( MEDITASI MENYADARI KELUAR MASUKNYA NAFAS )
MEDITASI
DUDUK
1. Ketika sedang meditasi Ānāpānasati, selain pikiran tenang -> ada 2
kondisi pikiran yang lain, yaitu : pikiran yang liar & pikiran yang ngobrol dalam hati (omon-omon).
2. Meditasi Ānāpānasati -> berjuang mendiamkan pikiran (menggunakan Sati
= perhatian penuh & paññā = kebijaksanaan) untuk bisa tenang, konsentrasi
menguat, dan muncul kebahagiaan (Sammā-samādhi).
3. Mendiamkan pikiran (konsentrasi) tersebut selain menggunakan Sati &
Paññā adalah juga dengan menyertakan nilai-nilai luhur dasar yaitu : rasa bersyukur, tidak ada
kebencian, tidak ada emosi, melepas semua kemelekatan, merasa aman karena tidak
ada yang mengganggu, tidak berpikir saat masa lalu maupun masa depan karena
saat ini adalah saat terbaik untuk mengembangkan batin (meditasi Ānāpānasati) menyadari
keluar masuknya nafas yang alami sehingga batin bisa menjadi tenang dan bahagia.
4. Apabila pikiran mengembara
kemana-mana, kembalikan pada penyadaran keluar masuknya nafas. Usahakan menyadari
keluar masuknya nafas selama mungkin, bukan berapa lama kita bisa kuat duduk.
5. Kalau kaki sakit dan sudah tidak tahan lagi -> rubah posisi, kalau sudah
berkali-kali dan menjadi semakin sakit -> lanjut dengan meditasi berdiri dan
atau berjalan.
6. Yang penting adalah niat baik untuk berlatih medatiasi, datang untuk
berlatih meditasi dengan semangat, dengan perasaan yang nyaman, jangan sampai
datang dengan kondisi tidak nyaman.
MEDITASI BERDIRI
1. Berdiri dengan penuh kesadaran, tubuh tegak, rileks, kaki sedikit terbuka,
tangan didepan atau disamping badan, tidak kaku tapi stabil.
2. Dengan Sati, Paññā, dan disertai dengan nilai-nilai luhur seperti
meditasi duduk, kita sadari sedang berdiri, mengamati nafas,
sensasi tubuh & batin tanpa melekat. Pikiran
diarahkan untuk tidak mengembara.
3. Biasanya dilakukan beberapa menit -> sebagai transisi antara meditasi
duduk dan meditasi jalan.
4. Intinya : Amati atau sadari kondisi tubuh, nafas, dan batin
apa adanya.
MEDITASI JALAN
1. Kecepatan jalan biasa saja / terserah.
2. Badan tegak / tidak bungkuk.
3. Kepala tidak menunduk.
4. Mata serong kebawah untuk melihat jalan.
5. Dengan Sati, Paññā, dan disertai dengan nilai-nilai luhur seperti
meditasi duduk, ucapkan dalam hati : kiri – kanan dst. (menyadari langkah).
Pikiran diarahkan untuk tidak mengembara.
MEDITASI BERBARING
1.
Tubuh Berbaring miring ke kanan (posisi
sīhaseyya = berbaring seperti singa), tangan kanan menyangga kepala, tangan
kiri di atas paha, kaki sedikit ditekuk. Biarkan tubuh rileks.
2. Dengan Sati, Paññā, dan disertai dengan nilai-nilai luhur seperti
meditasi duduk, menyadari : aku sedang berbaring, fokus pada nafas yang alami, tahu
sensasi tubuh, dan pikiran diarahkan untuk tidak mengembara.
3. Durasi dan tujuan meditasi berbaring ini cocok dilakukan saat sedang sakit,
dan menjelang tidur.
4. Intinya : Menerima kondisi tubuh yang sedang sakit, dan
paham benar atas kondisi tubuh yang tidak kekal, mengalami sakit dsb.
~ oOo ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar