Translate

Jumat, 20 Maret 2026

PENGERTIAN MARA DALAM BUDDHISME


Mara dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai Bencana. Mara adalah personifikasi dari kekuatan negatif yang menghalangi praktisi Dhamma dalam mencapai Pencerahan, digambarkan sebagai penggoda dan penghalang yang mencoba mengalihkan perhatian praktisi Dhamma dari jalan spiritual. Ini termasuk godaan fisik, mental, dan emosional. Ada beberapa Sutta yang terkait dengan istilah Mara. Salah satunya adalah : Marapasa Sutta (Saṃyutta Nikāya 35.115)

Setidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan Mara, yaitu :

1.    Empat pengertian tentang Mara :

  • Mara Kematian (Maccu Mara), yaitu dalam hal ini kematian-lah yang menghambat /      menghalangi praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi / mencapai Pencerahan.
  • Mara Kilesa (Kilesa Mara), yaitu Pengotor-pengotor batin (nafsu keserakahan, kebencian, dan kebodohan) lah yang menghambat praktisi Dhamma dalam upaya merealisasi Pencerahan.
  • Mara Abhisankhara (Abhisankhara Mara), yaitu formasi-formasi mental (Sankhara) yang mengikat para makhluk pada siklus kelahiran kembali.
  • Mara Devaputta (Devaputta Mara), yaitu makhluk Dewa yang mencoba menggoda dan menghalangi Pangeran Siddhartha dan para pengikutnya dalam merealisasi Pencerahan.
2.    Kisah tentang Mara di bawah pohon Bodhi : 
Salah satu kisah paling terkenal tentang Mara adalah ketika Mara menggoda Pangeran Siddhartha di bawah pohon Bodhi sebelum beliau mencapai Pencerahan. Mara mengirimkan pasukan iblis dan putri-putrinya untuk menggoda Siddhartha Gautama, tetapi Siddhartha tetap teguh tidak tergoyahkan.

3.    Mara dalam simbolisme :
Mara dapat dilihat sebagai simbol dari tantangan dan rintangan yang kita hadapi sehari-hari dalam kita menjalani kehidupan yang bermakna dan penuh kebijaksanaan.

4.    Mara dalam Kosmologi Buddhis :
Mara juga sering digambarkan sebagai raja di alam tertinggi Kammaloka (raja di alam dewa Paranimmita-vasavatti) yang memiliki kekuatan besar dan sering kali mencoba mengganggu praktisi Dhamma.

Mara bukanlah entitas yang harus ditakuti, tetapi lebih sebagai simbol dari tantangan yang harus diatasi dalam perjalanan spiritual praktisi Dhamma.