menurun dan tinggal sedikit atau sudah lenyap, dan berkarakter : Adosa, Alobha, Amoha. Mempunyai : Mettā, Karunā, Muditā, Upekkhā.

14. Beragama apapun kalau 7 karakternya tersebut tinggi, maka spiritualnya tinggi.

15. Mettā = mengharapkan orang lain bahagia, Karunā = membantu seseorang keluar dari penderitaan.

16. Membuang kecemburuan adalah rahasia hidup bahagia, faham dengan Hukum Karma.

~ oOo ~

CARA MENGEMBANGKAN CINTA KASIH

   

     1. Mengantar Bhikkhu yang keluar Vassa -> upacara Pavarana, itu biasanya antar sesama  bhikkhu, untuk saling mengingatkan.
2.    Ada ide pavarana yang muncul dari upasaka & upasika, kalau dari Bhikkhu berarti Bhikkhu punya kesempatan untuk minta maaf, karena mungkin ada umat yang tidak berkenan kepada Bhikkhu.
3.    Saling memaafkan diantara umat itu kebiasaan yang baik, juga diantara Bhikkhu dimana saling menawarkan diri untuk ditegur satu sama lain untuk kebaikan bersama, ini merupakan nasehat bijaksana dari Sang Buddha.
4.    Ada kalanya Sang Buddha menyetujui pendapat Bhikkhu yang mengatakan bahwa “sesuatu” itu dikatakan tidak perlu. Itu adalah gambaran bahwa Sang Buddha tidak egois atau suatu kejujuran.
5.    Kejujuran itu diperlukan untuk memacu maju dalam Dhamma.
6.    Kita hendaknya bijaksana dalam melihat orang lain, agar kita jadi lebih baik.
7.    Suatu saat Sang Buddha memberi kesempatan untuk semua orang bisa berdana (makanan). Ada juga orang yang tidak setuju atas sikap Sang Buddha ini, dimana sebenarnya itu adalah kesempatan untuk berlatih Upekkha.
8.    Dimana saja kita berada hendaknya dalam situasi cinta kasih, ingat bahwa manusia itu sarang keburukan (noda), tapi ingatlah juga ada kebaikannya.
9.    Kalau muncul kebencian maka diri sendiri yang menderita bukan orang lain, kondisi demikian adalah lawan dari pengembangan Metta.

CARA MUDAH MENCAPAI TINGKAT KESUCIAN SOTAPANNA


Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi. Penderitaan itu bukan sesuatu yang menyatu dengan hidup. Mengalami kesedihan, derita jasmani, derita batin, tua, sakit, mati dsb. itu kalau menyatu seperti warna benda. Warna merah buah naga, seolah-olah warna merah tsb. menyatu dengan buah. Tetapi sesungguhnya tidak begitu. Nah ini beda dengan penderitaan yang ada kemunculannya. Saat muncul kegandrungan disana muncul penderitaan. Karena penderitaan muncul, maka kepadamannya bisa ditembus, yaitu padamnya kegandrungan. Jika ada kepadaman penderitaan, tentu ada jalan menuju padamnya penderitaan. Kebenaran tentang Anicca itu sebagai penembusan Dukkha.

Dalam Dukkha muncul Anatta (tidak ada diri). Kalau ada diri tidak ada penderitaan, karena bisa memerintah tubuh sesuai yang diinginkan. Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha, dan Anatta, ada Samsara, ada Kegandrungan (Tanha). Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan. Kegandrungan memunculkan perbuatan yang dapat menyenangkan atau menyakitkan. Itu semua adalah Dukkha. Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada kemunculan dan kepadaman. Ada keinginan penyebab Dukkha. Ini yang mesti dimengerti. Kalau mau mengerti Karma maka mengerti ini dulu yang paling awal sebagai siswa Sang Buddha, mengetahui ajaran Sang Guru, yang telah mendengar. Yang telah mendengar itu namanya ya sudah Sotapanna. Sota itu artinya telinga, arus pendengaran, dan Apanna itu artinya masuk ke arus pendengaran.

Empat Kebenaran Ariya yang sudah masuk ke arus pendengaran, menembus kebenaran, tidak susah. Tidak perlu mengikis kekotoran batin sudah bisa mencapai kesucian Sotapanna. Sotapanna yang masih dalam tahap pemahaman.

Merasa belum Sotapanna itu karena belum menembus Empat Kebenaran Mulia secara Magganana & Phalanana, tidak bisa memahami arti penting dari meditasi, dari pengembangan batin. Jangankan yang belum Sotapanna, yang sudah Sotapanna saja males-malesan juga. Masih menyenangi kesenangan inderawi. Dari Sotapanna untuk naik ke tingkat kesucian selanjutnya bukan hal yang gampang. Jeratnya mara itu adalah jerat yang sulit sekali dilepas, tidak terbayang mengapa sampai perlu bermeditasi. Kalaupun kita, saya sudah merasa perlu bermeditasi itu bagus. Yang mana biasanya hanya dorongan dogmatis. Kita ini tergila-gila dengan status-status. Status Jhana satu, status Anagami, status Dibbacakkhu dsb. Bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual. Selama masih tergila-gila itu tidak akan sampai. Masih memiliki Tanha, bukan untuk melepas.

Tanya : Kalau yang mengumpulkan parami itu dia kan tidak melewati proses perenungan terhadap Empat Kebenaran Mulia. Untuk merealisasi Sotapanna, ini bagaimana bhante?.

Jawab : Permasalahannya karena digiring kesitu. Sebagai umat Buddha puluhan tahun tidak mengerti esensi dari Empat Kebenaran Arya itu kan sayang banget. Memang rajin berdana, rajin menjalankan sila, rajin Baksos, rajin ini itu. Mungkin juga mengembangkan Metta (cinta kasih), itu nilai luhur. Mengembangkan Metta sampai yang tertinggi, sampai masuk ke alam Brahma, itu bukan jalan menuju ke kesucian. Tidak ada celah untuk mencapai kesucian. Di alam Brama jika buah Karma baiknya habis, akan turun lagi ke alam manusia, atau alam rendah. Kebajikan-kebajikan yang bagus adalah sebagai anak tangga untuk mempermudah merealisasi Nibbana, mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian. Orang yang berpunya memiliki potensi mengembangkan kebaikan lebih besar dibandingkan yang kurang berpunya. Dan itu seiring dengan jenjang nilai spiritual yang di pandu atau dikawal menuju pada tingkatan yang lebih tinggi.

 

Berikut adalah poin-poin dari tulisan ringkas diatas :

1.     Mencapai tingkat kesucian Sotapanna itu tidak perlu bermeditasi.

2.     Saat muncul Tanha (Kegandrungan) disana muncul penderitaan.

3.     Jika ada kemunculan maka ada pemadaman.

4.     Penderitaan bisa dihilangkan dengan memadamkan kegandrungan.

5.       Empat Kebenaran Arya itu tertembus oleh Anicca, Dukkha, dan Anatta.

6.     Penderitaan / Dukkha / Samsara itu bisa dipadamkan (diputus) -> ada caranya*

7.     Diantara kegandrungan dan penderitaan ada Karma, ada perbuatan.

8.     Hidup di alam kehidupan manapun adalah Dukkha, karena ada kemunculan dan kepadaman.

9.     Memahami Karma didahului dengan memahami bahwa keinginan adalah penyebab Dukkha.

10. Memahami keinginan merupakan penyebab Dukkha, adalah yang mendengar ajaran Sang Buddha, adalah seorang Sotapanna.

11. Sotapanna yang masih menyenangi kesenangan inderawi untuk dapat naik ke tingkat kesucian berikutnya itu masih sulit.

12. Pada umumnya orang tergila-gila dengan pencapaian status Jhana satu, Anagami, Dibbacakkhu dsb. bukan tergila-gila dengan pencapaian nilai spiritual, yang mana ini adalah yang utama.

