Translate

Senin, 04 Mei 2026

Uraian Mahasatipaṭṭhāna Sutta

 

1.    Mahāsatipaṭṭhāna Sutta adalah Sutta yang mendalam, sudah membahas tentang Abhidhamma.

2.    Satipaṭṭhāna (empat landasan perhatian penuh) adalah uraian yang lebih ringkas dari Mahāsatipaṭṭhāna.

3.    Sati adalah perhatian penuh yang menjaga batin tetap sadar pada saat ini. Sampajañña (kesadaran jernih) merupakan pasangan dari Sati. Anupassana adalah penglihatan yang disertai dengan kebijaksanaan, yaitu penglihatan yang jelas dan terus menerus.

4.    Satipaṭṭhāna itu sebagai Ekāyana Magga (satu-satunya jalan yang dibabarkan Sang Buddha), jalan menuju hilangnya kesedihan & ratap tangis (derita jasmaniah & batiniah) demi tibanya di “sang jalan” (Nibbana terlihat dengan jelas). Jalur ini dilalui oleh orang-orang dan satu saja yang akan lolos tidak bisa bergerombol (tidak bisa yang lain menggandul).

5.    Dalam Satipaṭṭhāna Sutta sudah cukup seseorang berlatih dalam Buddhasasana untuk tuntas mendiami Brahmacariya, sehingga kewajiban telah selesai.

6.    Dengan antusias yang tinggi - kitapun merasa kewalahan karena terlalu spektakulernya obyek-obyek dalam maha Satipaṭṭhāna.

7.    Dalam Kayanupasana, lakukan upaya : mencegah keburukan yang belum muncul, memangkas keburukan yang sudah muncul, memunculkan kebaikan yang belum muncul & mengembangkan hal baik yang telah muncul.

8.    Dalam Satipaṭṭhāna ada 3 hal yang mesti bahu membahu : Sati, Paññā, dan Viriya. Untuk penglihatan jelas tubuh dalam tubuh, mempehatikan rasa sakit, atau tidak merasa sakit, yang sakit atau yang bahagia itu Vedanā (perasaan). Ada banyak macam Vedanā, jasmniah & batiniah. Upekkha termasuk Sukha-vedanā (perasaan menyenangkan).

9.    Istilah “berdiam dan melihat”, itu mengusut dengan kebijaksanaan. Mengikis Avijjā : Lobha & Dosa di Loka (Pañcakkhandha).

10. Kepadaman penderitaan bisa dicapai dengan Jalan Mulia Berunsur-8. Mengarah ke kehancuran Saṃsāra-vaṭṭa (lingkaran saṃsāra / siklus kelahiran dan kematian). Terkait dengan Paṭicca-samuppāda (12 mata rantai sebab-musabab yang saling bergantungan). Mengacu ke Avijjā (kebodohan batin yang mendasar), Tanha (kegandrungan), Upadana (kemelekatan). Kamma itu ada di Saṅkhāra (pembentuk) & Bhava (menjadi), sisanya adalah Vipāka (buah Kamma). Upādi (sisa kemelekatan) itu masih menjadi penopang kelahiran dan kematian.

11. Vaṭṭa-saṃsāra terjadi karena eksisnya Māra (penghancur yang menghalangi pencapaian pencerahan : Kilesa, Pañcakkhandha, Kematian, dan Devaputta = makhluk Surgawi yang jahat). Semua ini terkait dengan Bojjhaṅga (tujuh faktor batin yang menuntun pada pencerahan), 37 Bodhipakkhiya Dhamma (kumpulan kualitas batin yang menjadi bekal menuju pencerahan).

12. Kembali ke topik : mengusut tubuh dalam tubuh -> memperhatikan nafas dalam tubuh. Nafas sebagai pembentuk tubuh (kāyasaṅkhāra).

13. Dalam Satipaṭṭhāna-sutta dipilah menjadi 14 bagian, yang antara lain meliputi : 

a.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada nafas (ānāpānasati).

b.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada postur tubuh, dengan posisi : duduk, berjalan, berdiri, dan berbaring

c.     Kāyānupassanā -> perhatian pada aktivitas sehari-hari (sampajañña) : perhatian ketika melakukan atau tidak melakukan apappun (Sampajañña Pabba).

d.    Kāyānupassanā -> perhatian pada tubuh yang sudah mati (Paṭikūla-bhāvanā = perhatian atas 32 bagian tubuh yang menjijikkan, yang dipahami sebagai yg tidak tetap = tidak ada diri).

