Translate

Senin, 04 Mei 2026

Cittabhāvanā #2 : Alat Anicca dalam Cittabhāvanā I

 

1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~

“One Day Mindfullness”


1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~

Citta‑bhāvanā #1 Jalan Ideal Mengakhiri Derita (Pendahuluan)


1.    Brahmacariya : Jalan keluhuran demi menutup hal-hal buruk / penderitaan / pandangan keliru.

2.    Pabbajjā / Samaṇa / tanpa rumah, adalah penjauhan diri, berkondisi leluasa, tidak cocok untuk perumah tangga / yang terhimpit / terpenuhi oleh kotoran.

3.    Sāmaṇera / Bhikkhu adalah “cara hidup” bukan status / jenjang / kasta, punya kerendahan hati dan prinsip.

4.    Menjadi Bhikkhu adalah titik awal pelatihan yang kondusif. Berlatih Sīla (tata kebijaksanaan orang bajik yang cerdas). Berlatih Samadhi -> keteguhan batiniah pada prinsip nilai luhur & Paññā / pengetahuan secara menyeluruh -> hal yang sebenarnya adalah sebab – akibat.

5.    Sīla, Samadhi dan Paññā patut untuk dicapai, dikembangkan, hingga berdiam tetap mengiringi batin setiap saat. Untuk menyempurnakan terealisasinya kepadaman derita (menjalankan kehidupan Brahmacariya).

6.    Sīla (5 sīla) adalah untuk menutup hal buruk yang akan muncul lewat tindakan dan ucapan, yang dapat menambah Kilesa. Harus memiliki kepuasan (Santutthi), menutup Indriya-saṃvara dengan ilmu / penglihatan secara benar (tidak melihat sebagai gambaran / rincian / persepsi). Selain Indriya-saṃvara masalah ini juga terkait dengan Sati, Sampajañña, dan juga Paññā.

7.    Pergi ke tempat sunyi untuk ber-Samadhi. Ber-Samadhi itu mengedepankan pengingatan (Sati), nilai luhur apa yang bisa diterapkan. Sati & Paññā itu saling melengkapi, menghancurkan Nīvaraṇa, muncul kelengangan, rasanya lega, muncul kegiuran, Sukha, muncul penyatuan batin pada obyek yang disertai nilai-nilai luhur, termasuk dari sisi kebijaksanaan, termasuk yang tidak indah. Muncul perasaan netral, Sati-parisudhi, mencapai Jhāna-Jhāna, sampai Jhāna ke 4.

8.    Mengembangkan pengetahuan -> mengingat banyak hal dalam kehidupan-kehidupan yang lampau (Dibbacakkhu). Dibbacakkhu itu merupakan anak tangga menuju hancurnya Āsava / pengotor batin. Mengetahui tentang Empat Kebenaran Mulia, Dukkha (penghanyut), mencapai Nibbana.

Pertanyaan : Apa bedanya antara Paññā & Pariññā?

Jawab : Pariññā lebih detil, Paññā itu mirip dengan Pariññā. Ada 3 jenis Pariññā, yaitu : Ñātapariññā (tahu apa yang nyata / benar), Tīraṇapariññā (tahu melalui menimbang / mengorek / merenungkan), dan Pahānapariññā, dimana setelah mengorek / melihat dengan jelas maka putuslah pengotor batin (pandangan keliru). Paññā, Pariññā, Abhiññā itu mirip-mirip, termasuk juga Saññā yang adalah nama lain dari kebijaksanaan termasuk Viññāṇa yaitu dari kata yang sama.

9.    Pendahuluan dari “Jalan Ideal Mengakhiri Derita” ini adalah mengenai permulaan bagaimana sampai menjadi Sāmaṇera, setalah menjadi Sāmaṇera harus bagaimana, tujuannya apa, disadari, dan proses apa itu.

10. Cukup ini saja tugas untuk hari pertama.

Keterangan :

1.    Indriya-saṃvara : kemampuan menjaga pintu-pintu indra agar tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau kebodohan batin ketika berhadapan dengan objek luar.

2.    Sampajañña : memastikan kita memahami dengan jernih apa yang sedang dilakukan.

3.    Nīvaraṇa : lima penghalang batin yang harus dikenali dan ditinggalkan agar latihan meditasi berhasil.

4.    Sati-parisudhi : tahap di mana perhatian penuh mencapai kemurnian, menjadi landasan kuat untuk konsentrasi mendalam dan kebijaksanaan.

 ~ oOo ~

Bhante Abhijato Menjawab 7 Pertanyaan Luar Biasa


1.      Dalam ajaran agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), semua itu karena Tuhan. Misal tidak boleh mencuri biar ada alasannya, tetap akhirnya karena dilarang Tuhan.

2.    Tentang makanan yang tidak bisa dimakan. Misal daging, biarpun ada landasan ilmiahnya bahwa dagin tersebut sehat, tetap tidak boleh dimakan karena dilarang oleh Tuhan.

3.    Untuk hal yang baik : membantu anak yatim piatu itu baik, itu juga karena dipuji oleh Tuhan.

4.    Tetapi dalam Buddhisme, apa sebenarnya yang menjadi Core I Ching (pedoman dalam mengambil keputusan) itu? Apapun pertanyaanya jika dijawab dengan : Adosa, Alobha, Amoha –> maka jawaban ini  benar.

5.    Perbuatan mencuri (mengotori batin) itu adalah serakah dan memicu kemarahan, dimana Dosa, Lobha, Moha muncul. Mencuri satu kali, dua kali, tiga kali dst., maka yang bersangkutan akan hancur, tidak bisa berfungsi normal lagi, apalagi jika urusannya dengan Narkoba.

6.    Untuk pertanyaan : Mengapa Bhikkhu harus gundul? Maka jawabannya adalah terkait dengan  Adosa, Alobha, Amoha.

7.    Meditasi dan Menjaga Sila itu juga mengurangi : Dosa, Lobha, Moha (The Core I Ching). Semua pertanyaan bisa dijawab dengan masalah : Dosa, Lobha, Moha.

8.    Jika Bhikkhu hanya diam bagaimana Dhamma bisa menyebar? Maka Bhikkhu harus bertanya Dhamma, mempraktikkan Dhamma & Vinaya.

9.    Mengapa agama Buddha banyak aliran? Karena penyebar Dhamma itu pergi ke bergagai daerah yang sudah punya budaya, agama, raja setempat, dan guru besar. Kitab Komentar yang berbeda-beda itu karena peran guru besar.

10. Mengapa para bhikkhu itu tidak vegetarian? Supaya para bhikkhu bisa mengembara, boleh makan daging yang memenuhi 3 syarat (tidak melihat & mendengar suara binatang yang dibunuh, dan tidak mencurigai bahwa daging binatang tsb. memang disediakan untuknya) sehingga tidak memberatkan ketika Bhikkhu ber-pindapāta.

11. Bagaimana jika Bhikkhu datang di tempat yang tidak biasa atau tidak familier dengan persoalan pindapāta? Bhikkhu bisa berdiri di pasar di depan penjual makanan dengan waktu lama.

12. Seorang bhikkhu mengajar Dhamma kalau ditanya.

13. Tentang Brahmavihāra & kesucian. Bagaimana seseorang ditengarai memiliki spiritual tinggi? Karena : Dosa, Lobha, dan Mohanya sudah menurun dan tinggal sedikit atau sudah lenyap, dan berkarakter : Adosa, Alobha, Amoha. Mempunyai : Mettā, Karunā, Muditā, Upekkhā.

14. Beragama apapun kalau 7 karakternya tersebut tinggi, maka spiritualnya tinggi.

15. Mettā = mengharapkan orang lain bahagia, Karunā = membantu seseorang keluar dari penderitaan.

16. Membuang kecemburuan adalah rahasia hidup bahagia, faham dengan Hukum Karma.

~ oOo ~

CARA MENGEMBANGKAN CINTA KASIH

   

     1. Mengantar Bhikkhu yang keluar Vassa -> upacara Pavarana, itu biasanya antar sesama  bhikkhu, untuk saling mengingatkan.
2.    Ada ide pavarana yang muncul dari upasaka & upasika, kalau dari Bhikkhu berarti Bhikkhu punya kesempatan untuk minta maaf, karena mungkin ada umat yang tidak berkenan kepada Bhikkhu.
3.    Saling memaafkan diantara umat itu kebiasaan yang baik, juga diantara Bhikkhu dimana saling menawarkan diri untuk ditegur satu sama lain untuk kebaikan bersama, ini merupakan nasehat bijaksana dari Sang Buddha.
4.    Ada kalanya Sang Buddha menyetujui pendapat Bhikkhu yang mengatakan bahwa “sesuatu” itu dikatakan tidak perlu. Itu adalah gambaran bahwa Sang Buddha tidak egois atau suatu kejujuran.
5.    Kejujuran itu diperlukan untuk memacu maju dalam Dhamma.
6.    Kita hendaknya bijaksana dalam melihat orang lain, agar kita jadi lebih baik.
7.    Suatu saat Sang Buddha memberi kesempatan untuk semua orang bisa berdana (makanan). Ada juga orang yang tidak setuju atas sikap Sang Buddha ini, dimana sebenarnya itu adalah kesempatan untuk berlatih Upekkha.
8.    Dimana saja kita berada hendaknya dalam situasi cinta kasih, ingat bahwa manusia itu sarang keburukan (noda), tapi ingatlah juga ada kebaikannya.
9.    Kalau muncul kebencian maka diri sendiri yang menderita bukan orang lain, kondisi demikian adalah lawan dari pengembangan Metta.