13. Tanya : Orang yang hanya mengumpulkan parami, apa bisa merealisasi Sotapanna? Jawab : Rajin berbuat baik itu nilai luhur tapi bukan merupakan jalan menuju ke kesucian. Hanya mempermudah merealisasi tingkatan-tingkatan kesucian / Nibbana. Harus mengerti esensi Empat Kebenaran Arya.

MENJAGA KESADARAN DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN

 

Kesadaran atau Sati berguna bagi kita, untuk memahami kehidupan kita, merupakan sarana dalam upaya melenyapkan penderitaan. Sati itu hal yang sangat penting dalam bermeditasi. Mengapa banyak orang yang sering bermeditasi, sering mengikuti Retret tetapai perangainya tidak berubah? Yang suka marah tetap marah, yang serakah tetap serakah dst. Karena dia memunculkan Sati atau kesadarannya hanya pada saat retret. Begitu keluar dari meditasi kesadaran tidak dijaga. Idealnya sejak bangun sampai menjelang tidur hendaknya mengupayakan untuk selalu memunculkan sati atau kesadaran.

Sebuah perumpamaan, kalau kita harus berjalan di jalan yang penuh dengan duri, maka yang harus kita lakukan adalah berjalan dengan hati-hati, harus waspada, pikiran tidak mengembara, harus sadar saat ini dan sekarang, tidak melamun, tidak berfantasi, tidak membiarkan pikiran berkeliaran, harus sadar setiap langkah. Namun di saat yang sama kita pun harus seimbang, tidak grusa-grusu, tidak tergesa-gesa supaya tidak menginjak duri.

Itulah sati. Itulah kesadaran. Tetapi kemudian yang menjadi masalah adalah walaupun kita sudah memiliki kesadaran, kita tidak mengapresiasi, kita tidak menghadirkan setiap saat. Dalam konteks meditasi, kita harus melihat ke dalam batin pada saat senang maupun tidak senang, karena bahaya itu ada dimana-mana, supaya kalau ada keserakahan atau benci bisa kelihatan. Supaya tidak berdampak pada penderitaan. Hendaknya kita menyadari pikiran, ucapan dan perbuatan, kita amati, dan sadar setiap saat.

Adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun seseorang tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh keserakahan ataupun kebencian. Mengapa kesadaran yang demikian itu dihadirkan, tidak diseret oleh suka maupun tidak suka? Kebiasaan pikiran kita adalah selalu diseret, diombang ambingkan oleh suka dan tidak suka. Apa pun hal yang menyenangkan. Entah yang berkenaan dengan objek yang dilihat atau suara yang didengar. Rasa makanan yang kita makan, pembauan yang kita hirup. Apapun objek-objek yang datang pada kita, pikiran kita menyukai, keserakahan muncul. Begitu yang  menyenangkan itu tidak ada maka penderitaan muncul. Itu adalah kebiasaan kita. Dan sebaliknya ketika muncul objek-objek yang tidak menyenangkan yang tidak memberikan semangat, kebiasaan pikiran kita adalah membenci, menolak, menjadi iritasi. Dan itu sendiri adalah penderitaan.

Seringkali kesadaran yang dimunculkan disebut kesadaran pasif, atau perhatian apa adanya, adalah kesadaran di mana ketika seseorang memperhatikan pengalaman atau fenomena apapun tidak terseret oleh suka maupun tidak suka. Tidak terseret oleh keserakahan atau kebencian.

Mengembangkan kesadaran adalah batin yang terlatih untuk tidak melekat terhadap  pengalaman atau fenomena yang muncul, batin tidak mudah terpengaruh.

kesadaran pasif itu bebas dari suka dan tidak suka, ataupun kesadaran yang tidak melekat kepada objek. Mungkin seseorang berpikir itu apatis atau seseorang yang masa bodoh terhadap lingkungan sekitar. Ini jelas sangat berbeda, orang yang apatis, orang yang cuek adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan. Tetapi justru orang yang sadar ini adalah orang yang mengembangkan kebijaksanaan, punya wawasan, batinnya seimbang, ini semua adalah hasil dari latihan. Orang yang berkorupsi itu karena ia tidak tahu bahwa itu adalah sebab penderitaan.