e.    Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada unsur-unsur tubuh (tanah, air, api dan angin).

f.      Kāyānupassanā -> perhatian meditasi pada sembilan tahap pembusukan / pemusnahan manusia : mayat menggembung, berwarna nila, bernanah dst.

g.    Vedanānupassanā -> mengamati perasaan : menyenangkan (sukha vedanā), tidak menyenangkan (dukkha vedanā), netral (upekkhā vedanā) yang jika dirinci menjadi 8 Vedanā.

h.    Cittānupassanā -> mengamati keadaan pikiran yang masih diliputi : Sadhosa (kebencian, kemarahan), Samoha (kebodohan, delusi), Samāhita (batin yang terpusat), Sautara (lebih tinggi, lebih luhur), Semāhita (batin yang terkonsentrasi), Vimutta (pembebasan batin dari kilesa).

i.      Dhammanupasana -> mengamati fenomena Dhamma, ada banyak : Pañca Nīvaraṇa (5 rintangan batin), Khanda pabba (latihan yang berhubungan dengan lima gugusan), Bojjhaṅga (tujuh faktor pencerahan), itu semua berkaitan dengan Ayatana (landasan), yaitu enam landasan dalam dan enam landasan luar. Segalanya memungkinkan diketahui oleh semua Satva.

14. Semua itu tidak ada diri termasuk Vittaka & Vicara. Dalam mengusut tubuh dalam tubuh, kemunculan & kepadamannya -> Sati-nya tegak, tahu tentang tubuh yang selalu berubah -> tidak ada tubuh -> tidak patut dilekati. Sati, Paññā & viriya bekerjasama.

15. Viriya memangkas Kilesa yang telah muncul, berdiam tanpa digantungi oleh kilesa lagi, dan tidak melekati hal-hal apapun di dalam Pancakhanda, menenangkan nafas.

16. Kegiuran muncul saat Nivarana terpotong. Setelah kegiuran reda, keterhimpitan tidak ada, Piti juga tidak ada, keberadaan tidak ada. Tidak adanya Keterhimpitan dan Kegiuran inilah yang disebut dengan Sukkha. Melanjutkan pelatihan ini hingga menembus tentang Dukkha yang tidak kekal, tidak patut digandrungi, maka selanjutnya tercapailah Nibbana.

 

~ oOo ~

MUNGKINKAH KESUCIAN BISA DIRAIH HANYA DENGAN PERHATIAN PADA NAFAS?


Tanya : Dalam meditasi Ānāpānasati apakah hanya mengamati obyek nafas atau ada perenungan lain Bhante?

Jawab : Fokus menyadari keluar masuknya nafas itu korelasinya dengan pencapaian Nibbana itu bagaimana? Mungkin atau tidak mendapatkan nilai-nilai luhur, mengikikis pengotor batin hanya dengan cara seperti itu? Dalam bermeditasi itu tidak cukup hanya memiliki pemahaman biasa tentang kematian, cinta kasih dlsb. Dalam meditasi itu ada 3 faktor yang dapat diterapkan kepada obyek meditasi.

1). Mengetahui nilai luhur (Dhammavicaya) dari : Kematian, Cinta-kasih, Asubha (memandang sebagai yang tidak indah), Ketidak-kekalan, Tidak ada diri (dari yang berbentuk / tidak berbentuk), ada noda / cacat dalam tubuh / perasaan, dlsb.

2). Ada pengingatan (Sati). Bagaimana Sati bisa diterapkan saat 6 pintu indera mengetahui obyeknya. Yang diketahui tsb. dicamkan, disadari, diangkat kedalam kebijaksanaan, punya nilai-nilai luhur. Sati adalah tindakan menerapkan Kebijaksanaan (Paññā) / nilai luhur saat 6 pintu indera mengetahui obyek masing-masing.

3). Harus ada Daya-upaya (Viriya, Vāyāma, Ātāpa, Padhāna) untuk menegakkan batin yang kukuh dalam kebijaksanaan dengan tetap menggunakan Sati.

Ketiganya bekerjasama : 1). Punya pengetahuan sejati / Sampajañña (kesadaran jernih) / Paññā (kebijaksanaan), 2). Punya Sati, dan 3). Punya Viriya. Ketiganya ini harus ada dalam upaya mengembangkan batin.

Meditasi Ānāpānasati (ber-obyek nafas) bisa menengarai “nafas” maupun “tubuh” yang adalah sosok yang bernafas, sehingga sebenarnya yang menjadi obyek itu ya tubuh bukan nafasnya. => Kāyānupassanā (pengamatan mendalam terhadap tubuh).

