Translate

Jumat, 20 Februari 2026

RUKUN ITU PENTING

Sepasang pengantin baru, seusai makan malam berjalan bergandengan tangan di sebuah taman pada musim panas yang indah. Mereka menikmati kebersamaan, yang menakjubkan adalah tatkala mereka mendengar suara di kejauhan, "Kuek! Kuek!"
"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."
"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.
"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.
"Mustahil! Suara ayam 'kukuruyuk!', bebek 'kuek! kuek!' Itu bebek, sayang..." kata si suami dengan disertai gejala awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.
"Tuh kan! Itu suara bebek!" kata si suami.
"Bukan, Sayang... Itu suara ayam! Aku yakin betul!" tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu adalah... be... bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!" si suami berkata gusar.
"Tapi itu ayam!" masih saja si istri bersikeras.
"Itu jelas-jelas bue... bek !!! Kamu ini... kamu ini... gimana sih?!"
Terdengar lagi, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya memang tak dikatakannya. Si istri nyaris menangis, "Tapi itu ayam...." kata si isteri.
Si suami melihat air mata mengambang di pelupuk mata istrinya, akhirnya, si suami teringat mengapa dia menikahinya. Wajah si suami kemudian melembut dan ucapnya mesra, "Maafkan aku, sayang... Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok...
"Terima kasih sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di sekitar taman tsb, kali ini suara itu mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta...


Maksud dari cerita ini, bahwa si suami akhirnya sadar, siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah kerukunan, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. 
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena "ayam atau bebek"?
Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Kerukunan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak, bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, tapi siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek?
Kesimpulan : Kerukunan jauh lebih penting daripada mencari siapa yang benar dalam hal-hal yang sebenarnya adalah sepele.

APAKAH KITA BERUBAH?

Mari kita semua bercermin… pelan-pelan… dengan jujur. 
Pernah nggak, kita berhenti sebentar di tengah rutinitas beragama?
Di sela puja bakti, berdana, melafalkan paritta, bersujud, memberi hormat…
lalu tiba-tiba muncul pertanyaan kecil di batin :
“Sebenarnya… aku melakukan semua ini untuk apa?”
Apakah ini benar-benar mendekatkanku pada pembebasan dari dukkha?
Atau hanya kebiasaan yang aku ulang… karena dari kecil memang begini caranya?
Kita lahir sebagai Buddhis, diajak orang tua ke vihara, Meniru Gerakan, menguncarkan Paritta tanpa tahu artinya, atau mungkin kurang menghayati tujuannya.
Berdana karena semua orang berdana, dan pelan-pelan…, kita berhenti bertanya, kita berhenti menyelidiki.
Kita jarang bertanya : “Kenapa aku melakukan ini?” “Apa hubungannya dengan penderitaanku?” “Apakah batinku benar-benar berubah?”
Di buku itu ada satu kisah yang sangat menyentuh.
Tentang patung Buddha Mahamuni di Burma, setiap hari, ribuan umat datang menempelkan lembaran emas ke tubuh patung itu sebagai tanda bakti, sebagai ungkapan cinta, niatnya tulus.
Hari demi hari, tahun demi tahun, bahkan ratusan tahun berlalu, sampai akhirnya… bentuk asli patung itu tidak terlihat lagi, wajahnya menebal, detail aslinya tertutup. Bukan karena patungnya rusak, tapi justru karena… terlalu dicintai, terlalu banyak lapisan emas. Dan di titik itu kita diajak merenung : Jangan-jangan… ajaran Buddha dalam hidup kita juga begitu. Ajaran yang awalnya sederhana, langsung ke akar penderitaan, tidak ribet, tidak penuh symbol, pelan-pelan tertutup oleh: kebiasaan, formalitas, ritual tanpa pemahaman, tradisi yang tidak pernah dipertanyakan. Bukan karena kita berniat buruk, tapi karena kita terlalu rajin menjaga bentuk… sampai lupa merawat makna.
Tradisi itu sebenarnya indah. Ia menyatukan. Ia menjaga warisan. Ia memberi identitas.
Tapi masalah muncul… saat tradisi tidak boleh ditanya. Saat kita bertanya, “Kenapa harus begini?” jawabannya : “Dari dulu memang begitu.” Saat kita bertanya, “Apa maknanya?”
Jawabannya : “Pokoknya ikuti saja.”
Pelan-pelan kita berhenti berpikir, berhenti menyelidiki. Padahal Buddha sendiri berkata, jangan percaya hanya karena tradisi, jangan percaya hanya karena orang banyak percaya. Datanglah dan buktikan sendiri. Artinya jelas, Dhamma bukan untuk dihafal, tapi untuk dihidupi. Sekarang kita jujur sebentar. Kita rajin ke vihara, rajin berdana, rajin ikut perayaan, rajin dengar ceramah.
Tapi mari bertanya dengan tulus : Apakah kemarahan kita berkurang? Apakah iri hati kita menipis? Apakah keserakahan kita melemah? Apakah kita lebih sabar pada pasangan? Lebih lembut pada anak? Lebih pengertian pada orang yang berbeda?
Atau… kita hanya rajin secara lahir… tapi batin tetap sama?
Kalau latihanmu tidak mengubah batin, mungkin yang berubah hanya jadwalmu… bukan kesadaranmu. Buddha tidak mengajarkan Dhamma supaya kita terlihat suci. Bukan supaya kita dipuji. Bukan supaya kita merasa lebih tinggi. Tapi supaya kita : memahami dukkha, melepaskan kemelekatan, menumbuhkan kebijaksanaan, mengembangkan welas asih, dan perlahan… membebaskan batin.
Kalau latihan kita justru : menambah ego, menambah rasa paling benar, menambah jarak dengan orang lain… mungkin kita perlu berhenti sebentar… dan bertanya jujur : “Aku sedang berjalan ke arah mana?”
Sekarang coba tarik napas pelan… dan renungkan : Kalau suatu hari semua simbol dihilangkan… tanpa vihara megah, tanpa jubah, tanpa ritual… apakah aku masih ingin mempraktikkan Dhamma?
Kalau tidak ada yang melihat… tidak ada yang memuji… tidak ada yang tahu… apakah aku masih mau berbuat baik?
Apakah aku berlatih karena ingin bebas dari dukkha… atau hanya ingin terlihat sebagai “umat yang baik”? Kalau hari ini kita tersentuh… mungkin karena ada bagian batin kita yang sebenarnya ingin jujur, ingin berubah, Ingin bebas. Kadang… yang paling menyembuhkan justru yang membuat kita berani bercermin.
Kita beragama bukan untuk menjadi sempurna… tapi untuk semakin sadar. Bukan untuk terlihat suci… tapi untuk semakin bebas dari penderitaan.