Kalau misalnya ada sebuah kerajaan dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan hanya ada satu pintu, setiap orang bahkan binatang sekalipun kalau keluar masuk ke kerajaan hanya melewati pintu satu itu. Di depan pintu ada seorang penjaga. Dia menjaga yang tidak lengah, penuh perhatian dan waspada. Dia tahu siapa yang masuk siapa yang keluar. Dia juga tahu siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak boleh masuk. Dia juga tahu siapa yang harus keluar dan siapa yang tidak boleh keluar. Kerajaan ini apikiran kita yang harus dijaga dari hal-hal yang buruk. Dan orang yang keluar masuk tidak lain adalah pengalaman dari 6 indra kita. Si penjaga pintu adalah Sati, yaitu kesadaran kita. Orang yang kesadarannya semakin berkembang akan semakin bijaksana, tahu apa yang terbaik.

Sebagai contoh, pada saat duduk kita bisa memperhatikan keluar masuknya nafas kita. Kalau kita betul-betul sadar terhadap keluar masuknya nafas, yang terperhatikan yang tersadari itu adalah nafas saat ini, hidup saat ini dan sekarang. Maka batin akan semakin tenang. Ketika ada gangguan sedikit saja, pasti tersadari. Seperti air yang betul-betul tenang, begitu ada pasir saja jatuh akan menimbulkan gelombang dan akan terlihat dengan jelas. Agar air tersebut menjadi tenang lagi. Apa yang mesti dilakukan? Cukup sekedar ditaruh di pojok sana. Diam saja.

Berdana itu sangat baik, tetapi kadang-kadang tanpa disadari, oh saya sudah berdana, saya menjadi orang yang baik. Kemudian tanpa disadari merendahkan orang lain. Hal tersebut akan terlihat jelas apabila kesadaran ini semakin berkembang. Bagi masyarakat umum itu adalah sesuatu yang wajar, akan tetapi dalam pengembangan batin, itu merupakan perintang batin.

Sadar terhadap nafas apa adanya, tidak usah dibuat-buat, kalau nafas kasar disadari kasar, kalau nafas lembut disadari lembut, nafas disadari panjang.

Tidak hanya saat berjalan, dalam aktivitas yang lainpun kita upayakan untuk senantiasa sadar. Makan dengan penuh kesadaran. Minum dengan penuh kesadaran. Ketika melakukan aktivitas di tempat ibadah masing-masing juga dilakukan dengan penuh kesadaran. Dengan cara demikian, batin akan semakin berada di saat ini dan sekarang tidak terseret ke masa lalu ataupun yang akan datang, dan batin akan semakin menjadi baik. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur dalam aktivitas apapun yang kita lakukan, kita mengupayakan untuk sadar, untuk waspada, untuk penuh perhatian, untuk tidak membiarkan pikiran mengembara. Batin yang sadar saat ini, sekarang ini manfaatnya sangat banyak. Kita bisa me-manage emosi, yang tadinya mudah terseret oleh keadaan, baperan, mudah iritasi, sekarang dengan kesadaran kita akan lebih tenang, lebih bahagia. Meditasi dengan kesadaran itu mengubah apa yang ada di dalam batin kita.

Tanya Jawab :

Tanya 1 : Dalam meditasi, bagaimana cara me-manage kesadaran dalam situasi cemas, gugup, atau takut bhante?