Bagaimana melihat sisi ketidak-indahan dalam nafas -> udara masuk (bersih) & keluar (kotor). Ada Ādīnava = noda, Anicca, Anatta. Tiga hal tsb. diatas (Dhammavicaya, Sati, Viriya) yang meskipun kadang-kadang hanya disebut satu -> yang dua sudah termasuk.

Tanya : Apakah meditasi bisa langsung menyadari nafas + menyertakan nilai2 luhur?

Jawab : Meditasi bisa langsung menyadari keluar masuknya nafas + menyertakan nilai-nilai luhur.

 

~ oOo ~

Cittabhāvanā #2 : Alat Anicca dalam Cittabhāvanā I

 

1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~

“One Day Mindfullness”


1.    Saṃsāra (tanpa awal) adalah perjalanan hidup yang berulang yang menyakitkan karena melekat pada kesenangan inderawi.

2.    Kesenangan inderawi yang susah diperoleh itu gampang berlalu, memberi kepuasan yang tidak kekal tanpa ujung. Selain itu apa yang sudah diperoleh yang menyenangkan dikawatirkan bisa hilang. Inilah sisi cela kesenangan inderawi yang tidak kekal, yang selalu berubah, yang bisa hilang direnggut orang. Kesemuanya itu adalah penyebab penderitaan.

3.    Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah merubah cara pandang dengan cara mengelola keinginan (penyebab penderitaan) dengan baik.

4.    Makhluk Peta itu mengingini sesuatu tapi tidak ada. Makhluk Asura mendapat apa yang diinginkan tapi dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan. Itu adalah sisi derita dari kesenangan inderawi, sisi cela.

5.    Kesenangan inderawi ada kemunculannya. Sang Buddha memberi tahu kita kesenangan tersebut ada - tapi ada celanya, ada sisi jalan keluarnya - dengan memotong sisi cela.

6.    “Māra” terus mempengaruhi perihal kesenangan inderawi ini, yang mana dipahami senangnya sedikit - deritanya banyak. Mendatangkan kekecewaan.

7.    Anupubbīkathā (metode pengajaran bertahap) dapat digunakan untuk mengajar perilaku baik. Dalam hal berdana maka manfaat yang lebih besar ada pada si pemberi bukan pada si penerima dana, kebahagiaan si pemberi lebih besar dibanding si penerima. Yang disanjung adalah yang memberi. Menjalankan Sīla manfaatnya besar. Melanggar Sīla bisa di black-list seumur hidup.

8.    Di alam surga masih ada sisi cela. Perilaku Nekkhamma meninggalkan rumah tangga untuk mempratikkan ajaran Buddha. Sang Buddha bukan mengajarkan tentang Dukkha tapi tentang Sukkha, tentang mencapai Nibbāna.

9.    Lima gugusan (5 khanda) atau manusia merasakan penderitaan karena melekati yang tidak kekal.

10. Dengan menyelidik, terlihat bahwa derita itu munculnya karena ada kegandrungan, dan ada kepadamannya. Kepadaman kegandrungan itu merupakan dasar mencapai Nibbāna. Meraih Dukkha-niroda (lenyapnya segala penderitaan). Ada jalannya : Jalan Mulia Berunsur Delapan -> Vijjā & Carana (pengetahuan dan perilaku benar) / Sammādiṭṭhi & Sīla (pandangan benar & moralitas baik). Melihat yang tidak kekal -> Ñāṇa / Vijjā  (pegetahuan yang sejatinya).

11. Dengan adanya ketidak-kekalan maka penderitaan bisa dilenyapkan.

12. Yang tidak berbentuk adalah Nibbāna, yaitu nama / julukan dari Asaṅkhata Dhamma.

13. Tubuh & jasmani tidak kekal, jangan dilekati agar tidak mendatangkan penderitaan.

14. Meditasi / Bhāvanā adalah pengembangan batin (cipta bhāvanā), mengembangkan nilai luhur kedalam batin sendiri yang menyangkut : Dana, Sīla, Metta, Karuna, Upekkha dll. Dan yang paling utama adalah kebijaksanaan.

15. Bermeditasi Ānāpānasati harus disertai dengan nilai luhur.

 

Tanya : Dalam bermeditasi disaat kita melakukan pengamatan pada obyek harus pula menyisipkan nilai-nilai luhur itu caranya bagaimana?

