Translate

Jumat, 23 Januari 2026

BERDANA YANG AKAN BERBUAH MAKSIMAL


Berdana adalah Karma baik. Berdana dengan materi yang sama belum tentu menghasilkan buah yang sama. Paling tidak ada 5 faktor sebagai penyebabnya, yaitu :

1.    Untuk maksud apa dana itu diberikan. Memberi dana kepada orang atau kepada pihak yang sangat membutuhkan itu sangat baik. Ini dapat dikatakan sebagai berdana tepat sasaran. Yang menerima dana maupun yang memberi dana sama-sama mendapatkan manfaat kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan batin, dan juga menabung kebajikan untuk kebahagiaan yang akan diperoleh di kemudian hari termasuk di kehidupan berikutnya.

2.    Kepada siapa dana tsb. diberikan. Berdana kepada orang bijaksana atau orang baik kelak hasilnya tentu lebih baik atau lebih besar dibanding berdana kepada orang yang tidak baik, orang malas atau orang yang berperilaku tidak baik. Ini artinya adalah berdana bagai menanam benih di ladang yang subur.

3.    Berdana dengan niat baik, bertujuan melepas kemelekatan dengan sukacita sebelum, ketika dan setelah berdana itu sangat baik dibanding berdana karena terpaksa, ingin dipuji orang atau supaya kelihatan dermawan. Berdana dengan niat dan batin yang baik hasilnya akan berupa kebahagiaan yang lebih besar.

4.    Menyerahkan dana secara hormat dengan tangan sendiri akan lebih baik dibanding menitipkan dana, karena lebih menghayati dan melatih batin berproses untuk menjadi lebih baik, lebih berbakti. Jangan sampai misalnya berdana dengan seolah-olah melemparkannya begitu saja. Contohnya adalah berdana makan di Vihara - makanannya dilempar di Reseption begitu saja terus difoto. Itu kurang proper, dan jangan sampai berpemahaman bahwa berdana hanya sebagai aktivitas spontan saja, rutinitas saja.

5.    Berdana hendaknya disertai dengan harapan bahwa dana yang dilakukan akan menjadi dukungan untuk kehidupan berikutnya, mengalir ke arah kehancuran noda-noda batin, mengalir ke arah pencapaian Nibbana. Hal ini meng-koreksi pendapat yang mengatakan bahwa kalau berdana tidak usah memikirkan pahala atau buahnya. Ini adalah pendapat yang keliru karena nasehat dari kitab suci jelas agar jika berdana pikirkanlah pahalanya. Dari sudut pandang Abidhamma kita juga diajarkan untuk melakukan kebajikan apapun dengan kesadaran 3 akar, yang superior, berpotensi menghasilkan buah yang baik di masa depan. Ketika kita berpikir seperti itu dana kita menjadi berkualitas 3 akar (alobha, adosa dan amoha). Tapi kalau kita berdana tanpa memikirkan buahnya yang menjadi harapan, maka kita berdana dengan kondisi / kualitas 2 akar (alobha dan adosa) saja - karena yaitu tadi kita berdana hanya sebagai aktivitas spontan saja, rutinitas saja, tanpa memikirkan buahnya. Kualitas berdana 2 akar dan 3 akar tentu saja berbeda.