Jawab : Kesadaran atau kualitas batin itu mesti dikembangkan. Kita tidak bisa serta merta memiliki kesadaran yang serta merta berkembang, mesti dimunculkan lagi dan lagi. Dalam situasi tertentu seseorang bisa memanage, tetapi dalam kondisi yang lain, situasilah yang lebih intens karena kesadaran belum begitu berkembang. Seseorang tidak bisa me-manage tidak ada masalah. Yang terpenting munculkan lagi dan lagi kesadaran itu sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang baru memunculkan kesadaran atau mengembangkan kesadaran -> kemarahan muncul. Setelah  tangannya memukul baru sadar. Wah ini tidak baik, tapi itu tidak masalah. Tapi seiring dengan waktu, kesadaran itu dikembangkan. Begitu kemarahan muncul, sebelum tangan diangkat sudah tersadari sehingga tidak jadi memukul. Tetapi mungkin ucapannya masih dengan kata-kata kasar atas dasar kemarahan yang muncul, tapi kemudian tersadar. Seiring dengan waktu ketika kesadaran berkembang, baru muncul pikiran kasar sudah disadari, tidak sampai terucap, tidak sampai menggunakan fisiknya untuk memukul. Ketika kesadaran berkembang lagi, baru muncul kebencian itu sudah kelihatan sehingga tidak terseret lagi ke dalam ucapan, apalagi perbuatan jasmani. Dan bahkan ketika kesadaran semakin berkembang, baru muncul tanda-tandanya saja sudah tersadari, sehingga tidak sampai terucap kata-kata kasar. Maka seiring dengan kesadaran yang berkembang, maka yang halus itu nantinya akan terlihat dengan jelas, meski tidak serta merta bisa melihat yang halus. Itu membutuhkan waktu. Kalau ada kecemasan, ada ketakutan, itu membutuhkan Latihan, membutuhkan pengembangan. Lama kelamaan kekuatan dari kekhawatiran / kecemasan itu akan semakin melemah. Ada sebuah perumpamaan, di ladang jagung ada seekor sapi yang mau masuk ke ladang. Kalau di ladang jagung tersebut ada seorang penjaga yang waspada, maka si penjaga akan melakukan apa saja supaya sapi itu terusir. Tetapi yang namanya sapi, dua kali, tiga kali, empat kali akan datang lagi. Namun kalau setiap kali datang, ketahuan sama si penjaga, sapipun menjadi jera. Dia tidak akan datang lagi. Perumpamaan ini sesuai dengan batin kita, seperti ladang jagung yang mesti dijaga. Sapi-sapi itu adalah pengotor batin termasuk kecemasan, kekhawatiran, ketakutan. Beda dengan sapi, kalau kotoran batin akan ribuan kali datang. Tetapi kalau setiap kali datang tersadari, maka kekuatan kotoran batin akan semakin melemah, bahkan lenyap.

Tanya 2 : Ada kesadaran pasif, kalau kesadaran aktif itu bagaimana bhante?

Jawab : Kesadaran pasif itu tidak berarti tidak dinamis. Kesadaran pasif tetapi dinamis. Kenapa bisa dikatakan dinamis karena ada Sampajañña -nya, ada kebijaksanaannya. Binatang juga memiliki kesadaran. Seekor kucing mau memangsa cicak di dinding. Dia berjalan dengan pelan-pelan sampai jalannya tidak ada suara. Kucing mendekati dinding melihat cicak dengan sangat fokus. Apakah kucing tersebut pada waktu itu sadar dengan dirinya? Tahu apa yang sedang dia lakukan? Pasti tahu, tetapi apakah dia sedang bermeditasi? Ya tidak. Yang dibutuhkan justru keserakahan? Dia tahu apa yang dilakukan, kalau dia tidak tahu terhadap apa yang dilakukan, dia akan berjalan dengan serampangan. Tetapi karena batinnya terseret oleh keserakahan, itulah kesadaran yang tidak dikembangkan di dalam meditasi ini. Pasif karena tidak terserap oleh suka maupun tidak suka, namun dibalik itu ada wawasan yang jernih, ada kebijaksanaan. Nah inilah yang sesungguhnya mesti dikembangkan. Jadi kalau kita bilang kesadaran aktif maka aktif dalam konteks kesadaran yang dinamis karena ada kebijaksanaan.