Jawab : Jika bermeditasi dengan melihat nafas masuk & keluar untuk diperhatikan dan selesai, maka menjadi asing dan menolak apa itu nilai luhur dan segala macam : gak usahlah! Maka harus dicoba dulu dengan menggali dari yang diberitahukan. Saat menghirup nafas berpikir bahwa onggokan yang menghirup nafas ini tidak kekal, sadari bahwa akhirnya onggokan itu tidak bisa menghirup nafas lagi (selesai) dalam menghirup. Keberadaan onggokan yang tidak kekal, bisakah disenangi? Nafas  sebagai pengganti onggokan / tubuh dilihat, dicecar -> tidak kekal. “Keberlangsungan yang berlanjut” adalah penghalang dalam menyadari bahwa segala keberadaan itu tidak kekal.

Tanya : Meditasi jalan “Citta Bhāvanā” apakah obyek meditasinya sama dengan obyek meditasi Vipassana?

Jawab : Meditasi Vipassana dengan Anicca yang dilihat bisa dengan melihat nafas, terangnya Nanna dapat melihat tidak kekalnya segala bentukan - sebagai kebenaran yang terang benderang, adalah kebenaran yang sifatnya universal, mutlak, hakiki dan transenden. Memperhatikan kaki yang berjalan  -> menyadari bahwa onggokan ini tidak kekal.

 

~ oOo ~

Citta‑bhāvanā #1 Jalan Ideal Mengakhiri Derita (Pendahuluan)


1.    Brahmacariya : Jalan keluhuran demi menutup hal-hal buruk / penderitaan / pandangan keliru.

2.    Pabbajjā / Samaṇa / tanpa rumah, adalah penjauhan diri, berkondisi leluasa, tidak cocok untuk perumah tangga / yang terhimpit / terpenuhi oleh kotoran.

3.    Sāmaṇera / Bhikkhu adalah “cara hidup” bukan status / jenjang / kasta, punya kerendahan hati dan prinsip.

4.    Menjadi Bhikkhu adalah titik awal pelatihan yang kondusif. Berlatih Sīla (tata kebijaksanaan orang bajik yang cerdas). Berlatih Samadhi -> keteguhan batiniah pada prinsip nilai luhur & Paññā / pengetahuan secara menyeluruh -> hal yang sebenarnya adalah sebab – akibat.

5.    Sīla, Samadhi dan Paññā patut untuk dicapai, dikembangkan, hingga berdiam tetap mengiringi batin setiap saat. Untuk menyempurnakan terealisasinya kepadaman derita (menjalankan kehidupan Brahmacariya).

6.    Sīla (5 sīla) adalah untuk menutup hal buruk yang akan muncul lewat tindakan dan ucapan, yang dapat menambah Kilesa. Harus memiliki kepuasan (Santutthi), menutup Indriya-saṃvara dengan ilmu / penglihatan secara benar (tidak melihat sebagai gambaran / rincian / persepsi). Selain Indriya-saṃvara masalah ini juga terkait dengan Sati, Sampajañña, dan juga Paññā.

7.    Pergi ke tempat sunyi untuk ber-Samadhi. Ber-Samadhi itu mengedepankan pengingatan (Sati), nilai luhur apa yang bisa diterapkan. Sati & Paññā itu saling melengkapi, menghancurkan Nīvaraṇa, muncul kelengangan, rasanya lega, muncul kegiuran, Sukha, muncul penyatuan batin pada obyek yang disertai nilai-nilai luhur, termasuk dari sisi kebijaksanaan, termasuk yang tidak indah. Muncul perasaan netral, Sati-parisudhi, mencapai Jhāna-Jhāna, sampai Jhāna ke 4.

8.    Mengembangkan pengetahuan -> mengingat banyak hal dalam kehidupan-kehidupan yang lampau (Dibbacakkhu). Dibbacakkhu itu merupakan anak tangga menuju hancurnya Āsava / pengotor batin. Mengetahui tentang Empat Kebenaran Mulia, Dukkha (penghanyut), mencapai Nibbana.

Pertanyaan : Apa bedanya antara Paññā & Pariññā?

Jawab : Pariññā lebih detil, Paññā itu mirip dengan Pariññā. Ada 3 jenis Pariññā, yaitu : Ñātapariññā (tahu apa yang nyata / benar), Tīraṇapariññā (tahu melalui menimbang / mengorek / merenungkan), dan Pahānapariññā, dimana setelah mengorek / melihat dengan jelas maka putuslah pengotor batin (pandangan keliru). Paññā, Pariññā, Abhiññā itu mirip-mirip, termasuk juga Saññā yang adalah nama lain dari kebijaksanaan termasuk Viññāṇa yaitu dari kata yang sama.