Tapi kalau tidak bijaksana, binatang pun memiliki, dia tahu apa yang dia lakukan tetapi kotoran batin justru berkembang di sana.

Tanya 3 : Bhante misalnya kita mendengar si “A” baru saja melakukan dana yang besar untuk kemajuan Buddha Susana. Mendengar hal tersebut, reaksi yang seringkali muncul dalam hati saya adalah turut berbahagia. Dengan saya turut berbahagia, apakah hal itu termasuk terseret dalam suka? Dan apakah hal tersebut termasuk dalam mengembangkan kotoran batin? Sikap atau reaksi apa yang seharusnya diambil jika kita mendengar hal hal positif tersebut?

Jawab : Perasaan itu ada dua. Ada perasaan yang masih berkenaan dengan duniawi. Ada perasaan yang sudah bukan sekadar duniawi yang muncul dari sebuah perenungan Dhamma, yang mana muncul dari sebuah pemikiran dan perenungan yang bermanfaat. Ikut berbahagia atas perbuatan baik orang lain (Mudita) itu baik, lebih baik ketimbang membenci atau irihati, tetapi ini bisa memperkuat pemahaman yang salah : bahwa ada “aku”, aku bahagia. Harus disadari bahwa ikut berbahagia (Mudita) itu adalah perasaan yang tidak kekal. Perasaan inipun harus dilenyapkan, harus diredam dengan perasaan yang bukan menyenangkan dan bukan tidak menyenangkan (Upekkha).

Jumat, 20 Maret 2026

PENGERTIAN MARA DALAM BUDDHISME


Mara dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai Bencana. Mara adalah personifikasi dari kekuatan negatif yang menghalangi praktisi Dhamma dalam mencapai Pencerahan, digambarkan sebagai penggoda dan penghalang yang mencoba mengalihkan perhatian praktisi Dhamma dari jalan spiritual. Ini termasuk godaan fisik, mental, dan emosional. Ada beberapa Sutta yang terkait dengan istilah Mara. Salah satunya adalah : Marapasa Sutta (Saṃyutta Nikāya 35.115)

Setidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan Mara, yaitu :

1.    Empat pengertian tentang Mara :

  • Mara Kematian (Maccu Mara), yaitu dalam hal ini kematian-lah yang menghambat /      menghalangi praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi / mencapai Pencerahan.
  • Mara Kilesa (Kilesa Mara), yaitu Pengotor-pengotor batin (nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan) lah yang menghambat praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi Pencerahan.
  • Mara Abhisankhara (Abhisankhara Mara), yaitu formasi-formasi mental (Sankhara) yang mengikat para makhluk pada siklus kelahiran kembali.
  • Mara Devaputta (Devaputta Mara), yaitu makhluk Dewa yang mencoba menggoda dan menghalangi Pangeran Siddhartha dan para pengikutnya dalam merealisasi Pencerahan.
2.    Kisah tentang Mara di bawah pohon Bodhi : 
Salah satu kisah paling terkenal tentang Mara adalah ketika Mara menggoda Pangeran Siddhartha di bawah pohon Bodhi sebelum beliau mencapai Pencerahan. Mara mengirimkan pasukan iblis dan putri-putrinya untuk menggoda Siddhartha Gautama, tetapi Siddhartha tetap teguh tidak tergoyahkan.

3.    Mara dalam simbolisme :
Mara dapat dilihat sebagai simbol dari tantangan dan rintangan yang kita hadapi sehari-hari dalam kita menjalani kehidupan yang bermakna dan penuh kebijaksanaan.

4.    Mara dalam Kosmologi Buddhis :
Mara juga sering digambarkan sebagai raja di alam tertinggi Kammaloka (raja di alam dewa Paranimmita-vasavatti) yang memiliki kekuatan besar dan sering kali mencoba mengganggu praktisi Dhamma.

Mara bukanlah entitas yang harus ditakuti, tetapi lebih sebagai simbol dari tantangan yang harus diatasi dalam perjalanan spiritual praktisi Dhamma.