9.    Pendahuluan dari “Jalan Ideal Mengakhiri Derita” ini adalah mengenai permulaan bagaimana sampai menjadi Sāmaṇera, setalah menjadi Sāmaṇera harus bagaimana, tujuannya apa, disadari, dan proses apa itu.

10. Cukup ini saja tugas untuk hari pertama.

Keterangan :

1.    Indriya-saṃvara : kemampuan menjaga pintu-pintu indra agar tidak dikuasai oleh nafsu, kebencian, atau kebodohan batin ketika berhadapan dengan objek luar.

2.    Sampajañña : memastikan kita memahami dengan jernih apa yang sedang dilakukan.

3.    Nīvaraṇa : lima penghalang batin yang harus dikenali dan ditinggalkan agar latihan meditasi berhasil.

4.    Sati-parisudhi : tahap di mana perhatian penuh mencapai kemurnian, menjadi landasan kuat untuk konsentrasi mendalam dan kebijaksanaan.

 ~ oOo ~

Bhante Abhijato Menjawab 7 Pertanyaan Luar Biasa


1.      Dalam ajaran agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), semua itu karena Tuhan. Misal tidak boleh mencuri biar ada alasannya, tetap akhirnya karena dilarang Tuhan.

2.    Tentang makanan yang tidak bisa dimakan. Misal daging, biarpun ada landasan ilmiahnya bahwa dagin tersebut sehat, tetap tidak boleh dimakan karena dilarang oleh Tuhan.

3.    Untuk hal yang baik : membantu anak yatim piatu itu baik, itu juga karena dipuji oleh Tuhan.

4.    Tetapi dalam Buddhisme, apa sebenarnya yang menjadi Core I Ching (pedoman dalam mengambil keputusan) itu? Apapun pertanyaanya jika dijawab dengan : Adosa, Alobha, Amoha –> maka jawaban ini  benar.

5.    Perbuatan mencuri (mengotori batin) itu adalah serakah dan memicu kemarahan, dimana Dosa, Lobha, Moha muncul. Mencuri satu kali, dua kali, tiga kali dst., maka yang bersangkutan akan hancur, tidak bisa berfungsi normal lagi, apalagi jika urusannya dengan Narkoba.

6.    Untuk pertanyaan : Mengapa Bhikkhu harus gundul? Maka jawabannya adalah terkait dengan  Adosa, Alobha, Amoha.

7.    Meditasi dan Menjaga Sila itu juga mengurangi : Dosa, Lobha, Moha (The Core I Ching). Semua pertanyaan bisa dijawab dengan masalah : Dosa, Lobha, Moha.

8.    Jika Bhikkhu hanya diam bagaimana Dhamma bisa menyebar? Maka Bhikkhu harus bertanya Dhamma, mempraktikkan Dhamma & Vinaya.

9.    Mengapa agama Buddha banyak aliran? Karena penyebar Dhamma itu pergi ke bergagai daerah yang sudah punya budaya, agama, raja setempat, dan guru besar. Kitab Komentar yang berbeda-beda itu karena peran guru besar.

10. Mengapa para bhikkhu itu tidak vegetarian? Supaya para bhikkhu bisa mengembara, boleh makan daging yang memenuhi 3 syarat (tidak melihat & mendengar suara binatang yang dibunuh, dan tidak mencurigai bahwa daging binatang tsb. memang disediakan untuknya) sehingga tidak memberatkan ketika Bhikkhu ber-pindapāta.

11. Bagaimana jika Bhikkhu datang di tempat yang tidak biasa atau tidak familier dengan persoalan pindapāta? Bhikkhu bisa berdiri di pasar di depan penjual makanan dengan waktu lama.

12. Seorang bhikkhu mengajar Dhamma kalau ditanya.

13. Tentang Brahmavihāra & kesucian. Bagaimana seseorang ditengarai memiliki spiritual tinggi? Karena : Dosa, Lobha, dan Mohanya sudah menurun dan tinggal sedikit atau sudah lenyap, dan berkarakter : Adosa, Alobha, Amoha. Mempunyai : Mettā, Karunā, Muditā, Upekkhā.

14. Beragama apapun kalau 7 karakternya tersebut tinggi, maka spiritualnya tinggi.

15. Mettā = mengharapkan orang lain bahagia, Karunā = membantu seseorang keluar dari penderitaan.

16. Membuang kecemburuan adalah rahasia hidup bahagia, faham dengan Hukum Karma.

~ oOo ~